اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ ࣖ
Innā naḥnu nariṡul-arḍa wa man ‘alaihā wa ilainā yurja‘ūn(a).
Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi462) beserta semua yang ada di atasnya dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan.
Allah adalah Pencipta segala yang ada, maka semuanya adalah milik-Nya. Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya. Tidak satu pun makhluk yang berhak memilikinya. Semua ciptaan itu pun akan mati dan kemudian hanya kepada Kami mereka dikembalikan untuk menghadapi hisab.
Pada ayat ini Allah menghibur Nabi Muhammad, meminta Nabi untuk tidak bersedih hati karena kaum musyrik tidak mau beriman dan selalu mendustakannya. Karena mereka kelak akan kembali kepada Allah dan akan dibalas kekafiran mereka dengan balasan yang setimpal karena Kamilah Yang Mahakuasa. Kamilah yang mewarisi bumi dan segala isinya pada hari Kiamat nanti.
Yamtarūn يَمْتَرُوْنَ (Maryam/19:34)
Yamtarūn artinya berbantah-bantahan, kata ini merupakan bentuk muḍari’ dari imtara. Masdarnya adalah miryah. Al-Miryah adalah keraguan dalam satu perkara (at-taraddud fil amri). Asalnya dari ungkapan maraytu an-nāqah, artinya engkau memeras susu unta. Perbuatan memeras susu memerlukan pengulangan berkali-kali sampai susu itu keluar dari putingnya. Begitu juga dengan orang yang ragu dalam satu hal. Kata imtira’ dan mumarah digunakan untuk saling beradu pendapat dan argumentasi dalam satu hal yang masih diragukan.





























