وَمَآ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَآ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍۗ
Wa mā ātaināhum min kutubiy yadrusūnahā wa mā arsalnā ilaihim qablaka min nażīr(in).
Tidaklah Kami berikan kepada mereka kitab apa pun yang mereka pelajari dan tidak (pula) Kami utus seorang pemberi peringatan kepada mereka sebelum engkau (Nabi Muhammad).
Kaum musyrik Mekah tidak punya dasar apa pun untuk pembenaran agama nenek moyang mereka dengan menolak kerasulan Nabi Muhammad dan menuduh Al-Qur’an sebagai sihir, karena Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca, dan Kami tidak pernah mengutus seorang rasul sebagai pemberi peringatan kepada mereka sebelum engkau diutus kepada mereka.
Allah membantah tuduhan kaum kafir Mekah itu dengan dua alasan. Pertama, agama syirik dari nenek moyang mereka itu tidaklah berdasar suatu kitab suci dari Allah; dan kedua, agama itu tidak diajarkan oleh nabi-Nya. Agama yang benar haruslah mempunyai kitab suci sebagai landasan ajaran, karena pikiran manusia tidak terjamin kebenarannya. Allah berfirman:
اَمْ اٰتَيْنٰهُمْ كِتٰبًا مِّنْ قَبْلِهٖ فَهُمْ بِهٖ مُسْتَمْسِكُوْ نَ ٢١ (الزخرف)
Atau apakah pernah Kami berikan sebuah kitab kepada mereka sebelumnya, lalu mereka berpegang (pada kitab itu)? (az-Zukhruf/43: 21)
Di samping kitab suci, agama harus mempunyai seorang nabi yang diutus Allah untuk menerima dan mengajarkan isi kitab suci itu. Allah berfirman:
اَمْ اَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطٰنًا فَهُوَ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُوْا بِهٖ يُشْرِكُوْنَ ٣٥ (الرّوم)
Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, yang menjelaskan (membenarkan) apa yang (selalu) mereka persekutukan dengan Tuhan? (ar-Rūm/30: 35)
Agama syirik nenek moyang kaum kafir Mekah itu tidak mempunyai dasar kitab suci dan tidak diajarkan seorang nabi dari Allah. Oleh karena itu, agama tersebut salah, dan mereka tidak patut mengikuti agama yang salah itu. Agama yang benar adalah Islam karena berdasarkan wahyu dari Allah yaitu Al-Qur’an dan disampaikan oleh seorang nabi yaitu Muhammad saw. Mereka seyogyanya menerima agama yang dibawa Nabi Muhammad tersebut.
Mi‘syār مِعْشَار (Saba’/34: 45)
Kata mi‘syār adalah isim yang berasal dari kata ‘asyara yang merupakan angka hitungan setelah angka sembilan. Kata ini banyak dikaitkan dengan angka sepuluh. ‘Asyara mengambil satu dari sebelas atau menambah satu dari sembilan. A‘syara al-qaum artinya kaum itu menjadi yang kesepuluh. (Tilka ‘asyarah kāmilah). ‘Asysyara mengambil sepersepuluh. Ṡaub ‘usyāri artinya baju yang panjangnya sepuluh hasta, gulām ‘usyāri artinya anak yang berusia sepuluh tahun. Puasa bulan Muharram disebut dengan puasa ‘asyurā' karena terjadi pada hari kesepuluh. Al-‘Isyār adalah sebutan untuk unta yang berusia sepuluh bulan (wa iża al-‘isyār ‘uṭṭilat).
Selain makna di atas, kata ‘asyara juga mengandung arti percampuran atau pergaulan. Mu‘āsyarah menunjukkan kepada sebuah kedekatan seperti persahabatan, pertemanan, dan pernikahan. Suami disebut ‘asyīr al-mar'ah karena dialah yang menggaulinya. Kata ma‘syar juga diartikan dengan kelompok, suku, kabilah, kaum, dan jamaah (yā ma‘syara al-jinn wa al-ins).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang kafir terhadap kerasulan Nabi Muhammad. Risalah yang dibawanya adalah penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. Oleh karena itu, hendaklah mereka mengambil iktibar kepada apa yang menimpa umat-umat terdahulu sebelum Muhammad.
Allah menjelaskan bahwa apa yang kaum kafir Mekah miliki baik kekayaan, kekuatan, keberanian, dan ilmu pengetahuan tidak melebihi dari mi‘syār (sepersepuluh) yang dimiliki oleh umat-umat terdahulu. Mereka lebih kaya, lebih luas ilmunya, lebih kuat fisiknya, tetapi karena membang-kang, akhirnya Allah menghancurkan mereka. Ini sebagai perumpamaan supaya orang kafir Mekah berpikir bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan saja tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap azab Allah, dan apa yang mereka miliki tidak bisa membantu, apalagi mereka yang kekayaannya tidak lebih dari sepersepuluh harta mereka, kekuatan yang tidak lebih dari sepersepuluh kekuatan mereka, dan ilmu pengetahuan yang tidak lebih dari sepersepuluh ilmu pengetahuan mereka. Maka tentunya suatu hal yang sangat mudah bagi Allah menimpakan kebinasaan kepada kaum kafir Mekah seperti kebinasaan umat-umat terdahulu.













































