Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 88 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 88 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 318 •  Quarter Hizb 32.5 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

فَاَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى ەۙ فَنَسِيَ ۗ

Fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahū khuwārun fa qālū hāżā ilāhukum wa ilāhu mūsā, fa nasiy(a).

(Dari perapian itu) kemudian dia (Samiri) mengeluarkan untuk mereka patung berwujud anak sapi yang bersuara.478) Mereka lalu berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa (bahwa Tuhannya di sini).”

Makna Surat Taha Ayat 88
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kemudian dia, yaitu Samiri, mengeluarkan dan menciptakan patung anak sapi yang bertubuh dan bersuara dari perhiasan itu untuk mereka, maka mereka berkata sambil menunjuk ke arah patung anak sapi itu, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia pergi dan telah lupa bila Tuhannya ada di sini.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian Samiri mengeluarkan dari lubang itu sebongkah emas berbentuk anak sapi dan mengeluarkan bunyi seperti suara sapi. Memang Samiri adalah seorang ahli; dan dia dapat membuat pipa dalam patung itu sehingga apabila angin berhembus keluarlah suara anak sapi. Samiri mengatakan kepada kami bahwa inilah tuhan yang sebenarnya tuhan kita semua dan juga tuhan Musa, dialah yang akan kita sembah dan kita puja, kepadanyalah kita memohonkan sesuatu bila kita menginginkan atau memerlukannya. Samiri mengatakan pula bahwa engkau hai Musa naik ke gunung itu untuk menemui Tuhan padahal tuhan yang akan ditemui Musa itu ada di sini. Sungguh Musa itu amat pelupa sehingga ia berpayah-payah mencari sesuatu ke tempat yang jauh padahal yang dia cari itu berada di sini.

Isi Kandungan Kosakata

1. As-Sāmiriy اَلسَّامِرِيّ (Ṭāhā/20: 85)

Pendapat para ahli dan para mufasir mengenai kata “samiri” ini sangat beragam. Di antaranya ada yang mengatakan, bahwa samiri kata nisbah, yakni orang dari Samirah di Palestina. Tetapi ini tidak mungkin, karena pada zaman Musa kota itu belum ada (An-Najjar). Pendapat lain mengatakan (Muhammad Asad), Samaritan, “orang dari Samirah di Palestina; orang yang suka memberi pertolongan.” Asy-Syaukani (Fathul Qadir) berpendapat bahwa Samiri itu nama kabilah, Samirah, yang biasa menyembah sapi. Lahirnya ia menganut agama Yahudi, tapi hatinya tetap sebagai penyembah sapi.

Mengenai Musa terlambat memenuhi perjanjian dengan mereka, versi Bibel mengatakan, bahwa karena mereka masih menyimpan perhiasan, sedang itu haram bagi mereka. Maka dimintanya mereka melemparkan perhiasan-perhiasan itu ke dalam api. Pendapat agak berbeda dan agak panjang terdapat dalam Tafsir Yusuf Ali: Siapa Samiri ini? Kalau itu nama pribadi, untuk mendekati arti akar kata aslinya cukup dengan menambahkan kata sandang pada kata itu… Untuk “Samiri” apa akar katanya? Kalau kita melihat kata Mesir kuno, kita mengenal kata Shemer = orang asing (Egyptian Hieroglyphic Dictionary, Sir E. A. Wallis Budge, 1820, h. 815b). Karena orang-orang Israil baru saja meninggalkan Mesir, di antara mereka yang sudah menjadi orang Mesir mungkin sudah biasa memakai julukan demikian. Bahwa nama Semer (Shemer), yang kemudian bukan tidak dikenal di kalangan orang-orang Ibrani, dapat dilihat dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Raja-raja I, xvi. 24 kita baca, bahwa Omri, raja Israil belahan utara kerajaan yang sudah dibagi, yang berkuasa sekitar 903-896 Pra-Masehi, membangun sebuah kota baru, Samaria, di atas bukit yang dibelinya dari Semer, pemilik bukit itu… Kalau akar kata itu yang berasal dari bahasa Mesir tak dapat diterima, kita dapat melihat kata “shomer,” yang berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti pengawal, penjaga; serumpun dengan bahasa Arab samara, yasmuru, berjaga, bergadang malam hari, mengobrol malam hari; samir, orang yang bergadang malam hari. Samiri mungkin seorang penjaga malam, sebagai kenyataan atau sebagai julukan, dengan harga dua talenta perak. Lihat juga buku Renan History of Israel, ii. 210.

2. Khuwārun خُوَارٌ (Ṭāhā/20: 88)

Khuwārun, yakhūru, khuwāran, arti harfiah: lenguh, denguh, tenguh, bunyi sapi, kerbau. Sudah banyak sekali takhayul yang membumbui cerita sekitar Samiri dan kata “khuwar” ini, termasuk ada beberapa mufasir klasik yang juga ikut terbawa. Tetapi rasanya kita tidak perlu merinci semua itu. Di dalam Al-Qur’an kata ini terdapat dalam dua ayat, al-A’raf/7: 148, dan Taha/20: 88, yang melukiskan patung anak sapi yang terbuat dari emas itu dapat melenguh seperti bunyi sapi. Bagaimana mungkin anak sapi atau lembu yang terbuat dari benda dapat bersuara, melenguh seperti lenguhan anak sapi. Jelas ini suatu tipuan, yang sudah menjadi kepandaian pendeta-pendeta Isis, dewi Mesir dan permaisuri Osiris, dalam agama Mesir kuno. Salah satu di antaranya, dengan cara menempatkan orang bersembunyi di balik patung-patung itu dan menirukan suara lembu, lalu disuguhkan untuk masyarakat awam yang memang mudah percaya. Untuk itu tentu mereka sudah menyiapkan tempatnya. Ada juga yang mengatakan, bahwa karena kepandaian tukang emas ia dapat membuat lubang dari dubur patung itu dan keluar dari mulutnya. Bila angin bertiup, maka terdengarlah suara menyerupai lenguhan sapi keluar dari mulut patung anak sapi itu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto