قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَىۖ
Qāla ‘ilmuhā ‘inda rabbī fī kitāb(in), lā yaḍillu rabbī wa lā yansā.
Dia (Nabi Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab (Lauhulmahfuz). Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa.
Nabi Musa menjawab pertanyaan Fir’aun, “Pengetahuan tentang itu secara rinci hanya ada pada Tuhanku. Hanya Dia yang mengetahuinya. Semua hal yang berkaitan dengan makhluk tercatat di dalam sebuah Kitab, yaitu Lauh Mahfuz. Tuhanku tidak akan pernah salah ataupun lupa pada apa pun yang terjadi di alam semesta ini.
Pertanyaan Fir‘aun itu dijawab oleh Musa a.s. bahwa pertanyaan yang dikemukakannya itu, adalah pertanyaan mengenai hal yang gaib, sedang hal yang gaib itu, tiada yang mengetahuinya kecuali Allah sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya:
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. (al-Ḥasyr/59: 22)
عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ ٢٦
Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. (al-Jin/72: 26)
Nasib kaum penyembah berhala, kaum yang mempunyai sembahan-sembahan selain dari Allah, sepenuhnya berada di dalam pengetahuan Allah, tiada seorang manusia pun yang mengetahuinya. Semua perbuatan manusia termasuk nasib kaum yang ditanyakan Fir‘aun itu, telah tercatat dan tersimpul di dalam suatu kitab yaitu “Lauḥ Maḥfūẓ”. Tiada satu hal yang ketinggalan, baik yang besar maupun yang kecil, kecuali di dalam kitab itu, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman Allah:
مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا
Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). (al-Kahf/18: 49)
Berdasarkan catatan itulah mereka akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya di dunia ini. Ayat ini ditutup dengan satu penegasan bahwa Allah itu tidak akan salah dan tidak akan lupa, untuk mencegah sangkaan dan tuduhan yang bukan-bukan, bahwa catatan yang ada di dalam kitab itu bisa saja keliru, salah catat, atau ada hal-hal yang ketinggalan tidak dicatat oleh penguasa karena lupa, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
1. al-Qurūn al-ūlā اَلْقُرُوْنِ اْلأُوْلَى (Ṭāhā/20:51)
الأول ى القرون, القرون jamak dari القرن dari akar kata ق ر ن , artinya mengumpulkan antara dua hal. Dari sini muncul kata القرن (al-qarnu) berarti satu masa atau abad dalam tahun syamsiah (100 tahun), dan kata lainnya القرن (al-qaranu) artinya tanduk.
Al-Qarn pada ayat ini artinya sekumpulan orang yang hidup dan berkumpul pada satu masa (Yūnus/10: 13). Sedangkan الأولى القرون artinya generasi-generasi terdahulu. Maksudnya generasi-generasi sebelum Fir‘aun yang juga menganut kepercayaan seperti yang dianut oleh Fir‘aun.
Pertanyaan tentang nasib generasi terdahulu diajukan Fir‘aun kepada Musa sesudah Musa menjelaskan hakekat tuhan seluruh manusia, seakan-akan Fira’un meremehkan risalah Nabi Musa dan Harun dengan menanyakan nasib orang-orang terdahulu, apakah mereka akan disiksa, dan mampukah keduanya memalingkan kepercayaan pengikut Fir‘aun dari kepercayaan leluhurnya.
2. Mahdan مَهْدًا (Ṭāhā/20: 53)
مهدا (mahdan) artinya terhampar. Allah jadikan bumi datar terhampar sehingga mudah bagi manusia untuk berjalan, duduk dan berbaring di atasnya. Setelah pada ayat lalu Musa menjelaskan kuasa dan pengetahuan Allah serta penciptaan-Nya, kini Nabi Musa mengingatkan manusia berbagai kenikmatannya, seperti mengatakan bumi datar, sebagai saksi dan bukti kehadiran Allah agar manusia mau beriman kepada-Nya.
Kata mahdan disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini dan az-Zukhruf/43: 10.
3.Ulin-Nuhā أُولِى النُّهَى (Ṭāhā/20:54)
النّه ى أولى (ulin-nuhā) artinya orang yang berakal. An-Nuha jamak dari النهية (an-nuhyah) yang berarti akal, dari akar kata yang sama muncul kata نهى (nahā) artinya melarang, أنهى mengakhiri, نهاية selesai. Akal disebut al-nuhyah karena akallah yang melarang dan menghalangi manusia dari berbagai perbuatan yang bisa merusak dan mencelakakan mereka. Kata ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, pada ayat ini dan pada Ṭāha/20: 128.






























