قُلْ مَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ
Qul mā as'alukum ‘alaihi min ajriw wa mā ana minal-mutakallifīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.
Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir, “Aku diutus oleh Allah untuk mendakwahkan risalah dan aku tidak meminta imbalan atau upah sedikit pun kepadamu atasnya. Tugasku hanya-lah menyampaikan risalah dan Allah-lah yang akan memberiku upah atas tugas itu. Dan ketahuilah bahwa aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada dan suka membuat-buat.
Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa ia tidak mengharapkan apalagi meminta upah kepada mereka sebagai imbalan dari tugas menyampaikan agama Allah. Sedikit pun Rasul tidak mengharapkannya. Hanya Allah yang akan memberi upah padanya. Orang-orang telah mengenal rasul dengan sebaik-baiknya bahwa ia tidak pernah mengada-ada dan membuat yang bukan-bukan.
Dari ayat ini dipahami agar orang-orang yang beriman meniru apa yang telah diperbuat Rasulullah, yaitu selalu menyampaikan agama Allah kepada manusia, walaupun hanya sedikit yang diketahuinya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Ibnu Mas‘ūd berkata:
أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ عِلْمًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ: اَللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُلْ مَا أَسْئُلُكُمْ... الأية
Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kamu yang memperoleh pengetahuan, maka hendaklah ia mengatakannya. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui hendaklah ia menyatakan, “Allah Ta’ala lebih mengetahui,”. Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah saw, “Qul mā'as 'alukum . . .” sampai akhir ayat.”
Al-Mutakallifīn الْمُتَكَلِّفِ يْنَ (Ṣād/38: 86)
Kata al-mutakallifīn artinya orang-orang yang mengada-ada, terambil dari kata takallafa, yaitu membebani diri dengan sesuatu yang tidak mudah, karena sesuatu itu berada di luar bawaan atau sifat yang bersangkutan. Misalnya dengan berpura-pura mengetahui, padahal ia tidak tahu. Ulama menyebutkan tiga tanda bagi seseorang mutakallif, yaitu: melawan siapa yang berkedudukan lebih tinggi darinya, merindukan apa yang mustahil diraihnya, dan menyampaikan apa yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, maka penggalan ayat tersebut merupakan bantahan terhadap tuduhan kaum musyrikin bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pembohong, atau seorang yang mengada-ada. Ayat tersebut juga memberi isyarat bahwa ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bukanlah ajaran yang berat dan sulit dilaksanakan sehingga membebani seseorang. Jika ada salah satu ajarannya yang oleh situasi dan kondisi menjadikan pelakunya merasa sulit atau berat melakukannya, maka akan ditemukan tuntutan pengganti yang memudahkannya.

