ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ اَسْخَطَ اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ
Żālika bi'annahumuttaba‘ū mā askhaṭallāha wa karihū riḍwānahū fa aḥbaṭa a‘mālahum.
Yang demikian itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan membenci (apa yang menimbulkan) keridaan-Nya. Oleh karena itu, Dia menghapus (pahala) amal-amal mereka.
Mereka yang mengalami keadaan yang demikian itu, yakni kematian yang mengerikan, karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang me-nimbulkan kemurkaan Allah, seperti kemunafikan dan berbuat maksiat dan membenci apa yang menimbulkan keridaan-Nya seperti ketulusan dalam beriman dan bersungguh-sungguh melaksanakan perintahnya, sebab itu Allah menghapus segala amal mereka. Ayat ini menyatakan bahwa kematian yang mengerikan akan menimpa kita, apabila kita sering mengerjakan maksiat, dan tidak mau mengerjakan perbuatan yang diridai-Nya.
Mereka mengalami keadaan yang demikian karena sering mengerjakan maksiat, selalu ingkar kepada Allah, menuruti hawa nafsu, dan tidak mau mengerjakan perbuatan yang diridai-Nya. Mereka beribadah kepada Allah hanya karena ria dan ingin dihargai orang. Oleh karena itu, semua amal yang mereka kerjakan, seperti bersedekah dan menolong orang-orang yang lemah, miskin, dan sengsara, tidak ada gunanya. Sebab, amal dan perbuatan baik yang dapat diterima bila didasari dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
1. Aqfāluhā أَقْفَالُهَا (Muḥammad/47: 24)
Kata aqfāl adalah jamak dari kata qufl yang berarti kunci. Ia terambil dari kata qafala-yaqfulu-quflan. Dari akar kata yang sama, kata quful berarti pulang dari bepergian, atau pulangnya pasukan dari kancah perang. Darinya terambil kata qāfilah yang berarti kafilah, sebuah penamaan yang mengandung pengharapan agar mereka kembali dari perjalanan mereka. Lalu darinya terambil dari kata quflun yang berarti penutup. Bila kita cermati, ada korelasi makna ‘penutup’ dengan ‘kembali dari perjalanan’, yaitu sama-sama menutup. Kata aqfāl di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Menurut Imam aṭ-Ṭabarī, orang-orang munafik itu ditutup hatinya oleh Allah sehingga tidak memahami pelajaran dan nasihat yang ada di dalamnya.
2. Aḍgānahum أَضْغَانَهُمْ (Muḥammad/47: 29)
Kata aḍgān adalah jamak dari kata ḍagīnah, yang berarti kedengkian, permusuhan, dan kebencian. Ia terbentuk dari kata ḍagana-yaḍganu-ḍignan- ḍagīnatan. Dalam sebuah aṡar dari ‘Umar disebutkan:
أَيُّمَ قَوْمٍ شَهِدُوْا عَلَى رَجُلٍ بِحَدٍّ وَلَمْ يَكُنْ بِحَضْرَةِ صاَحِبِ الْحَدِّ فَإِنَّمَا شَهِدُوْا عَنْ ضِغْنٍ (رواه عبد الرزاق)
Jika ada satu kaum yang bersaksi terhadap seseorang yang bisa terkena hukuman had sedangkan kesaksian itu tidak berada di depan pelaku, maka sesungguhnya mereka bersaksi atas dasar kedengkian. (Riwayat ‘Abd ar-Razāq)
Kata ini terulang dua kali di dalam Al-Qur’an di surah yang sama, yaitu Surah Muḥammad ayat 29 dan 37.
3. Laḥnil Qaul لَحْنِ الْقَوْل (Muḥammad/47: 30)
Kata qaul adalah kata jadian (maṣdar) dari kata qāla-yaqūlu-qaulan yang berarti berkata. Sedangkan kata laḥn adalah kata jadian dari kata laḥana-yalḥanu-laḥnan. Akar maknanya adalah bernyanyi. Kalimat laḥḥana fi qirā'atihi berarti ia membaca dengan berirama. Darinya diambil kata laḥan yang berarti bahasa. Kata laḥana juga berarti kesalahan dalam berbicara, terutama dalam hal gramatika. Akan tetapi, yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang tampak dari ucapan mereka, yang menunjukkan tujuan mereka, atau dialek, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Uṡmān bin ‘Affān, “Seseorang tidak menyembunyikan suatu rahasia kecuali Allah menampakkannya pada raut wajahnya atau pada kegagapan lisannya.”








































