قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْٓا اَنَحْنُ صَدَدْنٰكُمْ عَنِ الْهُدٰى بَعْدَ اِذْ جَاۤءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُّجْرِمِيْنَ
Qālal-lażīnastakbarū lil-lażīnastuḍ‘ifū anaḥnu ṣadadnākum ‘anil-hudā ba‘da iż jā'akum bal kuntum mujrimīn(a).
(Para pemimpin) yang menyombongkan diri berkata kepada (para pengikut) yang dianggap lemah, “Kamikah yang telah menghalangimu untuk memperoleh petunjuk setelah ia datang kepadamu? (Tidak!) Sebenarnya kamulah para pendurhaka.”
Enggan disalahkan, orang-orang yang menyombongkan diri itu mengelak dari tanggung jawab dan berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, yakni para pengikut mereka, “Kamikah yang telah menghalangimu untuk memperoleh petunjuk Allah setelah petunjuk itu datang kepadamu melalui Nabi-Nya? Tidak! Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berbuat dosa karena tetap dalam kekafiran.”
Ucapan dan tuduhan ini dijawab oleh para pemimpin yang telah menjerumuskan mereka karena hendak melepaskan diri dari tanggung jawab. Para pemimpin itu berkata, “Apakah kami pernah menghalangi kamu mengikuti petunjuk? Kami tidak pernah memaksa kamu supaya mengikuti kemauan kami dan mengikuti jalan yang kami tempuh. Kami tidak pernah menghalangi kamu mengikuti ajaran yang dibawa oleh rasul Allah. Hanya kamu sendirilah dengan kemauan kamu sendiri pula yang menolak ajaran itu, dan turut mendustakannya. Kalau kamu telah sesat disebabkan tindakan kamu, janganlah kami dibawa-bawa untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu. Kamu sebenarnya termasuk orang-orang sesat.”
Kalau jawaban para pemimpin itu diucapkan pada waktu mereka masih di dunia, para pengikutnya pasti akan diam, karena pengaruhnya yang besar terhadap mereka. Tetapi, lain halnya di akhirat. Kedudukan manusia di hadapan Allah semua sama, tidak ada bawahan dan pimpinan, dan tidak ada kaum feodal atau kaum jelata.
Ṣadadnākum صَدَدْنَاكُمْ (Saba’/34: 32)
Kalimat ṣadadnākum terambil dari lafal ṣadda-yaṣuddu-ṣaddan yang berarti menolak atau berpaling. Dari kata ini berkembang makna perlawanan, pencegahan, dan menghalang-halangi. Ṣadda juga berarti tertawa karena merasa aneh. Taṣdiyah adalah tepuk tangan karena kedua telapak tangan saling menghalangi sehingga menimbulkan suara (Wa mā kāna ṣalātuhum ‘inda al-baiti illā mukā'a wa taṣdiyah). Ṣadīd artinya air nanah bercampur dengan darah yang keluar dari tubuh. Dalam Al-Qur’an, ṣadīd diartikan dengan sesuatu yang keluar dari tubuh penghuni neraka. Gunung juga disebut dengan aṣ-Ṣadd karena menghalangi pandangan. Taṣaddā adalah yang bermaksud atau yang mendekati dan menghadapmu (fa anta lahū taṣaddā).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang menyombongkan dirinya kepada orang-orang lemah bawahan mereka yang menganggap telah dijerumuskan oleh mereka. Tetapi, pernyataan itu mereka jawab dengan berkata, “Mengapa kalian harus menuduh kami? Bukankah kami tidak pernah menghalangi kalian untuk ikut dengan ajaran Muhammad? Justru kalian sendirilah yang menolak ajaran itu.” Tampak dari ayat ini sikap munafik pemimpin orang-orang kafir yang hendak berlepas diri dari tanggung jawab.
















































