اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ
Iżhab anta wa akhūka bi'āyātī wa lā taniyā fī żikrī.
Pergilah engkau beserta saudaramu dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan)-Ku dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku.
Allah melanjutkan perintah-Nya kepada Nabi Musa, “Wahai Nabi Musa, pergilah engkau beserta saudaramu, Harun, dengan membawa tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Ku, yaitu mukjizat yang pernah engkau saksikan, dan janganlah kamu berdua lalai, bosan, dan enggan mengingat- Ku, baik dalam perjalanan atau saat berada di Mesir.
Ayat ini menerangkan bahwa Allah memerintahkan Musa bersama saudaranya Harun agar pergi kepada Fir‘aun dan kaumnya dengan membawa bukti-bukti dan mukjizat-mukjizat yang telah diperlihatkan kepadanya seperti berubahnya tongkat menjadi ular besar yang gesit, merayap kesana kemari, keluarnya tangan Musa dari ketiaknya dalam keadaan putih bersih bercahaya seperti matahari tak bercacat untuk dijadikan hujjah dan alasan atas kebenaran kenabiannya.
Dalam ayat ini pun Allah memperingatkan Musa dan Harun supaya dalam melaksanakan dakwah dan menyampaikan risalah Tuhannya kepada Fir‘aun dan kaumnya hendaklah bersungguh-sungguh dan jangan lalai. Musa diperintahkan untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Allah mengutus keduanya kepada mereka ialah untuk memberikan kabar gembira atas pahala yang telah disediakan bagi orang yang menyambut baik seruannya, dan memberi ancaman yang pedih bagi orang yang membangkang dan tidak mau menerimanya.
1. Lā Taniyā لاَ تَنِيَا (Ṭāhā/20: 42)
تنيا لا (lā taniyā) artinya jangan kamu berdua lalai dan lemah, terambil dari kata وَنى ينى artinya melemah, tidak bersegera atau tidak memperhatikan.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun yang dipilihnya sebagai pembantunya untuk menghadap Fir‘aun dengan membawa serta semua mukjizat yang Allah anugerahkan kepada Nabi Musa sebagai tanda kekuasaan Allah. Allah juga memerintahkan kepada keduanya untuk tidak lalai, lemah dan terlena dalam mengingat Allah.
2.Yafruṭ يَفْرُطْ (Ṭāhā/20: 45)
يفرط (yafruṭ), terambil dari kata فرط (faraṭa) yang berarti mendahului. Yang dimaksud mendahului dalam ayat ini adalah bersegera menyiksa. Makna ini dipahami dari adanya rasa takut pada diri Nabi Musa dan Harun terhadap Fir‘aun yang akan melampaui batas dalam menyiksa keduanya, jika keduanya datang menghadap Fir‘aun untuk menyampaikan risalah kenabiannya, karena keduanya sadar, apa yang akan mereka sampaikan mengancam kekuasaan Fir‘aun.
3. Layyinan لَيِّنًا (Ṭāhā/20: 44)
لينا (layyinan) arti kata al-layyin adalah lembut lawan dari الحشونة atau kasar. Kata al-layyin biasa digunakan untuk tubuh, tetapi kemudian digunakan juga untuk akhlak, seperti firman Allah pada Āli ‘Imrān/3:159, layyin juga digunakan untuk kulit dan hati, seperti pada az-Zumar/39: 23. Dengan kata-kata seperti pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mengajak Fir‘aun beriman dengan kata-kata yang lemah lembut. Perintah ini menjadi dasar tentang perlunya bersikap bijaksana dalam berdakwah dengan cara menyampaikan materi dakwah dengan kata-kata yang lembut penuh dengan sopan santun.

















