وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّا رَجُلٌ يُّرِيْدُ اَنْ يَّصُدَّكُمْ عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُكُمْ ۚوَقَالُوْا مَا هٰذَآ اِلَّآ اِفْكٌ مُّفْتَرًىۗ وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۙ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
Wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin qālū mā hāżā illā rajuluy yurīdu ay yaṣuddakum ‘ammā kāna ya‘budu ābā'ukum, wa qālū mā hāżā illā ifkum muftarā(n), wa qālal-lażīna kafarū lil-ḥaqqi lammā jā'ahum, in hāżā illā siḥrum mubīn(un).
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, “Orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kamu dari apa yang biasa disembah oleh nenek moyangmu.” Mereka berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja.” Orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran (Al-Qur’an) ketika ia datang kepada mereka, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”
Bila pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan kedurhakaan kaum musyrik kepada Allah, maka pada ayat ini Dia menjelaskan kedurhakaan dan pengingkaran mereka kepada Rasulullah dan Al-Qur’an. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang dan jelas, mereka berkata, “Orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kamu dari menyembah apa yang selalu disembah oleh nenek moyangmu,” dan mereka berkata, “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan luar biasa yang diada-adakan saja oleh Muhammad.” Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran ketika kebenaran itu, yakni Al-Qur’an, datang kepada mereka, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Lihat Surah as-Saffat/37: 14/15 dan al-Qamar/54: 2).
Pada ayat ini dijelaskan dua tuduhan lebih lanjut pemuka kaum kafir Mekah terhadap Islam. Pertama, menuduh Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka dengan maksud menghalangi mereka menjalankan agama syirik yang diwarisi dari nenek moyang mereka. Maksudnya, Nabi Muhammad saw hanya manusia biasa, bukan malaikat, dan tidak memiliki keistimewaan berupa kekayaan, dan sebagainya. Tujuan Nabi Muhammad hanyalah menjauhkan mereka dari agama nenek moyang mereka. Dengan demikian, mereka memandang agama nenek moyang mereka itu lebih baik daripada agama yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Kedua, mereka menuduh Al-Qur’an sebagai suatu kebohongan yang dibuat-buat. Al-Qur’an itu hanyalah buatan Muhammad saw, bukan wahyu dari Allah swt, dan isinya tidak benar.
Di sisi lain, mereka melihat kenyataan bahwa banyak manusia yang tertarik pada Al-Qur’an. Mereka sendiri pun ketika membaca atau dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an juga merasa tertarik. Ketika melihat kandungan Al-Qur’an, mereka yakin bahwa itu tidak mungkin buatan Muhammad karena ia tidak belajar kepada siapa pun dan tidak bisa pula tulis baca. Mereka menjadi sadar bahwa tuduhan mereka terhadap Al-Qur’an itu salah. Kenyataan itu menghendaki mereka untuk mencari alasan lain. Akhirnya, mereka menuduh Al-Qur’an adalah sihir, dan karena pengaruhnya yang luar biasa, mereka menganggap sihirnya itu luar biasa hebatnya. Begitulah sifat orang kafir, ketika mereka tidak mampu lagi membantah kebenaran Al-Qur’an, mereka mencercanya dan mencari-cari alasan lain yang tak masuk akal, sebagaimana Allah berfirman:
وَاِذَا رَاَوْا اٰيَةً يَّسْتَسْخِرُو ْنَۖ ١٤ وَقَالُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ ۚ ١٥ (الصّٰۤفّٰت)
Dan apabila mereka melihat suatu tanda (kebesaran) Allah, mereka memperolok-olokkan. Dan mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (aṣ-Ṣāffāt/37: 14-15)
Firman-Nya juga:
وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ ٢ (القمر)
Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.” (al-Qamar/54: 2)
Mi‘syār مِعْشَار (Saba’/34: 45)
Kata mi‘syār adalah isim yang berasal dari kata ‘asyara yang merupakan angka hitungan setelah angka sembilan. Kata ini banyak dikaitkan dengan angka sepuluh. ‘Asyara mengambil satu dari sebelas atau menambah satu dari sembilan. A‘syara al-qaum artinya kaum itu menjadi yang kesepuluh. (Tilka ‘asyarah kāmilah). ‘Asysyara mengambil sepersepuluh. Ṡaub ‘usyāri artinya baju yang panjangnya sepuluh hasta, gulām ‘usyāri artinya anak yang berusia sepuluh tahun. Puasa bulan Muharram disebut dengan puasa ‘asyurā' karena terjadi pada hari kesepuluh. Al-‘Isyār adalah sebutan untuk unta yang berusia sepuluh bulan (wa iża al-‘isyār ‘uṭṭilat).
Selain makna di atas, kata ‘asyara juga mengandung arti percampuran atau pergaulan. Mu‘āsyarah menunjukkan kepada sebuah kedekatan seperti persahabatan, pertemanan, dan pernikahan. Suami disebut ‘asyīr al-mar'ah karena dialah yang menggaulinya. Kata ma‘syar juga diartikan dengan kelompok, suku, kabilah, kaum, dan jamaah (yā ma‘syara al-jinn wa al-ins).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang kafir terhadap kerasulan Nabi Muhammad. Risalah yang dibawanya adalah penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. Oleh karena itu, hendaklah mereka mengambil iktibar kepada apa yang menimpa umat-umat terdahulu sebelum Muhammad.
Allah menjelaskan bahwa apa yang kaum kafir Mekah miliki baik kekayaan, kekuatan, keberanian, dan ilmu pengetahuan tidak melebihi dari mi‘syār (sepersepuluh) yang dimiliki oleh umat-umat terdahulu. Mereka lebih kaya, lebih luas ilmunya, lebih kuat fisiknya, tetapi karena membang-kang, akhirnya Allah menghancurkan mereka. Ini sebagai perumpamaan supaya orang kafir Mekah berpikir bahwa orang-orang yang memiliki kelebihan saja tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadap azab Allah, dan apa yang mereka miliki tidak bisa membantu, apalagi mereka yang kekayaannya tidak lebih dari sepersepuluh harta mereka, kekuatan yang tidak lebih dari sepersepuluh kekuatan mereka, dan ilmu pengetahuan yang tidak lebih dari sepersepuluh ilmu pengetahuan mereka. Maka tentunya suatu hal yang sangat mudah bagi Allah menimpakan kebinasaan kepada kaum kafir Mekah seperti kebinasaan umat-umat terdahulu.










































