قَالُوْا لَنْ نُّؤْثِرَكَ عَلٰى مَا جَاۤءَنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ اَنْتَ قَاضٍۗ اِنَّمَا تَقْضِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۗ
Qālū lan nu'ṡiraka ‘alā mā jā'anā minal-bayyināti wal-lażī faṭaranā faqḍi mā anta qāḍ(in), innamā taqḍī hāżihil-ḥayātad-dun-yā.
Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami (melalui Musa) dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan! Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan (perkara) dalam kehidupan dunia ini.
Para penyihir tidak takut pada ancaman Fir’aun. Mereka berkata, “Wahai Fir’aun, kami tidak akan memilih untuk lebih tunduk kepadamu daripada sebagian bukti-bukti nyata atau mukjizat yang telah datang kepada kami melalui Nabi Musa. Dan kami juga tidak akan mengutamakanmu sebagai sesembahan atas Allah yang telah menciptakan kami. Maka, putuskanlah yang hendak engkau putuskan dan lakukanlah apa saja yang ingin kaulakukan terhadap kami. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kekuasaanmu tidak akan berlanjut hingga akhirat nanti.
Ayat ini menerangkan bahwa ancaman Fir‘aun itu tidak digubris oleh ahli-ahli sihir yang telah beriman kepada Musa, dan tidak ada pengaruhnya sedikit pun kepada mereka. Mereka tidak akan kembali menganut kepercayaan yang sesat, tetapi mereka akan tetap beriman kepada Musa berdasarkan bukti-bukti yang nyata yaitu mukjizat yang disaksikannya pada tongkat Musa yang datangnya dari Allah, Tuhan yang telah menciptakan mereka. Mereka tidak akan goyah dan bergeser dari kepercayaan yang dianutnya sekarang ini apapun yang akan diperbuat Fir‘aun terhadap mereka. Mereka berpendirian bahwa kalaupun Fir‘aun dapat melaksanakan ancamannya itu hanya di dunia ini, karena Fir‘aun hanya dapat melakukan kekejaman dan kezalimannya di dunia yang fana ini, tetapi mereka lebih mengutamakan dan mengharapkan balasan yang menyenangkan di akhirat nanti, tempat yang kekal dan abadi.
1. Wa la’uṣallibannakum وَلَأُصَلِّبَن َّكُمْ (Ṭāhā/20: 71)
Secara etimologis, la’uṣallibannakum berarti ‘‘sungguh akan aku salib kalian.” Dalam kontek ayat di atas, kata la’uṣallibannakum menggambarkan kemarahan Fir‘aun yang luar biasa kepada tukang-tukang sihirnya. Karena sihir-sihir mereka berhasil dilumpuhkan mukjizat Nabi Musa, mereka lantas berbondong-bondong membenarkan kenabian Musa dan menjadi pengikutnya. Kenyataan ini memantik kemarahan Fir‘aun. Mereka pun diancam hukuman mati dengan cara disalib di pangkal pohon kurma (fī jużu’ al-nakhl). Dari perkataan Fir‘aun ini bisa diketahui bentuk-bentuk siksaan yang diberlakukan kepada lawan-lawan politiknya.
3. Nu’ṡiruka نُؤْثِرُكَ (Ṭāhā/20: 72)
Secara etimologis, nu’ṡiruka berarti memilih atau memutuskan sesuatu. Dalam kontek ayat di atas, kata nu’ṡiruka menggambarkan penolakan keras tukang-tukang sihir Fir‘aun atas permintaannya supaya mereka tidak mengikuti Nabi Musa. Kendati mereka diancam hukum potong tangan dan kaki secara bersilang, dan disalib di pangkal pohon kurma, mereka kukuh tidak akan meninggalkan keyakinan mereka yang baru terhadap kebenaran Nabi Muda. Mereka mengatakan, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu (Fir‘aun) atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami.”
3. Faqḍi فَاقْضِ (Ṭāhā/20: 72).
Secara etimologis, faqḍi yang berbentuk fi’il amar berarti putuskanlah! Dalam konteks ayat di atas, kata ini menggambarkan keberanian mantan tukang-tukang sihir Fir‘aun itu menentang Fir‘aun. Kendati ancamannya dibunuh, mereka tegar. Bahkan mereka menantang dengan gagah berani, supaya Fir‘aun melaksanakan ancamannya itu. “Sesungguhnya engkau (Fir‘aun) hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini,” tantang mereka penuh keberanian. Dari pernyataan tukang sihir ini terlihat bahwa keimanan yang sudah tertanam dalam hati seseorang tidak akan tergoyahkan oleh kekuatan apapun.

