وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَّكَانٍ قَرِيْبٍ
Wastami‘ yauma yunādil-munādi mim makānin qarīb(in).
Dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika malaikat) penyeru memanggil dari tempat yang dekat!
Dan dengarkanlah seruan pada hari Kiamat, ketika penyeru, yaitu malaikat Israfil, menyeru dari tempat yang dekat, sehingga mudah terdengar oleh sekalian makhluk, agar mereka berkumpul di padang Mahsyar untuk dihisab dan menerima pembalasan.
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar mendengarkan seruan malaikat (Jibril) pada hari Kiamat. Seruan tersebut dilakukan dari tempat yang dekat sehingga dapat didengar oleh sekalian makhluk, “Agar mereka berkumpul untuk dihisab (di Padang Mahsyar).” Lalu mereka keluar semuanya dari kuburnya masing-masing dan datang menghadap kehadiran Allah seperti belalang yang bertaburan.
1. Maḥīṡ مَحِيْصٍ (Qāf/50: 36)
Kata maḥīṡ adalah isim makān (kata benda tempat) dari kata ḥāṡa-yaḥīṡu-ḥai an yang berarti menjauh dari sesuatu. Kalimat ḥāṡa al-farsu berarti kuda itu melarikan diri. Jadi, yang dimaksud dengan kata maḥiṡ di sini adalah tempat berlari. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak lima kali, dan seluruhnya menunjukkan arti yang sama, yaitu tempat berlari dari azab Allah.
2. Lugūb لُغُوْبٍ (Qāf/50: 38)
Kata lugūb adalah kata jadian yang terbentuk dari kata lagaba-yalgabu-lugūban yang berarti “letih”. Darinya diambil kata kalām lagb yang berarti “ucapan yang tidak benar dan tidak bertujuan.” Disebut demikian karena ucapan itu hanya membuat letih empunya. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak dua kali, dan pada konteks ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Dia tidak pernah merasakan letih pada waktu menciptakan alam semesta.











































