وَكَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۙ وَمَا بَلَغُوْا مِعْشَارَ مَآ اٰتَيْنٰهُمْ فَكَذَّبُوْا رُسُلِيْۗ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ ࣖ
Wa każżabal-lażīna min qablihim, wa mā balagū mi‘syāra mā ātaināhum fakażżabū rusulī, fakaifa kāna nakīr(i).
Orang-orang sebelum mereka (kafir Makkah) telah mendustakan (para rasul). Padahal, mereka (kafir Makkah) itu belum sampai (menerima) sepersepuluh dari apa (nikmat) yang telah Kami anugerahkan kepada orang-orang terdahulu itu, lalu mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka, (lihatlah) bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku.
Pada ayat ini Allah menggambarkan lemahnya kekuatan orang-orang kafir Mekah dibanding umat-umat terdahulu. Umat masa lalu begitu kuat, namun mereka dihancurkan oleh Allah akibat mendustakan para rasul. Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan para rasul, sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang terdahulu itu, berupa kepandaian, umur panjang, kekuatan jasmani, kekayaan, dan sebagainya, namun mereka mendustakan para rasul-Ku. Maka, lihatlah bagaimana dahsyatnya akibat kemurkaan-Ku. Mereka hancur lebur walaupun kekuatan mereka jauh melebihi kaum musyrik Mekah.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa umat-umat terdahulu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Samud, dan lain-lain yang karena kekafiran mereka telah dimusnahkan Allah dan tinggal hanya puing-puing atau nama-nama. Mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan menganggap rasul-rasul-Nya bohong, padahal mereka lebih perkasa dan lebih hebat kemampuan dan kebudayaan mereka. Kafir Mekah tidak sampai ber-kekuatan sepersepuluh dari umat-umat itu, lalu apakah mereka akan membangkang dan menyombongkan diri pula? Tidak takutkah mereka terhadap murka Allah, mengingat umat-umat terdahulu yang lebih perkasa saja sudah dimusnahkan Allah? Seharusnya mereka mengambil pelajaran dari sejarah masa lampau itu, karena mereka mengenal betul daerah-daerah bekas umat-umat terdahulu itu, sebab mereka melewatinya siang atau malam dalam perjalanan dagang mereka pada musim panas atau musim dingin, sebagaimana firman Allah:
وَاِنَّكُم ْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ ١٣٧ وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ ١٣٨ (الصّٰۤفّٰت)
Dan sesungguhnya kamu (penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi, dan pada waktu malam. Maka mengapa kamu tidak mengerti? (aṣ-Ṣāffāt/37: 137-138)
Mi‘syār مِعْشَار (Saba’/34: 45)
Kata mi‘syār adalah isim yang berasal dari kata ‘asyara yang merupakan angka hitungan setelah angka sembilan. Kata ini banyak dikaitkan dengan angka sepuluh. ‘Asyara mengambil satu dari sebelas atau menambah satu dari sembilan. A‘syara al-qaum artinya kaum itu menjadi yang kesepuluh. (Tilka ‘asyarah kāmilah). ‘Asysyara mengambil sepersepuluh. Ṡaub ‘usyāri artinya baju yang panjangnya sepuluh hasta, gulām ‘usyāri artinya anak yang berusia sepuluh tahun. Puasa bulan Muharram disebut dengan puasa ‘asyurā' karena terjadi pada hari kesepuluh. Al-‘Isyār adalah sebutan untuk unta yang berusia sepuluh bulan (wa iża al-‘isyār ‘uṭṭilat).
Selain makna di atas, kata ‘asyara juga mengandung arti percampuran atau pergaulan. Mu‘āsyarah menunjukkan kepada sebuah kedekatan seperti persahabatan, pertemanan, dan pernikahan. Suami disebut ‘asyīr al-mar'ah karena dialah yang menggaulinya. Kata ma‘syar juga diartikan dengan kelompok, suku, kabilah, kaum, dan jamaah (yā ma‘syara al-jinn wa al-ins).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang kafir terhadap kerasulan Nabi Muhammad. Risalah yang dibawanya adalah penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. Oleh karena itu, hendaklah mereka mengambil iktibar kepada apa yang menimpa umat-umat terdahulu sebelum Muhammad.
Allah menjelaskan bahwa apa yang kaum kafir Mekah miliki baik kekayaan, kekuatan, keberanian, dan ilmu pengetahuan tidak melebihi dari mi‘syār (sepersepuluh) yang dimiliki oleh umat-umat terdahulu. Mereka lebih kaya, lebih luas ilmunya, lebih kuat fisiknya, tetapi karena membang-kang, akhirnya Allah menghancurkan mereka. Ini sebagai perumpamaan supaya orang kafir Mekah berpikir bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan saja tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap azab Allah, dan apa yang mereka miliki tidak bisa membantu, apalagi mereka yang kekayaannya tidak lebih dari sepersepuluh harta mereka, kekuatan yang tidak lebih dari sepersepuluh kekuatan mereka, dan ilmu pengetahuan yang tidak lebih dari sepersepuluh ilmu pengetahuan mereka. Maka tentunya suatu hal yang sangat mudah bagi Allah menimpakan kebinasaan kepada kaum kafir Mekah seperti kebinasaan umat-umat terdahulu.














































