مَنْ اَعْرَضَ عَنْهُ فَاِنَّهٗ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وِزْرًا
Man a‘raḍa ‘anhu fa innahū yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā(n).
Siapa yang berpaling darinya (Al-Qur’an), sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat.
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan tuntunan dan petunjuk bagi mereka yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat. Tuntunan dan petunjuk itu harus mereka ikuti dan pegang teguh. Barang siapa berpaling dari tuntunan dan petunjuk Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat yang akan menyebabkannya menerima azab.
Siapa yang berpaling dari ajaran Al-Qur’an padahal sudah jelas baginya bahwa ia adalah wahyu dari Allah dan tidak dapat disangkal lagi kebenarannya maka penolakannya terhadap ajaran itu adalah semata-mata karena memperturutkan hawa nafsu, atau karena takut kehilangan pengaruh, kedudukan dan sebagainya. Orang-orang seperti itu sudah wajar bila dianggap sebagai orang yang keras kepala, orang-orang yang sesat dan tidak mau menerima kebenaran, maka Allah tidak akan mengampuninya dan pada hari Kiamat nanti dia akan memikul dosa keingkaran dan kesombongannya, dosa yang paling besar dan paling berat dan hampir-hampir tidak sanggup dia memikulnya. Dia akan dilemparkan ke neraka Jahanam, dia kekal di sana selama-lamanya, dan ditimpakan kepadanya azab yang amat pedih sesuai dengan keingkaran dan kedurhakaannya. Sungguh amat beratlah dosa yang dipikulnya dan amat pedihlah siksaan yang diterimanya.
1. Zurqa زُرْقاً (Ṭāhā/20:102)
Zurq secara harfiyah berarti “berwarna biru”. Yang dimaksudkan adalah bahwa mata orang-orang yang bergelimang dosa ketika digiring ke depan pengadilan Allah nanti di hari kiamat akan membiru akibat dahaga yang amat sangat. Mata itu tidak lagi bercahaya, bahkan buta, karena hebatnya penderitaan.
2. Yatakhāfatūn يَتَخَافَتُوْن َ (Ṭāhā/20:103)
Yatakhāf atūn dari akar kata khafata artinya “berbisik-bisik”. Dalam Surah Ṭāhā/20:103, maksud kata itu adalah bahwa orang-orang yang bergelimang dosa pada saat pengadilan Allah nanti di padang mahsyar akan berbisik-bisik sesama mereka, bahwa mereka pernah hidup di dunia hanya selama sepuluh hari. Hal itu karena dahsyatnya hari kemudian itu sehingga mereka lupa masa sebenarnya mereka dulu di dunia. Mereka sesungguhnya cukup lama hidup di dunia. Waktu itu sesungguhnya cukup untuk menyiapkan diri bagi kehidupan di akhirat itu. Tetapi mereka lalai. Karena itulah dengan perasaan singkatnya hidup di dunia, mereka ingin kembali ke dunia untuk bisa mengerjakan amal kebajikan. Tetapi hal itu tidak mungkin lagi. Allah menegaskan bahwa walaupun mereka berbisik-bisik, Ia tahu apa yang mereka perbisikkan.


















