۞ وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِۗ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
Wa ‘anatil-wujūhu lil-ḥayyil-qayyūm(i), wa qad khāba man ḥamala ẓulmā(n).
Semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus. Sungguh rugi orang yang membawa kezaliman.
Orang yang beriman mengakui keagungan Allah tersebut dan tunduklah semua muka dengan rendah diri kepada Tuhan yang hidup kekal lagi berdiri sendiri dalam mengurus makhluk-Nya. Sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman dengan mengingkari petunjuk Allah dan tuntunan rasul-Nya.
Di kala itu tunduklah semua muka merasa rendah diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Perkasa Yang akan memberikan putusan terakhir mengenai nasib mereka masing-masing sesuai dengan iman dan amal mereka, putusan dari Yang Mahaadil yang tidak dapat dibantah dan disangkal dan harus dilaksanakan. Di kala itu menyesallah orang-orang yang ingkar dan berdosa mengapa dia di dunia dahulu mengikuti kemauan setan dan hawa nafsu, mementingkan duniawi tanpa menghiraukan sedikit pun bahwa mereka akan menemui hari perhitungan, menghina serta memperolok-olokan seruan para nabi dan rasul untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
1. Qā’an ṣafṣafā قَاعًا صَفْصَفًا (Ṭāhā/20: 106).
Qā’a artinya adalah “tanah datar” dan ṣafṣaf artinya “lurus” seperti saf dalam salat, maksudnya “terhampar”. Maksudnya adalah bahwa pada hari kiamat nanti gunung-gunung yang menjulang di bumi ini akan dihan-curleburkan oleh Allah sehingga rata dengan tanah, bumi yang pernah dihuni oleh manusia digantikan dengan bumi yang lain, yang juga rata. Inilah Padang Mahsyar di mana manusia akan dihisab.
2. Hamsan هَمْسًا (Ṭāhā/20: 106)
Hams secara harfiyah berarti “suara yang sangat halus”. Maksudnya adalah bahwa di padang mahsyar itu nanti akan terdengar suara malaikat yang mengarahkan manusia ke tempat pengadilan Allah. Pada waktu itu tidak akan ada yang mampu atau berani bicara. Semua terdiam menunggu-nunggu apa akan terjadi berikutnya. Yang terdengar hanya bunyi langkah-langkah kaki yang begitu halus lebih halus dari bunyi bisikan. Demikianlah lukisan hebatnya ketakutan manusia pada waktu itu.























