Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 24 - Surat Saba' (Saba')
سبأ
Ayat 24 / 54 •  Surat 34 / 114 •  Halaman 431 •  Quarter Hizb 44 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

۞ قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Qul may yarzuqukum minas-samāwāti wal-arḍ(i), qulillāh(u), wa innā au iyyākum la‘alā hudan au fī ḍalālim mubīn(in).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) benar-benar berada di dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.

Makna Surat Saba' Ayat 24
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Usai menegaskan bahwa sembahan selain Allah tidak mampu mendatangkan manfaat apa pun kepada penyembahnya, lalu Allah berfirman, “Katakanlah, wahai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu yang bersumber dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, ‘Allah yang memberi rezeki. Dan sesungguhnya kami, orang beriman, atau kamu, wahai kaum musyrik, pasti salah satu dari kita berada dalam kebenaran dengan kedudukan yang tinggi atau terjerumus dalam kesesatan yang nyata dengan kedudukan yang sangat hina.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah dengan perantaraan Nabi Muhammad menanyakan kepada kaum musyrik, siapakah yang memberi mereka rezeki dari langit dan bumi dengan menurunkan hujan, dan dengan air hujan itu bumi menjadi subur dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan untuk menjadi makanan bagi mereka dan binatang ternak. Mereka tentu tidak dapat menjawabnya. Walaupun mereka ingin mengatakan Allah, jawaban yang sesuai dengan hati nurani mereka, tetapi mereka menjawabnya berhala-berhala, jawaban yang sebetulnya bertentangan dengan hati nurani mereka yang membenarkan seruan Nabi Muhammad. Oleh sebab itu, mereka terdiam, tidak dapat memberikan jawaban apa pun. Demikianlah Allah memerintahkan kepada Muhammad bahwa yang memberi rezeki baik dari langit maupun bumi hanyalah Allah. Pertanyaan semacam ini disebut pula pada ayat lain yaitu:

قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۗقُلْ اَفَاتَّخَذْتُ مْ مِّنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّاۗ

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” (ar-Ra‘d/13: 16)

Allah lalu menyuruh Nabi Muhammad mengatakan kepada mereka setelah tidak dapat menjawab pertanyaan di atas, “Kami atau kamu pasti berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.” Inilah suatu cara berdiskusi yang amat halus dan tajam. Nabi tidak mengatakan bahwa kaum musyrik itulah yang sesat dan dirinya yang benar, tetapi dia menyatakan salah satu di antara keduanya pasti ada yang mengikuti jalan yang benar dan ada yang mengikuti jalan yang sesat. Ucapan ini pasti menarik lawan untuk berpikir siapa sebenarnya yang mendapat petunjuk dan siapa yang sesat, dan menghindari cara-cara yang keras karena akan mendatangkan jawaban yang keras pula. Kalau Nabi saw mengatakan dengan tegas bahwa merekalah yang sesat, tentu mereka akan menjawab dengan tegas bahwa Nabilah yang sesat.

Isi Kandungan Kosakata

Alḥaqtum أَلْحَقْتُمْ (Saba’/34: 27)

Kata alḥaqtum berasal dari kata laḥiqa yalḥaqu luḥūq. Kata yang terdiri dari huruf lam, ḥa, dan qaf memiliki arti menemukan dan mendapatkannya. Dari sini kemudian lahir makna menyusul dan mengikuti seperti doa ketika ziarah kubur, “Wa innā insyā Allah bikum lāḥiqūn”. Laḥaq juga berarti lampiran yang menyertai sebuah buku yang selesai ditulis. Laḥaq juga diartikan dengan sesuatu yang mengikuti baik pada binatang atau tumbuh-tumbuhan. Laḥaq dalam pohon diartikan dengan munculnya buah untuk kedua kalinya. Laḥiqa berarti bernisbat kepada, atau menimpanya dan mengikutinya. Inna ‘ażābaka bilkuffāri mulḥiq (sesungguhnya azab-Mu akan menimpa orang-orang kafir).

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang perintah-Nya kepada Nabi Muhammad agar menanyakan kepada kaum kafir untuk menjelaskan Tuhan yang mereka sembah. Tuhan yang mereka anggap sama atau mempunyai hubungan dengan Allah dan menjadikannya sebagai sekutu Allah. Pertanyaan yang diajukan meliputi siapa sebenarnya yang memberikan rezeki di langit dan di bumi, mereka pasti akan menjawab Allah-lah Sang Pemberi rezeki semua yang berada di langit dan di bumi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diperintahkan untuk meminta mereka memperlihatkan kepadanya sembahan-sembahan yang dihubungkan dengan Allah sebagai sekutu-Nya. Maka sekali-kali tidak mungkin, sebenarnya Dialah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto