وَمَا يَنْۢبَغِيْ لِلرَّحْمٰنِ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا ۗ
Wa mā yambagī lir-raḥmāni ay yattakhiża waladā(n).
Tidak sepantasnya (Allah) Yang Maha Pengasih mengangkat anak.
Dan sungguh, tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Pengasih mempunyai atau mengangkat anak. Allah Yang Mahakaya tidak membutuhkan apapun. Jika Dia mempunyai anak, pasti anak itu serupa dengan-Nya, dan hal ini akan menghilangkan esensi keesaan-Nya.
Allah dalam ayat ini membantah dengan firman-Nya, “Tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah memungut anak.” Demikianlah jawaban Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang terhadap ucapan hamba-Nya yang sangat dimurkai-Nya itu. Dia tidak membentak dan menghukum mereka secara langsung, tetapi menjawabnya dengan kata-kata yang seharusnya dipikirkan dalam-dalam agar mereka kembali kepada kebenaran dan men-sucikan Tuhannya dari segala sifat yang bertentangan dengan keesaan dan keagungan-Nya.
1. Iddā اِدًّا (Maryam/19: 89)
Lafal ادّا (dengan hamzah dibaca kasroh) berarti perkara yang mengerikan, juga berarti bencana atau malapetaka besar. Tetapi lafal yang hampir sama yaitu ادّا (dengan hamzah dibaca fathah) berarti kemenangan, kekuatan atau sesuatu yang hebat dan dahsyat. Fi’il atau kata kerja, ادّ- يؤد - اِدّا او اَدّا artinya menyusahkan atau meresahkan hati. Dalam ayat 89 surah Maryam ini maksudnya orang-orang yang berpendapat bahwa Allah mempunyai anak adalah sampai pada puncak kedurhakaan yang me-ngakibatkan malapetaka yang sangat besar karena merupakan perkara yang sangat mungkar. Dalam ayat-ayat berikutnya terutama ayat 90 digambarkan seperti langit hampir pecah, bumi hampir terbelah dan gunung-gunung seakan runtuh. Apalagi jika menuduh Allah memiliki anak perempuan, padahal orang kafir Quraisy sangat tidak senang jika memiliki anak perempuan, maka tuduhan mereka betul-betul sudah sangat keterlaluan dalam memperolok-olokkan Tuhan, sangat bertentangan dengan akal sehat.
3.Haddan هَدًّا (Maryam/19: 95)
هَدَّا (haddan), terdiri dari tiga huruf, د د هـ. Dari pecahan tiga huruf ini muncul kata هَدَّا (haddan) artinya pecah menjadi berkeping-keping, atau runtuhnya suatu benda yang berat atau besar. الهِدَّة (al-hiddah) suara jatuhnya benda tersebut, seperti pada Maryam/19: 90. الهِدُّ (al-hidda) artinya pengecut dan هَدَّدَ (haddada) artinya mengancam.
Dalam Maryam/19: 88 telah dijelaskan perkataan mereka bahwa Allah memiliki anak. Maka dalam ayat ini dijelaskan dampak dari perkataan tersebut, yaitu hampir saja bumi yang mereka pijak terbelah dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka menyatakan bahwa ar-Raḥman Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.





























