قَالُوْا بَلْ اَنْتُمْ لَا مَرْحَبًاۢ بِكُمْ ۗ اَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوْهُ لَنَاۚ فَبِئْسَ الْقَرَارُ
Qālū bal antum lā marḥabam bikum, antum qaddamtumūhu lanā, fabi'sal-qarār(u).
Mereka (para pengikutnya) menjawab, “Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab. (Itulah) seburuk-buruk tempat menetap.”
Kelompok pengikut yang hendak masuk neraka itu menjawab “Sebenarnya kamulah yang lebih pantas untuk tidak menerima ucapan selamat datang dan penghormatan, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab neraka dengan mengajak kami berbuat dosa dan menghindari petunjuk Allah.” Maka neraka itulah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kembali mereka.
Mendengar ucapan itu, maka rombongan yang sedang digiring malaikat itu menjawab, “Sebenarnya kamulah yang lebih pantas mendapat celaka, karena kamulah yang menyesatkan kami dahulu, dan kamulah yang selalu mengajak serta mendorong kami untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mengakibatkan kami masuk neraka ini.”
Dalam ayat lain, Allah berfirman:
قَالَ ادْخُلُوْا فِيْٓ اُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ فِى النَّارِۙ كُلَّمَا دَخَلَتْ اُمَّةٌ لَّعَنَتْ اُخْتَهَا ۗ... ٣٨
Allah berfirman, “Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu.” Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya… (al-A‘rāf/7: 38)
Lain halnya penduduk surga, setiap ada rombongan yang masuk ke dalamnya, mereka selalu disambut dengan senang dan gembira, dalam suasana persaudaraan dan kasih sayang, dan kepada mereka diucapkan “salām”. Sungguh besar perbedaan antara penerimaan orang-orang beriman ketika mereka masuk surga dengan penerimaan orang-orang kafir ketika mereka masuk neraka.
1. Li aṭ-Ṭāgīn لِلطَّاغِيْنَ (Ṣād/38: 55)
Term li aṭ-ṭāgīn terdiri dari dua kata, yaitu li dan aṭ-ṭāgīn. Yang pertama (li) merupakan kata depan yang bersifat posesif dengan arti bagi. Sedang yang kedua (aṭ-ṭāgīn) merupakan bentuk fa‘il dari kata kerja ṭagā-yaṭgā, yang artinya berlebih-lebihan dalam kemungkaran. Dengan demikian li aṭ-ṭāgīn dapat diartikan bagi orang-orang yang berlebih-lebihan atau kelewat- batas dalam berbuat maksiat. Bagi mereka yang seperti ini hanya akan mendapat tempat yang paling buruk di akhirat kelak.
2. Ḥamīm wa Gassāq حَمِيْمٌ وَغَسَّاقٌ (Ṣād/38: 57)
Kata ḥamīm yang berarti air sangat panas berasal dari ḥamma-yaḥummu-ḥamman dan ḥamāman yang artinya panas.
Sedangkan kata gassāq terambil dari kata gasaqa yang biasa digunakan dalam arti mengalirnya cairan atau nanah dari luka. Atas dasar itu ia dipahami oleh banyak ulama dalam arti nanah. Ada juga yang memahaminya dalam arti air yang sangat dingin.
Jadi makna ḥamīm dan gassāq dalam ayat 57 Surah Ṣād tersebut adalah air yang sangat panas dan cairan nanah, atau air yang sangat panas dan sangat dingin, sebagai balasan atas para pendurhaka di dalam neraka.















































