وَيَرَى الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّۙ وَيَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ
Wa yaral-lażīna ūtul-‘ilmal-lażī unzila ilaika mir rabbika huwal-ḥaqq(a), wa yahdī ilā ṣirāṭil-‘azīzil-ḥamīd(i).
Orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa (wahyu) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk ke jalan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
Dan berbeda dari sikap orang kafir yang mengingkari ayat-ayat Allah, orang-orang yang diberi ilmu, baik Ahlulkitab maupun orang mukmin, mereka berpendapat bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, itulah yang benar dan memberi petunjuk bagi manusia kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji zat dan perbuatan-Nya.
Allah menjelaskan bahwa berbeda dengan orang kafir yang tidak mau mempergunakan akal dan pikirannya dan secara apriori menolak apa yang diberitakan Al-Qur’an, sebagian Ahli Kitab, seperti Abdullah bin Salam, Ka‘ab, dan lainnya, mengakui bahwa apa yang diberitakan dalam Al-Qur’an tentang akan datangnya hari kiamat adalah benar dan tidak dapat diragukan lagi. Mereka juga mengakui bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah kepada jalan lurus yang harus dipedomani oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat undang-undang, peraturan, dan hukum yang sesuai dengan fitrah manusia dan lingkungan hidupnya serta pasti akan membawa kebahagiaan.
Lā Ya‘zubu لَايَعْزُبُ (Saba’/34: 3)
Kata lā ya‘zubu secara kebahasaan berarti tidak ada yang bersembunyi. Dalam konteks ayat di atas, sesungguhnya ayat ini menjadi bagian dari penjelas atau penguat ayat sebelumnya, terkait kekuasaan dan pengetahuan Allah yang luas tak terbatas. Dikatakan, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi atau tidak diketahui oleh Allah kendati sesuatu itu sekecil atom, baik itu di langit maupun di bumi. Bahkan, yang lebih kecil dari itu pun, pasti Allah mengetahuinya, karena telah termaktub dalam Lauḥ Maḥfūẓ.
Melalui kata ini, sesungguhnya Allah sedang menggambarkan keadaan orang-orang kafir yang tidak mengakui adanya hari kiamat. Allah mengetahui secara persis keingkaran dan segala kejelekan perilaku mereka di dunia fana ini, kendati keingkaran dan kejelekan itu sekecil atom, atau bahkan lebih kecil darinya. Allah pasti akan membalasnya di hari kebangkitan kelak.

















































