قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ الْاُوْلٰى
Qāla famā bālul-qurūnil-ūlā.
Dia (Fir‘aun) bertanya, “Bagaimana keadaan generasi terdahulu?”
Mendengar jawaban Nabi Musa tentang kekuasaan Allah, Fir’aun berkata, “Jadi, bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu yang telah meninggal dunia, seperti kaum Nabi Nuh, Hud, dan Saleh, yang lebih dulu ingkar?”
Untuk mengalihkan Musa dari dakwahnya ke suasana yang lain, Fir‘aun bertanya kepadanya, “Wahai Musa, bagaimanakah kira-kira nasibnya di akhirat nanti umat-umat yang dahulu seperti kaum ‘Ād, kaum Samūd yang tidak menyembah Allah, tetapi mereka menyembah selain Allah. Mereka mempunyai sembahan-sembahan benda mati seperti batu, pohon kayu dan lainnya. Apakah mereka akan dimasukkan ke dalam surga ataukah mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, disiksa dan diazab?” Fir‘aun sengaja berbuat demikian, agar supaya Musa menghentikan dari mengemukakan hujjahnya serta alasan-alasan kuat lainnya yang membenarkan dakwahnya, karena Fir‘aun khawatir kalau-kalau dakwah Musa termakan oleh kaumnya, lalu mereka beriman kepada Musa dan meninggalkan kepercayaannya yang sesat yang mempercayai bahwa Fir‘aun itu adalah tuhan.
1. al-Qurūn al-ūlā اَلْقُرُوْنِ اْلأُوْلَى (Ṭāhā/20:51)
الأول ى القرون, القرون jamak dari القرن dari akar kata ق ر ن , artinya mengumpulkan antara dua hal. Dari sini muncul kata القرن (al-qarnu) berarti satu masa atau abad dalam tahun syamsiah (100 tahun), dan kata lainnya القرن (al-qaranu) artinya tanduk.
Al-Qarn pada ayat ini artinya sekumpulan orang yang hidup dan berkumpul pada satu masa (Yūnus/10: 13). Sedangkan الأولى القرون artinya generasi-generasi terdahulu. Maksudnya generasi-generasi sebelum Fir‘aun yang juga menganut kepercayaan seperti yang dianut oleh Fir‘aun.
Pertanyaan tentang nasib generasi terdahulu diajukan Fir‘aun kepada Musa sesudah Musa menjelaskan hakekat tuhan seluruh manusia, seakan-akan Fira’un meremehkan risalah Nabi Musa dan Harun dengan menanyakan nasib orang-orang terdahulu, apakah mereka akan disiksa, dan mampukah keduanya memalingkan kepercayaan pengikut Fir‘aun dari kepercayaan leluhurnya.
2. Mahdan مَهْدًا (Ṭāhā/20: 53)
مهدا (mahdan) artinya terhampar. Allah jadikan bumi datar terhampar sehingga mudah bagi manusia untuk berjalan, duduk dan berbaring di atasnya. Setelah pada ayat lalu Musa menjelaskan kuasa dan pengetahuan Allah serta penciptaan-Nya, kini Nabi Musa mengingatkan manusia berbagai kenikmatannya, seperti mengatakan bumi datar, sebagai saksi dan bukti kehadiran Allah agar manusia mau beriman kepada-Nya.
Kata mahdan disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini dan az-Zukhruf/43: 10.
3.Ulin-Nuhā أُولِى النُّهَى (Ṭāhā/20:54)
النّه ى أولى (ulin-nuhā) artinya orang yang berakal. An-Nuha jamak dari النهية (an-nuhyah) yang berarti akal, dari akar kata yang sama muncul kata نهى (nahā) artinya melarang, أنهى mengakhiri, نهاية selesai. Akal disebut al-nuhyah karena akallah yang melarang dan menghalangi manusia dari berbagai perbuatan yang bisa merusak dan mencelakakan mereka. Kata ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, pada ayat ini dan pada Ṭāha/20: 128.



















