قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Qul lā tus'alūna ‘ammā ajramnā wa lā nus'alu ‘ammā ta‘malūn(a).
Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami kerjakan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan.”
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Pada hari Kiamat nanti kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan jika kamu menganggap kami telah berbuat dosa karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan, yakni dosa kalian akibat durhaka kepada Allah.”(Lihat juga: Yunus/10: 41)
Pada ayat ini, Nabi Muhammad disuruh mengatakan kepada mereka bahwa masing-masing bertanggung jawab penuh atas segala perbuatannya. Kaum musyrik tidak bertanggung jawab atas perbuatan kaum Muslimin yang salah, demikian pula sebaliknya, kaum Muslimin pun tidak bertanggung jawab atas segala perbuatan kaum musyrik. Sebagian mufasir mengatakan bahwa orang-orang musyrik pernah menuduh Nabi saw dan orang-orang mukmin bahwa mereka telah berdosa besar karena murtad dan mengkhianati agama nenek moyang mereka. Sebagai jawaban atas tuduhan itu, dikemukakan bahwa kaum Muslimin memang bertanggung jawab atas segala dosa dan kesalahan mereka. Demikian pula kaum musyrikin bertanggung jawab pula sepenuhnya atas segala perbuatan mereka yang baik ataupun yang jahat. Pada ayat lain, Allah menyuruh Nabi mengucapkan kata-kata yang senada dengan ini, seperti firman-Nya:
وَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَكُمْ عَمَلُكُمْۚ اَنْتُمْ بَرِيْۤـُٔوْنَ مِمَّآ اَعْمَلُ وَاَنَا۠ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ ٤١ (يونس)
Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Yūnus/10: 41)
Alḥaqtum أَلْحَقْتُمْ (Saba’/34: 27)
Kata alḥaqtum berasal dari kata laḥiqa yalḥaqu luḥūq. Kata yang terdiri dari huruf lam, ḥa, dan qaf memiliki arti menemukan dan mendapatkannya. Dari sini kemudian lahir makna menyusul dan mengikuti seperti doa ketika ziarah kubur, “Wa innā insyā Allah bikum lāḥiqūn”. Laḥaq juga berarti lampiran yang menyertai sebuah buku yang selesai ditulis. Laḥaq juga diartikan dengan sesuatu yang mengikuti baik pada binatang atau tumbuh-tumbuhan. Laḥaq dalam pohon diartikan dengan munculnya buah untuk kedua kalinya. Laḥiqa berarti bernisbat kepada, atau menimpanya dan mengikutinya. Inna ‘ażābaka bilkuffāri mulḥiq (sesungguhnya azab-Mu akan menimpa orang-orang kafir).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang perintah-Nya kepada Nabi Muhammad agar menanyakan kepada kaum kafir untuk menjelaskan Tuhan yang mereka sembah. Tuhan yang mereka anggap sama atau mempunyai hubungan dengan Allah dan menjadikannya sebagai sekutu Allah. Pertanyaan yang diajukan meliputi siapa sebenarnya yang memberikan rezeki di langit dan di bumi, mereka pasti akan menjawab Allah-lah Sang Pemberi rezeki semua yang berada di langit dan di bumi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diperintahkan untuk meminta mereka memperlihatkan kepadanya sembahan-sembahan yang dihubungkan dengan Allah sebagai sekutu-Nya. Maka sekali-kali tidak mungkin, sebenarnya Dialah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.












































