Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 27 - Surat Muḥammad (Nabi Muhammad)
محمّد
Ayat 27 / 38 •  Surat 47 / 114 •  Halaman 509 •  Quarter Hizb 51.5 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Madaniyah

فَكَيْفَ اِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْ

Fa kaifa iżā tawaffathumul-malā'ikatu yaḍribūna wujūhahum wa adbārahum.

Maka, bagaimana (nasib mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka serta memukul wajah dan punggung mereka?

Makna Surat Muhammad Ayat 27
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka bagaimana nasib dan keadaan mereka apabila Malaikat maut datang untuk mencabut nyawa mereka dengan cara yang buruk dan mengerikan? Pada saat nyawa dicabut para malaikat itu mengeluarkan ruh mereka dengan kasar dan terus menerus memukul wajah dan punggung mereka sebagai penghinaan? Keadaan orang munafik itu sangat terhina dan sengsara dalam menghadapi kematian.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini masih berbicara tentang kaum munafik, apakah yang akan mereka lakukan jika tetap berada dalam kemunafikan itu. Mereka hanya dapat melakukan kemunafikan dan tipu daya semasa mereka masih hidup, berkuasa, dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Bagaimana pendapat mereka bila Allah menghilangkan kesehatan mereka dengan seketika, dan ketuaan berangsur pula mendekati kehidupan mereka? Bagaimana pendapat mereka pada waktu kematian mendekati mereka dan malaikat maut memukul muka dan punggung mereka; apakah yang akan mereka lakukan? Bagaimana pula pendapat mereka jika mereka mati dengan tiba-tiba, sehingga tidak ada kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk bertobat kepada Allah yang menentukan segala sesuatu di akhirat? Jika mereka memikirkan dan merenungkan semuanya itu, tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan ingkar dan dosa.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ketika malaikat akan mencabut nyawa mereka, malaikat akan mengeluarkan roh mereka dengan kuat dan kasar serta memukul wajah dan punggung mereka. Orang Arab amat takut dipukul di wajah dan punggung. Karena mereka takut dipukul musuh di wajah dan punggung, maka mereka tidak mau pergi berperang. Ayat ini menunjukkan keadaan orang-orang munafik dalam keadaan sengsara dan terhina pada waktu menghadapi sakaratul maut. Allah berfirman:

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَة ُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُم ْ

Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang- orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka. (al-Anfāl/8: 50)

Isi Kandungan Kosakata

1. Aqfāluhā أَقْفَالُهَا (Muḥammad/47: 24)

Kata aqfāl adalah jamak dari kata qufl yang berarti kunci. Ia terambil dari kata qafala-yaqfulu-quflan. Dari akar kata yang sama, kata quful berarti pulang dari bepergian, atau pulangnya pasukan dari kancah perang. Darinya terambil kata qāfilah yang berarti kafilah, sebuah penamaan yang mengandung pengharapan agar mereka kembali dari perjalanan mereka. Lalu darinya terambil dari kata quflun yang berarti penutup. Bila kita cermati, ada korelasi makna ‘penutup’ dengan ‘kembali dari perjalanan’, yaitu sama-sama menutup. Kata aqfāl di dalam Al-Qur’an hanya terdapat pada ayat yang sedang ditafsirkan ini. Menurut Imam aṭ-Ṭabarī, orang-orang munafik itu ditutup hatinya oleh Allah sehingga tidak memahami pelajaran dan nasihat yang ada di dalamnya.

2. Aḍgānahum أَضْغَانَهُمْ (Muḥammad/47: 29)

Kata aḍgān adalah jamak dari kata ḍagīnah, yang berarti kedengkian, permusuhan, dan kebencian. Ia terbentuk dari kata ḍagana-yaḍganu-ḍignan- ḍagīnatan. Dalam sebuah aṡar dari ‘Umar disebutkan:

أَيُّمَ قَوْمٍ شَهِدُوْا عَلَى رَجُلٍ بِحَدٍّ وَلَمْ يَكُنْ بِحَضْرَةِ صاَحِبِ الْحَدِّ فَإِنَّمَا شَهِدُوْا عَنْ ضِغْنٍ (رواه عبد الرزاق)

Jika ada satu kaum yang bersaksi terhadap seseorang yang bisa terkena hukuman had sedangkan kesaksian itu tidak berada di depan pelaku, maka sesungguhnya mereka bersaksi atas dasar kedengkian. (Riwayat ‘Abd ar-Razāq)

Kata ini terulang dua kali di dalam Al-Qur’an di surah yang sama, yaitu Surah Muḥammad ayat 29 dan 37.

3. Laḥnil Qaul لَحْنِ الْقَوْل (Muḥammad/47: 30)

Kata qaul adalah kata jadian (maṣdar) dari kata qāla-yaqūlu-qaulan yang berarti berkata. Sedangkan kata laḥn adalah kata jadian dari kata laḥana-yalḥanu-laḥnan. Akar maknanya adalah bernyanyi. Kalimat laḥḥana fi qirā'atihi berarti ia membaca dengan berirama. Darinya diambil kata laḥan yang berarti bahasa. Kata laḥana juga berarti kesalahan dalam berbicara, terutama dalam hal gramatika. Akan tetapi, yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang tampak dari ucapan mereka, yang menunjukkan tujuan mereka, atau dialek, sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Uṡmān bin ‘Affān, “Seseorang tidak menyembunyikan suatu rahasia kecuali Allah menampakkannya pada raut wajahnya atau pada kegagapan lisannya.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto