Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 10 - Surat Saba' (Saba')
سبأ
Ayat 10 / 54 •  Surat 34 / 114 •  Halaman 429 •  Quarter Hizb 43.75 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًاۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَ ۚوَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَۙ

Wa laqad ātainā dāwūda minnā faḍlā(n), yā jibālu awwibī ma‘ahū waṭ-ṭair(a), wa alannā lahul-ḥadīd(a).

Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud!” Kami telah melunakkan besi untuknya.

Makna Surat Saba' Ayat 10
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta yang diharapkan dapat meningkatkan keimanan manusia, pada ayat ini Allah menyebutkan anugerah-Nya kepada salah seorang hamba yang taat, Nabi Daud. Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Daud karunia yang besar dari Kami. Kami berfirman, “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.” Dan selain anugerah itu, Kami juga telah melunakkan besi untuknya seperti lilin agar bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Di antara karunia Allah yang dianugerahkan kepada Nabi Daud ialah suaranya yang sangat merdu. Diriwayatkan bahwa Nabi Daud adalah seorang komponis atau pencipta nyanyian yang bersifat keagamaan. Ketika Daud bertasbih memuja dengan suaranya yang merdu, apalagi lagu-lagu itu menggambarkan pula kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Tuhan, maka alam sekitarnya bergema seakan-akan turut bertasbih mengikuti irama suaranya. Kita tidak mengetahui bagaimana alam sekitarnya bertasbih dan bernyanyi bersama Daud sebagaimana diperintahkan Allah kepadanya. Hal itu memang tidak dapat diketahui oleh manusia sebagai tersebut dalam firman-Nya:

تُسَبِّ ُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ٤٤ (الاسراۤء)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (al-Isrā’/17: 44)

Mengenai keindahan dan kemerduan suara Daud diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةَ أَبِى مُوْسَى فَقَالَ لَقَدْ اُوْتِيَ هٰذَا مَزْمَارًا مِنْ مَزَامِيْرِآلِ دَاوُدَ عَلَيْه السَّلام (رواه النسائي)

Dari ‘Āisyah, dia berkata: Rasulullah saw mendengar bacaan Abū Mūsa al-Asy‘arī, kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya orang ini telah dikaruniai Allah suara merdu seperti keluarga Daud.” (Riwayat an-Nasā'ī)

Nikmat lain yang dikaruniakan Allah kepada Daud ialah dia dapat menjadikan besi yang keras menjadi lunak seperti lilin sehingga dapat dibentuk menjadi alat-alat, terutama alat peperangan. Dengan mukjizat yang dikaruniakan Allah, Daud melakukannya tanpa dipanaskan dengan api sebagaimana yang bisa dilakukan orang.

Isi Kandungan Kosakata

Dāwud دَاوُدَ (Saba’/34: 10)

Kisah tentang Nabi Daud dalam Al-Qur’an dapat dilihat dalam beberapa surah, seperti dalam Surah al-Baqarah, al-Anbiyā’, Saba’, Ṣād, dan sebagainya, dalam 16 tempat seperti yang dapat dibaca di berbagai surah dalam Al-Qur’an, kadang singkat sekali, kadang lebih terinci, dan semuanya saling melengkapi. Sebelum dan sesudah kekuasaan Daud telah terjadi berbagai peristiwa penting seperti yang akan kita lihat dalam uraian berikutnya. Silsilah dan tempat kelahirannya dapat dibaca dalam Alkitab (Bibel) dan dalam kepustakaan Islam dan Ahli Kitab. Daud dalam Al-Qur’an, yang sebagian penjelasannya sudah ada, dalam uraian berikut tidak akan diulang, atau sekadar disinggung seperlunya..

Daud adalah anak Isai (Jesse) anak Obed anak Boas anak Salmon anak Nahason anak Aminadab anak Ram anak Hezron anak Peres anak Yehuda anak Yakub anak Ishak anak Abraham, lahir di Betlehem 1085 SM. Sebagian mereka lahir dari ibu yang berbeda-beda (Injil Matius 1: 2-6). Kisah Daud dalam Alkitab dimulai dari Samuel, Saul, Daud, dan Sulaiman, yang kebanyakan terdapat dalam Samuel I dan Samuel II serta sebagian lagi dalam Kitab Raja-raja. Dalam literatur gereja, Daud disebutkan lahir tahun Ussher 1085 SM.

Masa hidupnya dapat dibagi ke dalam tiga bagian: 1. Masa mudanya sebelum mengenal istana Saul; 2. Hubungannya dengan Saul; dan 3. Masa kekuasaannya. Tampaknya Daud yang termuda dari sepuluh orang bersaudara. Pertama kali ia muncul dalam sejarah ketika dalam pesta kurban tahunan saat Samuel datang diutus Tuhan untuk mengadakan perminyakan suci kepada salah seorang dari kesepuluh anak Isai sebagai raja Israil menggantikan Saul. Daud yang kemudian ditetapkan sebagai raja, maka ia yang diurapi, dan sejak hari itu berkuasalah roh Tuhan atas Daud. Demikian Alkitab (Bibel). Kehidupan Daud dalam Alkitab diceritakan secara panjang lebar, dari masa anak-anak sampai pada kedudukannya sebagai raja Israil. Dalam kekuasaannya yang selama 40 tahun ia dapat menguasai Yerusalem dan memperkuatnya sebagai pusat agama dan kehidupan Yahudi dengan membawa Tabut Perjanjian Allah.

Bani Israil waktu itu, menurut Alkitab, selalu dalam peperangan dengan tetangga-tetangganya—orang -orang Amalek, Aram, Madyan, dan terutama Filistin*, dengan kalah dan menang yang silih berganti. Kaum Ibrani masuk ke dalam kancah peperangan dengan kelompok Filistin penduduk Asdod (Ashdod) di dekat Gaza. Dalam perang, orang-orang Israil membawa Tabut Perjanjian (berisi sepuluh wasiat Allah kepada Musa di Gunung Sinai—Kel. 25: 10) supaya mendapat kemenangan. Tetapi perang itu dimenangkan oleh pihak Filistin, dan Tabut tersebut dibawa dan dimasukkan ke kuil Dagon di Asdod. Dagon adalah dewa orang Filistin, dalam bentuk manusia dan ikan. Dalam Perjanjian Lama disebutkan “Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata Tuhan; sebab itu Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.” (Kitab Hakim-hakim 13: 1).

Lama sesudah Nabi Musa, maka terjadi kekosongan tanpa ada raja di kalangan Bani Israil, yang sementara itu dipimpin oleh Yosua yang memang sudah dipersiapkan oleh Musa (Keluaran17: 9). Dalam Surah al-Baqarah/2: 246-251 dapat kita baca kisahnya, bahwa sesudah Musa tidak ada, mereka meminta kepada seorang nabi di kalangan mereka supaya didatangkan seorang raja untuk mereka agar mereka dapat berjuang di jalan Allah. Nabi mereka yang disebutkan dalam Al-Qur’an (al-Baqarah/2: 247-248) adalah Nabi Samuel. Mereka khawatir jika Samuel sudah tak ada, tak ada orang yang akan dapat memimpin mereka. Samuel yang hidup di tengah-tengah mereka, sudah mengenal benar watak, adat kebiasaan, dan segala kecenderungan mereka. Nabi itu bertanya kepada mereka, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. (al-Baqarah/2: 246). Mereka lari bersembunyi di gua, di perigi, di bukit, dan liang batu. (Samuel I 13: 6-7).

Al-Qur’an melanjutkan bahwa setelah nabi mereka memberitahukan bahwa Allah telah mengangkat Talut (Bibel, Saul) menjadi raja, mereka menggerutu, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” (al-Baqarah/2: 247). Nabi itu juga mengatakan bahwa tanda kerajaan Talut adalah dengan datangnya Tabut yang berisikan keterangan dari Tuhan bagi mereka serta sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh para malaikat (al-Baqarah/2: 248).

Setelah siap akan berangkat, Talut berkata kepada pasukannya bahwa Allah akan menguji mereka dengan sebuah sungai. Barang siapa yang minum dari air sungai itu, maka ia bukanlah pengikutnya, dan yang tidak meminumnya adalah pengikutnya, kecuali hanya menciduk sedikit dengan tangan. Tetapi, justru mereka banyak yang minum, hanya sedikit yang tidak ikut. Ketika Talut dan orang-orang beriman menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Dan mereka terus maju melawan Jalut sambil berdoa kepada Allah memohon kesabaran dan ketabahan melawan musuh mereka. Dengan izin Allah, mereka pun berhasil membunuh Jalut. Allah telah memberi kerajaan dan kearifan kepada Daud dan memberinya pula pelajaran sesuai dengan kehendak Allah (al-Baqarah/2: 249-251).

Demikian lukisan dalam Al-Qur’an, seluruh adegan dalam peristiwa perang antara Talut dengan Jalut itu selesai dengan tiga ayat pendek, dengan tekanan sebagai konsumsi rohani dalam bentuk tamsil dan pelajaran. Dalam Alkitab (I Samuel, 17) peristiwa perang ini dilukiskan terinci dalam 57 ayat dengan tekanan pada jalan cerita dalam peristiwa demi peristiwa.

Ketika Talut (Saul) bersiap-siap akan berperang menghadapi bala tentara kaum Filistin yang dipimpin oleh manusia raksasa Jalut (Bibel, Goliat, Goliath), orang sudah mulai gentar karena keberanian dan kehebatannya dalam perang. Orang berusaha menghindari perang dengan pihak musuh itu. Pesan Talut agar jangan ada orang yang minum dari air sungai nanti, tetapi ketika sudah sampai di tepi sungai sebagian dari mereka minum, karena sudah tidak dapat menahan dahaga yang luar biasa. Hanya sebagian kecil mereka yang masih taat dan dapat menahan diri tidak minum. Setelah menyeberangi sungai, mereka yang sudah minum tampaknya ketakutan, maka mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi Jalut dan pasukannya yang begitu besar, sedang jumlah mereka sedikit sekali. Tetapi mereka yang sebagian kecil dengan iman yang tangguh, tetap mau terus maju dengan keyakinan, bahwa betapa banyak jumlah kecil dapat mengalahkan jumlah yang lebih besar dengan izin Allah.

Dalam peristiwa itu, Daud adalah pemuda yang masih hijau, hanya gembala kambing, dan tak ada hubungannya dengan perang. Kedatangannya ke tempat itu disuruh oleh bapaknya untuk menemui ketiga saudaranya—yang memang anggota pasukan Saul (Talut)—untuk menyampaikan sesuatu yang akan menghibur mereka. Ia juga melihat Goliat (Jalut) yang sedang menantang perang tanding, hal yang paling ditakuti semua orang, sebab siapa pun yang berhadapan dengan dia pasti binasa. Ketika Daud bertanya apa yang akan diperoleh orang yang dapat membunuh orang Filistin itu, dijawab bahwa ia akan diberi kekayaan dan dikawinkan dengan putri Raja Saul. Ketika disuruh menemui saudara-saudaranya itu, Daud belum tahu bahwa dia akan terlibat dalam peperangan. Ia pernah dimarahi kakaknya karena sering meninggalkan kambing gembalaannya.

Ia menemui Saul dan minta izin akan melawan Goliat, karena dalam pengalamannya sebagai penggembala kambing bapaknya ia sudah pernah membunuh harimau yang menerkam kambing bapaknya. Akan tetapi, ia sendiri belum mengenal senjata dan pakaian perang, juga tidak banyak dikenal orang sehingga pihak lawan pun tentu akan meremehkannya. Talut memakaikan pakaian perang kepada Daud dan memberikan senjatanya, tetapi Daud menemui kesulitan berjalan dengan pakaian demikian dan membawa pedang, karena ia tak pernah dilatih untuk itu. Dilepasnya semua itu dan ia maju dengan tongkat gembalanya. Lalu dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruh di kantong gembala yang dibawanya dan umbannya (pelempar batu) di tangan. Dengan itu ia lebih terlatih, dan dengan keyakinan yang teguh ia sanggup menghadapi pasukan Filistin. Digunakannya umban yang sudah diisi batu itu lalu diumbannya demikian rupa sehingga benar-benar tepat mengenai dahi Goliat dan melesak ke dalamnya. Goliat pun jatuh tersungkur, dan langsung dibantainya dengan menggunakan pedang Goliat sendiri, sehingga kepalanya terlepas dari badannya. Setelah itu timbul ketakutan di kalangan tentara Filistin. Mereka lari kocar-kacir, dan terus dikejar sampai mereka dapat dihancurkan.

Sesudah terjadi liku-liku dan pasang surut hubungan Saul dengan Daud yang cukup panjang, kemudian jadi juga Daud kawin dengan Mikhal, putri Saul. Hanya saja, hubungan Saul dengan Daud makin lama makin tegang. Soalnya bintang Daud di hati rakyat terasa makin cemerlang dan pengaruhnya bertambah besar. Di samping itu, selain telah berhasil membunuh musuh yang paling ditakuti, dalam peperangan berikutnya sebagai panglima, Daud selalu mendapat kemenangan. Pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing. Perempuan-perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (I Samuel 18: 6-7).

Yonatan anak Saul yang bersimpati kepada Daud berusaha mau menengahi antara ayah dengan iparnya itu, tetapi tidak berhasil. Saul berupaya hendak membunuh Daud, karena khawatir menantunya ini akan merebut kerajaannya dan menjadi raja Israel. Kendati ia sudah tahu niat jahat Saul terhadap dirinya, semangatnya tidak berkurang terus mengejar dan mengalahkan musuh raja. Akan tetapi, Saul tetap pada niatnya, dan yang menjadi sasaran pembunuhannya sekarang ialah anaknya sendiri, Yonatan yang dianggap membela Daud. Setelah yakin benar bahwa Saul tetap berusaha mencari jalan hendak membunuhnya, Daud lari ke Gat, kota di bawah Raja Akhis, musuh Saul dan Daud. Datang perintah dari raja agar Daud dibunuh. Daud pura-pura gila, maka raja mengusirnya dan menjauhkannya dari sana.

Daud pergi ke gua Adulam. Setelah itu semua saudara dan anggota keluarga bapaknya menyusul datang. Mereka disambut oleh imam Ahimelekh bin Ahitub, seorang imam di kota Nob yang membela Daud dan memberinya pedang Goliat. Saul marah kepada Ahimelekh, tetapi imam itu berkata bahwa Daud yang telah berbuat, mengapa dibalas dengan kejahatan. Saul memerintahkan agar dia dan keluarganya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan ternaknya serta para imam dibunuh semua. Akan tetapi, seorang anak kecil, Abyatar bin Ahitub ternyata selamat, karena ia melarikan diri dan mengadukan kejadian itu kepada Daud. Sementara itu permusuhan Saul kepada Daud, karena selalu dibayangi ketakutannya bahwa Daud akan merebut kerajaannya, membuat Saul tak pernah tenang, dan berusaha membunuhnya, tetapi tak pernah berhasil. Sebaliknya Daud mendapat beberapa kesempatan untuk membunuh Saul, tetapi tidak dilaksanakan, dan Saul baru tahu kemudian. Ia menyesali sikap dan perbuatannya terhadap Daud. Sungguhpun begitu, kemudian timbul lagi dendamnya kepada Daud, padahal anaknya Yonatan bersahabat karib dengan Daud.

Tak berselang lama setelah itu, ketika terjadi perang dengan Filistin, pasukan Saul menderita kekalahan dan Saul beserta ketiga anaknya mati. Pada masa itu, rupanya sudah ada seorang nabi, yaitu Nabi Gad. Setelah melihat berbagai pengalaman Daud itu ia berkata kepada Daud, “Janganlah tinggal di kubu gunung itu, pergilah dan pulanglah ke tanah Yehuda.” Lalu pergilah Daud dan masuk ke hutan Keret (Hareth) (I Samuel 22: 5). Sementara itu, Samuel diketahui sudah mati dan seluruh orang Israel meratapi dan menguburkannya di rumahnya di Ramah. Sebelum itu pun, sikap Samuel terhadap Saul sudah berubah. Daud kemudian berkemas pergi ke padang gurun Paran. Ketika Daud pergi ke Hebron, orang-orang Yehuda berdatangan dan mereka menobatkan Daud sebagai raja mereka, yang kemudian berlangsung selama tujuh tahun. Dalam kehidupannya, sejak masa muda sampai menjadi raja, Daud banyak terlibat dalam peperangan, dan kemenangan selalu berpihak kepadanya. Demikianlah seterusnya, seperti diceritakan dalam Alkitab (I Samuel). Dalam pasang surut dan romantika kehidupannya, Daud lebih terlihat sebagai raja daripada sebagai nabi.

Dalam tafsir yang ditulisnya, Al-Qur’an, Terjemahan dan Tafsirnya, Abdullah Yusuf Ali mengatakan, “Kisah ini dapat dirangkum dalam kata-kata yang sedikit saja dalam Al-Qur’an untuk melukiskan isi kisah; tetapi pelajaran yang diberikan dapat diangkat dari pelbagai segi. Perjanjian Lama, sebenarnya ialah lebih merupakan sejarah bangsa Israel, lebih banyak bercerita, yang diuraikan cukup panjang dan dirinci, tetapi tidak banyak memberi tamsil sebagai pelajaran. Al-Qur’an juga menggunakan kisah demikian, tetapi sedikit bercerita, karena intinya selain memperkenalkan para nabi dan rasul, juga untuk dijadikan pelajaran dalam bentuk tamsil.” (al-Baqarah/2: 251).

Kisah Musa dalam Al-Qur’an secara garis besar tidak terlalu berbeda dengan yang terdapat dalam Alkitab, tetapi mengenai Daud tidak demikian, kisah dan suasananya secara keseluruhan berbeda, dan perbedaannya jauh sekali, seperti yang akan kita lihat. Banyak cerita yang ada dalam Alkitab, tidak terdapat dalam Al-Qur’an, seperti mengenai kehidupan pribadi Daud, ketika ia di atas loteng atau atap istananya melihat seorang perempuan sangat elok parasnya sedang mandi, yang kemudian diketahuinya dia adalah Batsyeba istri Uria orang Het, salah seorang prajuritnya. Daud tidur dengan perempuan itu, sampai kemudian ia mengandung. Uria yang baru pulang dari perjalanan tidak mau pulang ke rumahnya kendati sudah dibujuk oleh Raja (Daud), sampai ia diberi minuman supaya mabuk. Namun demikian, ia tetap tidak mau pulang. Daud memerintahkan panglimanya agar Uria ditempatkan di barisan terdepan dalam pertempuran yang paling hebat, supaya ia mati terbunuh. Dalam pertempuran itu gugur beberapa orang tentara Daud, termasuk Uria. Di bagian berikutnya terdapat beberapa cerita tentang perkosaan-perkosaan, persetubuhan dengan sanak saudara, membunuh saudara dalam rumah tangga Daud sendiri! (Samuel II, 11: 2-18, 26-27: 12: 9-10, 20-25). Pandangan demikian terjadi mungkin karena Daud dipandang sebagai raja saja.

Dalam Al-Qur’an, demikian juga dalam tafsir-tafsir dan pandangan para ulama dan umat Islam umumnya, Daud ditempatkan sangat terhormat sebagai seorang nabi dan raja, seperti halnya dengan para nabi dan rasul Allah yang lain. Kedudukan Daud sebagai nabi dan rasul membuatnya terbebas dari sifat dan tindakan tercela seperti diuraikan di atas. Kehidupan Daud juga pantas dijadikan teladan dan pelajaran akhlak yang terpuji.

Allah telah mengaruniakan beberapa kelebihan kepadanya, sebagai nabi dan raja dalam sebuah kerajaan yang kuat, diberi ilmu dan kearifan, dan dengan perintah-Nya gunung-gunung dan burung-burung pun menyanyikan puji-pujian bersamanya, bakat seni musik dan nyanyian kudus, yang tergambar dalam kitab Zabur (Mazmur), sampai pada soal besi atau baja yang dilunakkan baginya untuk membuat berbagai pakaian perang dan seterusnya. (an-Nisā'/4: 163; al-Isrā’/17: 55; al-Anbiyā’/21: 105; Saba’/34: 10; Ṣād/38: 19, 26).

Menurut Abdullah Yusuf Ali, peralihan kalimat dari bentuk tunggal, “Buatlah oleh engkau pakaian rantai besi,” kepada bentuk jamak, “dan berbuat baiklah kamu sekalian,” mengandung makna tersendiri. Yang pertama ditujukan kepada Daud yang pandai membuat baju besi pelindung; dan yang kedua ditujukan kepadanya dan juga kepada seluruh kaumnya. Dia membuat baju besi pelindung, yang tidak hanya dipakai oleh Daud tetapi juga oleh semua prajuritnya. Dia dan kaumnya sangat berhati-hati dalam melihat bahwa semua itu tidak menyimpang dari jalan yang benar. Perang adalah suatu senjata berbahaya dan dapat memburuk (seperti yang memang sering terjadi) menjadi tindak kekerasan. Mereka melihat bahwa ini tak boleh terjadi, dan disebutkan bahwa Allah mengawasi mereka semua dengan perhatian khusus yang terkandung dalam kata ganti tunggal “Aku.”

Nabi Daud sangat taat beribadah, dan dalam beberapa tafsir yang mengutip hadis Rasulullah, disebutkan Nabi Daud orang yang berpuasa selang sehari, yakni sehari berpuasa, sehari tidak, yang rinciannya dan penjelasannya dapat kita baca dalam beberapa kitab tafsir, juga dalam Tafsir ini. Nabi Daud adalah orang yang berhati bersih, adil, ikhlas, dan jujur, serta banyak bertobat jika merasa telah berbuat salah. Daud telah diberi bakat pada musik dan nyanyi, bermain kecapi, serta suara yang merdu, dan kitab Zabur dalam bentuk puisi untuk dinyanyikan, puji-pujian, dan doa kepada Allah dalam acara kebaktian menurut tata-cara yang berlaku bagi Daud dan umatnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto