قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
Qāla ana khairum minhu khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahū min ṭīn(in).
(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”
Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Iblis mengira api lebih baik daripada tanah karena api selalu membumbung sedangkan tanah selalu di bawah (Lihat Surah al-A’raf/7: 12).
Allah berkata kepada Iblis, “Hai Iblis, apa yang menyebabkanmu enggan sujud menghormati Adam, makhluk yang telah Aku ciptakan sendiri dengan kekuasaan-Ku? Aku sendirilah yang menciptakan Adam itu, bukan makhluk-Ku yang menciptakannya. Kenapa kamu berlaku angkuh dan sombong. Apakah kamu telah merasa dirimu lebih tinggi dan lebih terhormat di antara makhluk-makhluk yang telah Aku ciptakan, sehingga kamu berpendapat bahwa kamu berhak dan berwenang berbuat apa yang kamu inginkan?”
Iblis menjawab dan memberikan alasan pembangkangannya. Ia mengatakan bahwa ia lebih baik daripada Adam karena Allah menjadikannya dari api, sedang Adam dari tanah. Menurut Iblis, api lebih baik daripada tanah karena sifat api selalu meninggi dan tanah selalu di bawah. Padahal, materi asal itu tidak bisa dijadikan indikator kemuliaan makhluk. Kemuliaan itu tergantung pada ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Percakapan di atas disebutkan dalam firman Allah:
قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ ١٢
(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”(al-A‘rāf/7: 12).
1. Iblīs إِبْلِيْس (Ṣād/38: 74)
Kata iblīs jamaknya abālis dan abālisah diambil dari fi‘il ablasa yang berarti jahat, bersedih, bingung, dan putus asa. Asal katanya al-balas yang berarti orang yang jahat. Iblis diciptakan dari api dan berasal dari golongan jin, yakni makhluk halus yang tidak dapat ditangkap oleh indera biasa.
Iblis identik dengan setan, tetapi setan tidak hanya membangkang perintah Tuhan sebagaimana Iblis, tetapi juga sebagai penggoda manusia. Iblis sudah ada sebelum Nabi Adam diciptakan. Sedangkan setan adalah iblis dengan peran dan fungsi baru itu, hidup dalam kalangan manusia dan seusia dengan mereka. Dalam kisah-kisah penciptaan Adam disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Iblis. Iblis tidak saja mengingkari perintah Allah dan tidak mau menghormati Adam, tetapi juga terlibat dalam perdebatan panjang dengan Allah. Akan tetapi, ketika Adam dan Hawa telah tergoda dengan memakan buah terlarang, maka yang menggoda mereka itu tidak lagi disebut Iblis, melainkan setan. Karena keangkuhan dan kedurhakaannya, Iblis dilaknat oleh Allah sampai hari kemudian.
2. Yaum al-Waqt al-Ma‘lūm يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ (Ṣād/38: 81)
Kata-kata yaum al-waqt al-ma‘lūm artinya hari yang ditentukan, atau hari yang diketahui. Disebutkan dalam Surah Ṣād/38 ayat 81 sebagai jawaban Allah terhadap permohonan Iblis, agar ia diberi penangguhan, yakni dipanjangkan usianya ke satu waktu yang lama sampai waktu semua manusia dibangkitkan dari kubur, yakni hari Kiamat. Hari Kiamat adalah hari peniupan pertama sangkakala. Dinamakan hari yang maklum atau hari yang diketahui, karena hanya Allah-lah yang mengetahuinya, sebagaimana firman-Nya dalam banyak ayat Al-Qur’an. Iblis mengajukan permohonannya itu dengan tujuan memperoleh kesempatan untuk menggoda serta menjerumuskan manusia dan tentu saja ini hanya dapat dilakukannya sebelum manusia mengalami kematian.













































