قَالَتْ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِالرَّحْمٰنِ مِنْكَ اِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
Qālat innī a‘ūżu bir-raḥmāni minka in kunta taqiyyā(n).
Dia (Maryam) berkata (kepadanya), “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih darimu (untuk berbuat jahat kepadaku) jika kamu seorang yang bertakwa.”
Maryam terkejut dan takut melihat Jibril datang ke tempatnya menyendiri. Dia berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemelihara terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa, menjauhlah dan jangan menggangguku.”
Tatkala Maryam melihat ada seorang laki-laki di tempatnya yang terasing itu, beliau berlindung kepada Allah Ta`ala dari kejahatan yang mungkin timbul seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah; jangan sekali-kali kamu mengganggu aku jika kamu bertakwa kepada-Nya, sebab setiap orang yang bertakwa itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.”
1. Gulāman Zakiyyā غُلَامًا زَكِيًّا (Maryam/19: 19)
Artinya Seorang putra yang bersih. Gulāmun, jamak aglimah, gilmah dan gilmān, anak, dari yang baru lahir sampai memasuki usia remaja, Zakï, bersih dan baik, suci, yang dimaksud dengan zaki ialah suci bersih, sesuai dengan sifat seorang nabi. Gulām, yakni anak laki-laki, putra yang akan dilahirkan dengan tambahan zakiyya, yang bersih, suci, bukan sembarang anak, untuk menghilangkan rasa takut, heran dan ragu pada Maryam ketika didatangi oleh laki-laki (malaikat) tidak dikenal itu, benarkah ia bertakwa? Bagaimana ia akan mendapatkan anak padahal tidak bersentuhan dengan laki-laki mana pun dan bukan perempuan nakal. Maka anak inilah yang kemudian dikenal sebagai Nabi, sebagai Isa Almasih putra Maryam, Nabi yang membawa tugas kepada masyarakat sekitarnya.
2. Amran Maqḍiyyā اَمْرًا مَقْضِيًّا(Maryam/ 19: 21)
Artinya: suatu perkara yang sudah diputuskan. Sesuatu yang telah diputuskan berarti tidak akan ada lagi perubahan. Kata maqḍiyya adalah bentuk isim maf`ul dari qaḍa. Al-Qaḍa adalah memutuskan satu perkara baik berupa perkataan atau pekerjaan. Keduanya bisa terkait dengan Allah atau manusia. Contoh qaḍa yang terkait dengan Allah adalah perintahnya kepada manusia untuk tidak menyekutukan-Nya (lihat al-Isrā’/17:23). Sedangkan yang terkait dengan manusia adalah seperti pekerjaan manasik haji yang sudah diselesaikan oleh orang yang berhaji (al-Baqarah/2:200)

