اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ
In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).
(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali (sebagai) peringatan bagi semesta alam.
Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan dari Allah. Allah memenuhinya dengan petunjuk bagi seluruh alam, baik jin maupun manusia, menuju jalan yang lurus dan menjadikannya pembeda antara yang hak dan yang batil.
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an ini berisi petunjuk dan pengajaran bagi jin dan manusia. Semua orang yang sehat akal pikirannya, tentu mengakui kebenarannya. Al-Qur’an merupakan petunjuk ke jalan yang lurus dan pembeda antara yang hak dan yang batil.
Al-Mutakallifīn الْمُتَكَلِّفِ يْنَ (Ṣād/38: 86)
Kata al-mutakallifīn artinya orang-orang yang mengada-ada, terambil dari kata takallafa, yaitu membebani diri dengan sesuatu yang tidak mudah, karena sesuatu itu berada di luar bawaan atau sifat yang bersangkutan. Misalnya dengan berpura-pura mengetahui, padahal ia tidak tahu. Ulama menyebutkan tiga tanda bagi seseorang mutakallif, yaitu: melawan siapa yang berkedudukan lebih tinggi darinya, merindukan apa yang mustahil diraihnya, dan menyampaikan apa yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, maka penggalan ayat tersebut merupakan bantahan terhadap tuduhan kaum musyrikin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong, atau seorang yang mengada-ada. Ayat tersebut juga memberi isyarat bahwa ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bukanlah ajaran yang berat dan sulit dilaksanakan sehingga membebani seseorang. Jika ada salah satu ajarannya yang oleh situasi dan kondisi menjadikan pelakunya merasa sulit atau berat melakukannya, maka akan ditemukan tuntutan pengganti yang memudahkannya.

