فَأْتِيٰهُ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلَا رَبِّكَ فَاَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ وَلَا تُعَذِّبْهُمْۗ قَدْ جِئْنٰكَ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ ۗوَالسَّلٰمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى
Fa'tiyāhu fa qūlā innā rasūlā rabbika fa arsil ma‘anā banī isrā'īl(a), wa lā tu‘ażżibhum, qad ji'nāka bi'āyatim mir rabbik(a), was-salāmu ‘alā manittaba‘al-hudā.
Maka, datanglah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu. Lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka.470) Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Kamu berdua ada dalam lindungan-Ku, maka janganlah takut. Pergilah kamu berdua kepadanya dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu yang telah menganugerahkan beragam nikmat kepadamu, wahai Fir’aun. Dia juga Tuhan kami dan Bani Israil. Kami mengajakmu beriman kepada-Nya, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami agar kita semua menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, dan janganlah engkau menyiksa mereka seperti yang selama ini kaulakukan. Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan membawa bukti nyata tentang risalah kami dari Tuhanmu, yakni berupa tongkat yang dapat berubah wujud menjadi ular dan tangan yang bersinar. Dan ketahuilah, wahai Fir’aun, keselamatan itu akan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan oleh rasul-Nya.
Allah memerintahkan lagi supaya Musa dan Harun a.s. pergi kepada Fir‘aun dan memberitahukan bahwa mereka berdua adalah Rasul Allah yang diutus kepadanya untuk menyampaikan risalah yang hak supaya Fir‘aun mengetahui kedudukan dan tugas keduanya. Sebelum Musa dan Harun mengajak Fir‘aun beriman kepada Allah, keduanya meminta kepada Fir‘aun, supaya dia membebaskan Bani Israil dari penyiksaan dan penindasannya, membebaskan dari kerja berat, seperti menggali, membangun, mengangkat batu, baik laki-laki maupun perempuan. Fir‘aun agar membiarkan Bani Israil pergi ke Palestina.
Sesudah itu barulah Musa dan Harun a.s. menjelaskan tugas dan ke-wajiban dari Allah bahwa keduanya datang untuk menjelaskan hujjah-hujjah dan bukti-bukti yang nyata atas kebenaran kerasulan mereka. Kebahagiaan, kesejahteraan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang taat kepada rasul-rasul Allah, dan mempercayai tanda-tanda kekuasaan-Nya, serta menjauhi hal-hal yang buruk dan menyesatkan. Ucapan seperti tersebut dipergunakan juga oleh Nabi Muhammad ketika mengirim surat berisi dakwah ke Heraclius raja Rumawi, sebagai berikut:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ اِلَى هِرَقْلَ عَظِيْمِ الرُّوْمِ، سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى،اَمَّ ا بَعْدُ، فَاِنِّيْ اَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ اْلاِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللّٰهُ اَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن عباس )
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Heraclius, penguasa negeri Romawi. Keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Adapun sesudah itu, sesungguhnya saya menyerumu kepada Islam. Anutlah agama Islam supaya engkau selamat, Allah akan memberimu pahala dua kali lipat.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)
1. Lā Taniyā لاَ تَنِيَا (Ṭāhā/20: 42)
تنيا لا (lā taniyā) artinya jangan kamu berdua lalai dan lemah, terambil dari kata وَنى ينى artinya melemah, tidak bersegera atau tidak memperhatikan.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun yang dipilihnya sebagai pembantunya untuk menghadap Fir‘aun dengan membawa serta semua mukjizat yang Allah anugerahkan kepada Nabi Musa sebagai tanda kekuasaan Allah. Allah juga memerintahkan kepada keduanya untuk tidak lalai, lemah dan terlena dalam mengingat Allah.
2.Yafruṭ يَفْرُطْ (Ṭāhā/20: 45)
يفرط (yafruṭ), terambil dari kata فرط (faraṭa) yang berarti mendahului. Yang dimaksud mendahului dalam ayat ini adalah bersegera menyiksa. Makna ini dipahami dari adanya rasa takut pada diri Nabi Musa dan Harun terhadap Fir‘aun yang akan melampaui batas dalam menyiksa keduanya, jika keduanya datang menghadap Fir‘aun untuk menyampaikan risalah kenabiannya, karena keduanya sadar, apa yang akan mereka sampaikan mengancam kekuasaan Fir‘aun.
3. Layyinan لَيِّنًا (Ṭāhā/20: 44)
لينا (layyinan) arti kata al-layyin adalah lembut lawan dari الحشونة atau kasar. Kata al-layyin biasa digunakan untuk tubuh, tetapi kemudian digunakan juga untuk akhlak, seperti firman Allah pada Āli ‘Imrān/3:159, layyin juga digunakan untuk kulit dan hati, seperti pada az-Zumar/39: 23. Dengan kata-kata seperti pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mengajak Fir‘aun beriman dengan kata-kata yang lemah lembut. Perintah ini menjadi dasar tentang perlunya bersikap bijaksana dalam berdakwah dengan cara menyampaikan materi dakwah dengan kata-kata yang lembut penuh dengan sopan santun.

























