يٰٓاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا
Yā abati lā ta‘budisy-syaiṭān(a), innasy-syaiṭāna kāna lir-raḥmāni ‘aṣiyyā(n).
Wahai Bapakku, janganlah menyembah setan! Sesungguhnya setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.
Nabi Ibrahim menerangkan betapa tidak bermanfaatnya ibadah ayahnya selama ini. Dia berkata, “Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan, yaitu patung dan berhala itu atau lainnya, dan jangan engkau ikuti bisikan makhluk pengingkar itu. Setan selalu ingin manusia tersesat dan mengingkari Allah. Sesungguhnya setan itu sejak dulu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Wahai bapakku, janganlah engkau mengikuti ajaran setan yang membawamu kepada menyembah berhala, karena setan itu selalu memperdayakan manusia agar ia tersesat dari jalan yang benar. Sesungguhnya setan itu adalah makhluk yang durhaka kepada Tuhannya makhluk yang sangat sombong dan takabur, karena itu Allah melaknatinya dan menjauhkannya dari rahmat-Nya. Karena setan itu telah dimurkai oleh Allah dia bertekad akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Janganlah bapak termasuk golongan orang-orang yang terkena tipu daya setan dan masuk ke dalam perangkapnya. Aku khawatir sekiranya bapak tetap mengikuti ajarannya bapak akan ditimpa kemurkaan Allah seperti kemurkaan yang telah menimpa setan itu dan tentulah bapak akan termasuk golongannya.
1. Maliyyā مَلِيًّا (Maryam/19: 46)
Maliyyā artinya waktu yang lama. Berasal dari fi’il ملا -يملو -ملوا yang berjalan cepat atau lari, sedangkan ملا yang bentuk jamanya أملاء berarti padang sahara atau tanah yang luas. الملي artinya masa yang lama. Pada ayat 46 surah Maryam ini diceritakan Azar, ayah Ibrahim berkata atau meminta kepada Ibrahim dengan ungkapan, wahjurnī maliyyā, artinya tinggalkan aku dengan berlari untuk waktu yang lama. Hal ini dapat dipahami karena posisi ayah Ibrahim yang berseberangan dengan Ibrahim sebagai Nabi dan utusan Allah yang mengajak kepada Tauhid, hanya menyembah Allah Yang Maha Esa, dan melarang penyembahan patung-patung dan berhala. Sedangkan ayah Ibrahim adalah pembuat patung. Azar ayah Ibrahim memperoleh banyak penghasilan dan dipandang terhormat oleh masyarakat.
2. Ḥafiyyā حَفِيًّا (Maryam/19: 47)
Lafal ḥafiyyā adalah bentuk ṣifah musyābahah bi ism al-fā`il (kata sifat yang menyerupai ism fa`il atau orang yang melakukan perbuatan). Berasal dari masdar الحفاوة artinya menyambut atau menghormati dengan ramah. Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa dengan berat hati Ibrahim memenuhi permintaan atau perintah ayahnya Azar yang berbeda pendirian untuk pergi jauh dan dalam waktu yang sangat lama, atau bahkan tidak kembali lagi, karena Ibrahim berkeyakinan seperti yang diucapkan kepada ayahnya: innahū kāna bī ḥafiyyā, artinya sungguh Allah sangat baik kepadaku, maksudnya Allah pasti menyambut dengan ramah dan menghormati sikap dan kepergiannya meninggalkan ayahnya untuk menuju tempat-tempat yang jauh untuk menyebarkan agama tauhid.































