Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 10 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 10 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 312 •  Quarter Hizb 32 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

Iż ra'ā nāran fa qāla li'ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la‘allī ātīkum minhā biqabasin au ajidu ‘alan-nāri hudā(n).

(Ingatlah) ketika dia (Musa) melihat api, lalu berkata kepada keluarganya, “Tinggallah (di sini)! Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau mendapat petunjuk di tempat api itu.”

Makna Surat Taha Ayat 10
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ketika dalam perjalanan menuju Mesir, dia melihat api yang menyala terang, lalu dia berkata kepada keluarganya yang menyertainya dalam perjalanan itu, “Tinggallah kamu di sini sampai aku kembali. Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu agar kita dapat menghangatkan badan pada malam yang dingin ini, atau aku akan mendapat petunjuk dari seseorang yang ada di sekitar tempat api itu.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah habis masa perjanjian, Musa menggembalakan kambing Syekh Madyan, sebagai mahar yang harus dibayarkan Musa kepada mertuanya di Madyan, dia minta izin untuk kembali ke Mesir, menemui ibunya yang telah ditinggalkan selama sepuluh tahun lebih. Setelah mendapat izin, berangkatlah Musa a.s. bersama keluarganya menuju Mesir, dengan menghindari jalan biasa dan mengambil jalan di lereng, karena takut kalau-kalau keluarganya mendapat gangguan dari raja Syam. Dalam tafsir ar-Rāzī dan al-Qurṭubi disebutkan bahwa setelah sampai di lembah Tuwa sebelah Barat dari gunung Tursina, istrinya melahirkan seorang anak, pada malam yang gelap gulita, berhawa dingin dan dalam keadaan tersesat. Untuk menghangatkan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang itu, dan mendapat penerangan di dalam suasana gelap gulita, Musa a.s. berusaha mendapatkan api, tetapi usahanya itu belum juga berhasil. Kemudian secara tidak disangka-sangka, terlihat olehnya api dari jauh di sebelah kiri jalan. Maka berkatalah ia kepada keluarganya dengan rasa gembira, “Tinggallah kalian di sini dulu, saya melihat api dari jauh, dan sekarang saya akan ke sana. Mudah-mudahan saya dapat membawa api itu ke sini, atau mendapat petunjuk daripadanya, untuk dapat keluar dari kesesatan jalan kita ini.” Peristiwa seperti ini, dicantumkan juga dalam ayat yang lain di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:

فَلَمَّا قَضٰى مُوْسَى الْاَجَلَ وَسَارَ بِاَهْلِهٖٓ اٰنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ نَارًاۗ قَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ ٢٩

Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan dia berangkat dengan keluarganya, dia melihat api di lereng gunung, dia berkata kepada keluarganya, “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.” (al-Qaṣaṣ/28: 29)

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Wādil-Muqaddas اَلْوَادِى الْمُقَدَّسِ (Ṭāhā/20: 12)

Wādī, berarti lembah dan muqaddas, yang suci dan disucikan. Letak lembah ini di kaki Gunung Sinai, tempat Nabi Musa kemudian menerima Taurat. Allah memerintahkan kepada Musa agar melepaskan alas kakinya sebagai tanda penghormatan pada tempat ini, dan kata ṭuwā sesudah itu, umumnya kata ini diartikan sebagai nama lembah itu, kendati ada juga yang mengatakan, bahwa ṭuwā adalah kosakata yang berarti dua kali, yakni lembah itu dua kali disucikan, atau Musa dua kali dipanggil.

2. li Żikrī لِذِكْرِيْ (Ṭāhā/20: 12)

Żikrī artinya mengingat, baik mengingat sesuatu yang terlupa atau mengingat sesuatu agar tidak terlupa.

Menurut Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah, ulama berbeda pendapat tentang makna li żikrī pada ayat ini dan juga pada huruf lam yang mendahului kata żikri. Kata żikr ada yang memahaminya dalam arti zikir dengan ucapan, ada juga yang mengartikan zikir dengan qalbu.

Sedang huruf lam ada yang memahaminya dalam arti ‘agar supaya’ sehingga arti kata li żikrī adalah perintah melaksanakan salat agar dengan salat seseorang selalu mengingat kehadiran Allah. Salat yang benar-benar khusyu’ bisa mengajak seseorang untuk selalu mengingat Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Makna yang dikandung kata li żikrī adalah isyarat kepada hikmah dibalik perintah salat.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto