وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى
Wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan ṡummahtadā.
Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.
Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertobat dari kekafiran yang dilakukannya, dan beriman kepada-Ku serta selalu berbuat kebajikan sesuai tuntunan-Ku dan rasul-Ku, kemudian tetap konsisten dalam petunjuk dan teguh melaksanakannya.”
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Maha Pengampun bagi orang yang bertobat dari perbuatan syirik, membersihkan dirinya dari dosa, ikhlas dan amalnya dikerjakan semata-mata karena Allah, menunaikan kewajiban-Nya, mejauhi kemaksiatan, istiqamah ibadahnya sampai ia meninggal, dan memenuhi perintah Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
وَاعْبُ ْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖࣖ ٩٩
Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. (al-Ḥijr/15: 99)
1. Yabasā يَـبَسًا (Ṭāhā/20: 77).
Secara etimologis, yabasā berarti kering atau tidak berair. Dalam konteks ayat di atas, kata yabasā ‘dialamatkan’ kepada Nabi Musa. Maksudnya, setelah kemenangan tanding Nabi Musa melawan tukang-tukang sihir Fir‘aun, maka Nabi Musa dan pengikut-pengikut barunya dikejar-kejar Fir‘aun dan tentaranya. Ketika sampai di tepi laut, Nabi Musa mendapat perintah dari Allah untuk memukulkan tongkatnya ke laut sehingga airnya kering. Dengan demikian, pengikut-pengikut Musa bisa melewatinya untuk menghindari kejaran pasukan musuh.
2. Darakā دَرَكًا (Ṭāhā/20: 77)
Secara etimologis, darakā berarti tersusul atau terkejar. Dalam konteks ayat di atas, setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut dan air laut menjadi kering, maka Allah memerintahkan Nabi Musa beserta pengikut-pengikutnya untuk melintasi laut yang kering itu. Allah Swt lantas berfirman: dan la takhāfu darakā (Engkau tidak perlu takut tersusul oleh rombongan Fir‘aun). Dan memang, Nabi Musa beserta pengikut-pengikutnya tidak berhasil disusul rombongan Fir‘aun.
3. Aṭ-Ṭūril-Aiman اَلطُّوْرِ اْلأَيْمَنْ (Ṭāhā/20: 80)
Artinya Di sebelah kanan Gunung Sinai (Jabal Musa) tempat Nabi Musa dan kaumnya mendapat janji dari Allah setelah Fir‘aun ditenggelamkan, juga tempat ia menerima Taurat setelah keluar (eksodus) dari Mesir. Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israil di tempat itu. Atau Di sebelah kanan Gunung Sinai mungkin berarti, bahwa Nabi Musa mendengar suara dari sebelah kanan ketika ia menghadap Gunung Sinai itu (19: 52). Dan dari sinilah dimulai sejarah Musa dalam kehidupan rohaninya. Dalam penafsiran lain, “kanan” diartikan sebagai kiasan dalam bahasa Arab, yakni di bagian yang mendapat berkah atau daerah suci.
Orang-orang Yahudi golongan Samiri beranggapan, bahwa Gunung Sinai ini di Nablus dan mereka menamakannya Gunung Tur. Konon setiap tahun mereka naik ke Gunung itu dan mengadakan perayaan dengan menyembelih kurban di tempat tersebut (al-Qāsimī).
4. Gaḍabī غَضَبِيْ (Ṭāhā/20: 81)
Secara etimologis, gaḍabī berarti kemarahanku atau murkaku. Dalam kontek ayat di atas, kata ini menggambarkan ancaman kemurkaan Allah yang akan ditimpakan kepada Bani Israil, jika mereka menolak memakan rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka dan mereka melampaui batas. Karena mereka telah diselamatkan oleh Allah dari kejaran rombongan Fir‘aun, sudah selayaknya mereka tidak menuntut yang lebih dan melampaui batas dari apa yang telah diberi oleh Allah.




















