Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 24 - Surat Muḥammad (Nabi Muhammad)
محمّد
Ayat 24 / 38 •  Surat 47 / 114 •  Halaman 509 •  Quarter Hizb 51.5 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Madaniyah

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Afalā yatadabbarūnal-qur'āna am ‘alā qulūbin aqfāluhā.

Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?

Makna Surat Muhammad Ayat 24
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada ayat yang lalu Allah mengecam orang munafik yang selalu membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturrahmi. Kecaman itu mash dilanjutkan pada ayat ini, Allah melanjutkan kecamannya dengan menyatakan, Maka tidakkah mereka, orang-orang munafik itu, menghayati Al-Qur’an, yakni tidak merenungkan atau memikirkan Al-Qur’an? Ataukah hati mereka sudah terkunci sehingga tidak dapat memahami petunjuknya? Pertanyaan yang mengandung kecam-an itu menegaskan bahwa orang munafik itu tidak mau memperhatikan petunjuk Al-Qur’an, atau tidak memahaminya, karena hati me-reka telah terkunci.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Apakah orang-orang munafik itu tidak memperhatikan dan memahami ajaran-ajaran Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an, tidak pula merenungkan dan memikirkannya, sehingga mereka mengetahui kesalahan sikap dan tindakan mereka selama ini? Atau telah terkunci hati dan penglihatan mereka sehingga tidak dapat lagi memahami isinya?

Sikap dan tindakan yang dilakukan oleh kaum munafik itu tidak saja dilakukan terhadap orang beriman, tetapi juga terhadap orang Yahudi. Mereka menyatakan kesediaan bekerja sama dengan orang Yahudi Bani Naḍir dan Bani Quraiẓah. Bahkan mereka bersedia mengikuti sebagian keinginan orang Yahudi untuk menarik hati mereka, tetapi semua janji dan kesediaan itu tidak mereka tepati. Mereka terkadang tidak segan-segan mencelakakan teman yang diajak bersekongkol, dengan menohok kawan seiring.

Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِم ُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّك ُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ١١

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. (al-Ḥasyr/59: 11)

Isi Kandungan Kosakata

1. Aqfāluhā أَقْفَالُهَا (Muḥammad/47: 24)

Kata aqfāl adalah jamak dari kata qufl yang berarti kunci. Ia terambil dari kata qafala-yaqfulu-quflan. Dari akar kata yang sama, kata quful berarti pulang dari bepergian, atau pulangnya pasukan dari kancah perang. Darinya terambil kata qāfilah yang berarti kafilah, sebuah penamaan yang mengandung pengharapan agar mereka kembali dari perjalanan mereka. Lalu darinya terambil dari kata quflun yang berarti penutup. Bila kita cermati, ada korelasi makna ‘penutup’ dengan ‘kembali dari perjalanan’, yaitu sama-sama menutup. Kata aqfāl di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Menurut Imam aṭ-Ṭabarī, orang-orang munafik itu ditutup hatinya oleh Allah sehingga tidak memahami pelajaran dan nasihat yang ada di dalamnya.

2. Aḍgānahum أَضْغَانَهُمْ (Muḥammad/47: 29)

Kata aḍgān adalah jamak dari kata ḍagīnah, yang berarti kedengkian, permusuhan, dan kebencian. Ia terbentuk dari kata ḍagana-yaḍganu-ḍignan- ḍagīnatan. Dalam sebuah aṡar dari ‘Umar disebutkan:

أَيُّمَ قَوْمٍ شَهِدُوْا عَلَى رَجُلٍ بِحَدٍّ وَلَمْ يَكُنْ بِحَضْرَةِ صاَحِبِ الْحَدِّ فَإِنَّمَا شَهِدُوْا عَنْ ضِغْنٍ (رواه عبد الرزاق)

Jika ada satu kaum yang bersaksi terhadap seseorang yang bisa terkena hukuman had sedangkan kesaksian itu tidak berada di depan pelaku, maka sesungguhnya mereka bersaksi atas dasar kedengkian. (Riwayat ‘Abd ar-Razāq)

Kata ini terulang dua kali di dalam Al-Qur’an di surah yang sama, yaitu Surah Muḥammad ayat 29 dan 37.

3. Laḥnil Qaul لَحْنِ الْقَوْل (Muḥammad/47: 30)

Kata qaul adalah kata jadian (maṣdar) dari kata qāla-yaqūlu-qaulan yang berarti berkata. Sedangkan kata laḥn adalah kata jadian dari kata laḥana-yalḥanu-laḥnan. Akar maknanya adalah bernyanyi. Kalimat laḥḥana fi qirā'atihi berarti ia membaca dengan berirama. Darinya diambil kata laḥan yang berarti bahasa. Kata laḥana juga berarti kesalahan dalam berbicara, terutama dalam hal gramatika. Akan tetapi, yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang tampak dari ucapan mereka, yang menunjukkan tujuan mereka, atau dialek, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Uṡmān bin ‘Affān, “Seseorang tidak menyembunyikan suatu rahasia kecuali Allah menampakkannya pada raut wajahnya atau pada kegagapan lisannya.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto