Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 62 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 62 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 315 •  Quarter Hizb 32.25 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

فَتَنَازَعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَاَسَرُّوا النَّجْوٰى

Fa tanāza‘ū amrahum bainahum wa asarrun-najwā.

Mereka berbantah-bantahan tentang urusannya dan merahasiakan percakapannya.

Makna Surat Taha Ayat 62
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Peringatan Nabi Musa membuat sebagian penyihir ketakutan, sementara sebagian yang lain tetap tidak acuh. Maka mereka pun berbantah- bantahan tentang urusan mereka. Masing-masing mengemukakan pendapatnya terkait peringatan Nabi Musa dan cara menghadapinya, dan mereka merahasiakan percakapan mereka agar Fir’aun dan para pembesarnya tidak mendengarnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah ahli-ahli sihir Fir‘aun itu mendengar peringatan dan ancaman Musa, mereka menjadi bingung, masing-masing mempunyai tanggapan sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Lalu mereka mengadakan rapat khusus, bertukar pikiran, apa yang kira-kira seharusnya mereka perbuat. Percakapan mereka sangat dirahasiakan supaya jangan bocor. Memang begitulah pada galibnya, sesuatu rapat diadakan untuk mencari taktik mengalahkan lawan, percakapan dan keputusan rapat itu, harus dirahasiakan, jangan sampai lawan mengetahuinya. Demikian pula halnya ahli-ahli sihir Fir‘aun, karena khawatir kalau-kalau percakapan mereka didengar dan diketahui oleh Musa dan Harun, lalu keduanya mengadakan persiapan, dan perlengkapan yang cukup tangguh untuk menghadapi sihirnya yang sukar untuk dikalahkan.

Isi Kandungan Kosakata

1. An-Najwā اَلنَّجْوَى (Ṭāhā/20: 59)

Secara etimologis, an-najwa berarti percakapan, pembicaraan rahasia, atau bisikan antara dua orang. Dalam kontek ayat di atas, an-najwa berarti perahasiaan percakapan antara tukang sihir Fir‘aun dengan Fir‘aun. Tukang-tukang sihir itu berbisik kepada Fir‘aun, bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun adalah tukang-tukang sihir yang akan mengusir Fir‘aun dari Mesir dengan kekuatan sihirnya.

2. Al-Muṡlā اَلْمُثْلَى (Ṭāhā/20: 63)

Secara etimologis, al-muṡla berarti yang paling utama, paling unggul atau yang terbaik. Dalam kontek ayat di atas, al-muṡla ini masih terkait dengan tema bisikan tukang-tukang sihir Fir‘aun kepada Fir‘aun. Dikatakan bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun yang oleh tukang-tukang sihir itu dituduh sebagai ahli sihir akan merombak atau mereformasi tradisi utama warisan nenek moyang yang selama ini terus dijalankan Fir‘aun dan masyarakat Mesir.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto