قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
Qul yajma‘u bainanā rabbunā ṡumma yaftaḥu bainanā bil-ḥaqq(i), wa huwal-fattāḥul-‘alīm(u).
Katakanlah, “Tuhan kita (pada hari Kiamat) akan mengumpulkan kita, kemudian memutuskan (perkara) di antara kita dengan hak. Dialah Yang Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.”
Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Pada hari Kiamat, Tuhan kita, Allah, akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan adil. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan secara adil, Maha Mengetahui keputusan yang tepat.”
Kemudian Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada kaum musyrikin itu, “Allah akan mengumpulkan kita semua pada hari Kiamat dan di sanalah Dia akan memberi keputusan terhadap kita dan perbuatan kita dengan seadil-adilnya. Di sana akan jelas siapa di antara kita yang sesat dan siapa yang menempuh jalan yang lurus, siapa di antara kita yang salah dan siapa yang benar.”
Semua perbuatan hamba-Nya akan ditimbang dengan neraca keadilan. Perbuatan buruk akan dibalas dengan balasan yang setimpal dan perbuatan baik akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Hal ini disebut pula dengan jelas pada ayat lain, yaitu:
وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَفَرَّقُوْ نَ ١٤ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَهُمْ فِيْ رَوْضَةٍ يُّحْبَرُوْنَ ١٥ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَلِقَاۤئِ الْاٰخِرَةِ فَاُولٰۤىِٕكَ فِى الْعَذَابِ مُحْضَرُوْنَ ١٦ (الرّوم)
Dan pada hari (ketika) terjadi Kiamat, pada hari itu manusia terpecah-pecah (dalam kelompok). Maka adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Dan adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami serta (mendustakan) pertemuan hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam azab (neraka). (ar-Rūm/30: 14-16)
Di sanalah nanti Allah memberikan keputusan, tidak ada yang dapat membantah karena semua keputusan itu berdasarkan fakta-fakta yang nyata yang tidak dapat disangkal lagi. Allah Maha Mengetahui kapan vonis itu akan dijatuhkan-Nya, tidak ada seorang hamba pun yang dapat mengetahui, karena Dialah yang Maha Pemberi Keputusan dan Maha Mengetahui.
Alḥaqtum أَلْحَقْتُمْ (Saba’/34: 27)
Kata alḥaqtum berasal dari kata laḥiqa yalḥaqu luḥūq. Kata yang terdiri dari huruf lam, ḥa, dan qaf memiliki arti menemukan dan mendapatkannya. Dari sini kemudian lahir makna menyusul dan mengikuti seperti doa ketika ziarah kubur, “Wa innā insyā Allah bikum lāḥiqūn”. Laḥaq juga berarti lampiran yang menyertai sebuah buku yang selesai ditulis. Laḥaq juga diartikan dengan sesuatu yang mengikuti baik pada binatang atau tumbuh-tumbuhan. Laḥaq dalam pohon diartikan dengan munculnya buah untuk kedua kalinya. Laḥiqa berarti bernisbat kepada, atau menimpanya dan mengikutinya. Inna ‘ażābaka bilkuffāri mulḥiq (sesungguhnya azab-Mu akan menimpa orang-orang kafir).
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang perintah-Nya kepada Nabi Muhammad agar menanyakan kepada kaum kafir untuk menjelaskan Tuhan yang mereka sembah. Tuhan yang mereka anggap sama atau mempunyai hubungan dengan Allah dan menjadikannya sebagai sekutu Allah. Pertanyaan yang diajukan meliputi siapa sebenarnya yang memberikan rezeki di langit dan di bumi, mereka pasti akan menjawab Allah-lah Sang Pemberi rezeki semua yang berada di langit dan di bumi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diperintahkan untuk meminta mereka memperlihatkan kepadanya sembahan-sembahan yang dihubungkan dengan Allah sebagai sekutu-Nya. Maka sekali-kali tidak mungkin, sebenarnya Dialah Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.















































