قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li'aḥadim mim ba‘dī, innaka antal-wahhāb(u).
Dia berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
Dalam tobatnya dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dari dosa-dosaku yang menyebabkan Engkau menimpakan cobaan ini kepadaku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan agung yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.”
Allah lalu menjelaskan bahwa setelah Sulaiman sembuh dari sakitnya, ia menyadari kelemahan yang ada pada dirinya. Ia telah memilih hal yang kurang penting. Dia telah kehilangan waktu yang utama untuk melakukan ibadah karena menyaksikan latihan kuda.
Lalu Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar dianugerahi kerajaan yang tidak ada tandingannya, yang tak akan dimiliki oleh seorang jua pun sesudahnya. Dalam hadis Nabi saw diriwayatkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَى الْبَارِحَةِ لِيَقْطَعَ عَلَى صَلَاتِي فَأَمْكَنَنِي اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِى الْمَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوْا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَام: رَبِّ اغْفِر لِي وَهَبَ لِي مُلْكاً لَا يَنْبَغِي لأِحَدٍ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا. (رواه البخاري ومسلم)
Bahwa Nabi saw berkata, “Bahwa Ifrit dari golongan jin meludahi aku tadi malam agar aku membatalkan salatku namun Allah memberikan kekuatan kepadaku sehingga aku dapat menangkap jin itu. Aku bermaksud untuk mengikatnya di satu tiang dari tiang-tiang masjid sehingga kamu dapat melihatnya. Tapi aku teringat doa saudaraku Sulaiman, “Ya Allah ampunilah aku, dan berilah aku kekuatan yang tidak layak untuk diberikan kepada orang sesudahku.” Maka aku usir dia untuk menjauh. (Riwayat al- Bukhārī dan Muslim)
Nabi Sulaiman dibesarkan dalam lingkungan kerajaan dan kenabian. Sejak kecil ia terlatih sebagai seorang anak dari seorang raja dan nabi. Sulaiman pun mewarisi kemampuan keduanya dan Allah juga menganugerahkan kepadanya kemampuan itu. Itulah sebabnya maka Allah menganugerahkan kepadanya kerajaan yang sangat kuat dan kekayaan yang berlimpah ruah, yang tiada tandingannya.
Di akhir ayat Allah menyebutkan alasan yang dikemukakan Sulaiman dalam doanya yaitu karena Allah benar-benar akan mengabulkan doa setiap orang yang disertai usaha dan syarat kemampuan yang dimiliki sesuai dengan kehendak-Nya.
1. aṣ-Ṣāfināt al-Jiyād الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ (Ṣād/38: 31)
Term aṣ-ṣāfināt al-jiyād terdiri dari dua kata, yaitu aṣ-ṣāfināt dan al-jiyād. Yang pertama (aṣ-ṣāfināt) merupakan bentuk jamak dari ṣāfin, yang artinya kuda yang berdiri dengan tiga kaki, sedang yang satu terangkat dan hanya ujungnya yang menyentuh tanah. ṣāfin merupakan kata yang hanya dipergunakan untuk menyebut keadaan kuda dalam kondisi seperti yang telah disebutkan. Oleh karena itu, kata aṣ-ṣāfināt merupakan ajektif yang subjeknya tidak disebutkan, namun dapat diketahui bahwa subjeknya adalah kuda-kuda.
Sedang yang kedua (al-jiyād) merupakan bentuk jamak dari kata al-jawad, yang artinya kuda yang istimewa. Kata ini dapat pula berarti pemberian yang sangat banyak. Manusia yang sangat dermawan biasa disebut al-jawad. Kuda yang berlari sekuat tenaga disebut jawad, karena semua tenaganya dicurahkan untuk berlari.
aṣ-ṣāfināt al-jiyād, dengan demikian, dapat diartikan sebagai kuda-kuda istimewa yang dapat berlari kencang. Dalam ayat ini, kuda-kuda ini dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman, dan beliau sangat menyukainya. Karena asyik memperhatikan dan mengaguminya, beliau sampai lupa untuk mengingat (beribadah) kepada Tuhannya.
2. Jasadan جَسَدًا (Ṣād/38: 34)
Jasad artinya tubuh, yang dalam ayat ini adalah tubuh yang dicampakkan ke atas singgasana Nabi Sulaiman. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan jasad ini adalah patung dari ayah salah satu istri beliau yang atas izinnya dibuat agar si istri dapat mengenangnya. Patung ini disebut jasad dan dicampakkan, dalam arti diletakkan dengan mantap di sekitar singgasananya.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan jasad pada ayat ini adalah jasad Nabi Sulaiman sendiri pada saat ia menderita sakit parah. Seakan-akan ayat di atas mengungkapkan, ”Dan Kami mencampak-kannya di atas singgasananya, bagaikan satu jasad tanpa roh akibat sakit yang dideritanya.”
Ada pula yang mengartikan sebagai bentuk metafora, yaitu bahwa kewibawaan suatu singgasana itu berkaitan erat dengan sesuatu yang bersifat immaterial. Bila hal itu telah kehilangan substansi abstraknya, maka ia akan menjadi suatu bentuk material saja, atau dalam istilah ayat ini jasad tanpa roh, dan bentuk tanpa jiwa. Berkaitan dengan Nabi Sulaiman yang juga raja, bila sebelumnya memiliki singgasana yang sangat berwibawa, karena tergabung di atasnya kemuliaan kenabian dan keagungan kerajaan. Dengan keadaannya yang sedemikian, tidak seorangpun berani menentangnya. Namun demikian, kini singgasana itu tidak memiliki wibawa lagi, sehingga ada sesuatu yang dicampakkan ke atasnya tanpa keinginan Nabi Sulaiman. Yang sedemikian ini agar beliau mengetahui bahwa kekuasaan itu hanya bersumber dari Allah.
















































