اِنَّآ اٰمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطٰيٰنَا وَمَآ اَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِۗ وَاللّٰهُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
Innā āmannā birabbinā liyagfira lanā khaṭāyānā wa mā akrahtanā ‘alaihi minas-siḥr(i), wallāhu khairuw wa abqā.
Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni semua kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Allah lebih baik dan lebih kekal.”
Wahai Fir’aun, kami benar-benar telah beriman dan akan memegang teguh kepercayaan kami kepada Tuhan Pencipta kami yang selama ini kami durhakai dan ingkari. Kami beriman dengan harapan agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami yang telah mempersekutukan-Nya dan mengampuni dosa kami karena telah mempelajari dan mempraktikkan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik pahala-Nya kepada orang yang taat daripada balasanmu kepada kami, dan Dia lebih kekal kekuasaan serta azab-Nya bagi pendurhaka dibanding siksamu.
Ahli-ahli sihir Fir‘aun telah bertekad bulat untuk beriman kepada Allah. Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang telah banyak berbuat baik kepada mereka selama hidupnya. Apapun yang akan terjadi, apapun yang akan menimpa diri mereka, mereka berharap mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya, terutama dosa sihir yang telah diperintahkan oleh Fir‘aun melakukannya. Ayat ini ditutup dengan satu penegasan bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi pahala kepada orang-orang yang taat kepada perintah-Nya, dan lebih pedih serta kekal azab-Nya kepada orang yang berbuat maksiat, melanggar perintah-Nya, dan sekaligus sebagai jawaban dari ucapan Fir‘aun yaitu, “Sesungguhnya akan kamu ketahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.”
1. Wa la’uṣallibannakum وَلَأُصَلِّبَن َّكُمْ (Ṭāhā/20: 71)
Secara etimologis, la’uṣallibannakum berarti ‘‘sungguh akan aku salib kalian.” Dalam kontek ayat di atas, kata la’uṣallibannakum menggambarkan kemarahan Fir‘aun yang luar biasa kepada tukang-tukang sihirnya. Karena sihir-sihir mereka berhasil dilumpuhkan mukjizat Nabi Musa, mereka lantas berbondong-bondong membenarkan kenabian Musa dan menjadi pengikutnya. Kenyataan ini memantik kemarahan Fir‘aun. Mereka pun diancam hukuman mati dengan cara disalib di pangkal pohon kurma (fī jużu’ al-nakhl). Dari perkataan Fir‘aun ini bisa diketahui bentuk-bentuk siksaan yang diberlakukan kepada lawan-lawan politiknya.
3. Nu’ṡiruka نُؤْثِرُكَ (Ṭāhā/20: 72)
Secara etimologis, nu’ṡiruka berarti memilih atau memutuskan sesuatu. Dalam kontek ayat di atas, kata nu’ṡiruka menggambarkan penolakan keras tukang-tukang sihir Fir‘aun atas permintaannya supaya mereka tidak mengikuti Nabi Musa. Kendati mereka diancam hukum potong tangan dan kaki secara bersilang, dan disalib di pangkal pohon kurma, mereka kukuh tidak akan meninggalkan keyakinan mereka yang baru terhadap kebenaran Nabi Muda. Mereka mengatakan, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu (Fir‘aun) atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami.”
3. Faqḍi فَاقْضِ (Ṭāhā/20: 72).
Secara etimologis, faqḍi yang berbentuk fi’il amar berarti putuskanlah! Dalam konteks ayat di atas, kata ini menggambarkan keberanian mantan tukang-tukang sihir Fir‘aun itu menentang Fir‘aun. Kendati ancamannya dibunuh, mereka tegar. Bahkan mereka menantang dengan gagah berani, supaya Fir‘aun melaksanakan ancamannya itu. “Sesungguhnya engkau (Fir‘aun) hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini,” tantang mereka penuh keberanian. Dari pernyataan tukang sihir ini terlihat bahwa keimanan yang sudah tertanam dalam hati seseorang tidak akan tergoyahkan oleh kekuatan apapun.






















