قَالُوْا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِى النَّارِ
Qālū rabbanā man qaddama lanā hāżā fazidhu ‘ażāban ḍi‘fan fin-nār(i).
Mereka berkata (lagi), “Wahai Tuhan kami, siapa yang menjerumuskan kami ke dalam (azab) ini, tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam neraka.”
Demikianlah sergahan kelompok pengikut. Mereka berkata lagi seraya memohon kepada Allah, “Ya Tuhan kami, barang siapa mengajak kami memilih jalan kesesatan dan menjerumuskan kami ke dalam azab yang pedih dan berat ini, maka tambahkanlah azab kepadanya dua kali lipat di dalam neraka dan timpakanlah laknat yang besar atas mereka.” (Lihat Surah al-A’raf/7: 38; al-Ahzab/33: 67-68).
Bahkan penduduk neraka yang baru datang itu berdoa kepada Tuhan agar menambah azab yang berat kepada orang-orang yang telah menyesatkan mereka dengan mengatakan, “Wahai Tuhan kami, timpakanlah azab yang berlipat-ganda kepada pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama kami yang telah menyebabkan kami menderita karena azab yang berat ini.
Ayat lain yang searti dengan ayat ini firman Allah:
... رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ اَضَلُّوْنَا فَاٰتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِّنَ النَّارِ ەۗ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَعْلَمُوْنَ ٣٨
“…Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami. Datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.” (al-A‘rāf/7: 38)
1. Li aṭ-Ṭāgīn لِلطَّاغِيْنَ (Ṣād/38: 55)
Term li aṭ-ṭāgīn terdiri dari dua kata, yaitu li dan aṭ-ṭāgīn. Yang pertama (li) merupakan kata depan yang bersifat posesif dengan arti bagi. Sedang yang kedua (aṭ-ṭāgīn) merupakan bentuk fa‘il dari kata kerja ṭagā-yaṭgā, yang artinya berlebih-lebihan dalam kemungkaran. Dengan demikian li aṭ-ṭāgīn dapat diartikan bagi orang-orang yang berlebih-lebihan atau kelewat- batas dalam berbuat maksiat. Bagi mereka yang seperti ini hanya akan mendapat tempat yang paling buruk di akhirat kelak.
2. Ḥamīm wa Gassāq حَمِيْمٌ وَغَسَّاقٌ (Ṣād/38: 57)
Kata ḥamīm yang berarti air sangat panas berasal dari ḥamma-yaḥummu-ḥamman dan ḥamāman yang artinya panas.
Sedangkan kata gassāq terambil dari kata gasaqa yang biasa digunakan dalam arti mengalirnya cairan atau nanah dari luka. Atas dasar itu ia dipahami oleh banyak ulama dalam arti nanah. Ada juga yang memahaminya dalam arti air yang sangat dingin.
Jadi makna ḥamīm dan gassāq dalam ayat 57 Surah Ṣād tersebut adalah air yang sangat panas dan cairan nanah, atau air yang sangat panas dan sangat dingin, sebagai balasan atas para pendurhaka di dalam neraka.















































