Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 128 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 128 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 321 •  Quarter Hizb 32.75 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

اَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ يَمْشُوْنَ فِيْ مَسٰكِنِهِمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى النُّهٰى ࣖ

Afalam yahdi lahum kam ahlaknā qablahum minal-qurūni yamsyūna fī masākinihim, inna fī żālika la'āyātil li'ulin nuhā.

Tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (orang-orang musyrik) tentang berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, (padahal) mereka melewati (bekas-bekas) tempat tinggal mereka (generasi itu)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.

Makna Surat Taha Ayat 128
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada ayat-ayat berikut Allah menerangkan peringatan-Nya kepada orang kafir dan enggan mengikuti petunjuk-Nya. Sungguh, semua ancaman itu pasti terjadi, maka tidakkah apa yang terjadi pada kaum kafir terdahulu menjadi petunjuk bagi mereka yang musyrik itu; berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka. Sungguh mengherankan bila mereka tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu, padahal mereka telah berjalan di lokasi tersebut dan melihat bekas-bekas tempat tinggal umat-umat yang dibinasakan itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu, yaitu bukti-bukti yang dapat disaksikan, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal dan mau memperhatikan kejadian di masa lalu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat-ayat ini Allah meminta perhatian orang-orang kafir agar mereka memikirkan dengan tenang bagaimana kesudahan umat-umat yang telah lalu, mereka telah dibinasakan oleh Allah karena kekafirannya dengan menurunkan berbagai macam malapetaka, ada yang berupa angin topan, gempa yang dahsyat dan ada pula yang berupa suara keras yang mengguntur. Mereka dapat melihat dengan mata kepala sendiri bekas-bekas yang ditinggalkan oleh umat-umat yang telah binasa itu. Bekas-bekas itu menunjukkan bahwa mereka adalah umat-umat yang kuat dan jaya pada masanya memiliki bangunan-bangunan yang besar dan kokoh, mempunyai kebudayaan yang tinggi lebih dari apa yang dimiliki orang-orang kafir Mekah. Tetapi karena keingkaran dan kedurhakaan, mereka dibinasakan Allah dengan sekejap mata, tak seorang pun yang selamat dari malapetaka itu. Yang dapat dilihat sekarang hanya puing-puing bekas istana dan benteng-benteng pertahanan mereka.

Kaum musyrik Mekah dalam perjalanan dagang mereka di musim panas dan di musim dingin melalui bekas-bekas kerajaan yang telah runtuh itu, tetapi mereka tidak pernah memikirkan apa sebabnya maka kerajaan-kerajaan itu hancur dan musnah, dan menganggap hal itu adalah akibat bencana alam belaka. Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari umat-umat yang dahulu dan menginsafi bahwa bagaimanapun kuat dan jayanya satu umat, bila Allah menghendaki kehancuran mereka, karena kedurhakaan dan kekafiran tak ada yang dapat mempertahankan atau membela mereka. Mengapa hal ini semua tidak menjadi perhatian mereka. Sebenarnya kalau mereka mau berpikir, amat banyak pelajaran dan bukti-bukti kekuasaan Allah yang terdapat pada umat-umat yang telah hancur binasa itu, tetapi anehnya mereka tidak mengindahkannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Lizāmā لِزَامًا (Ṭāhā/20: 129)

Lizām akar katanya adalah lazama yang berarti “menempati dalam waktu lama” artinya “memastikan” “memaksakan”. Dalam Hūd/11:28 Nabi Nuh berkata kepada kaumnya yang kafir, “Apakah kami akan memaksakan kalian padanya padahal kalian tidak mau? Maksudnya adalah bahwa Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya yang beriman tidak akan memaksa mereka yang tidak beriman bila mereka tidak mau. Persoalannya ia serahkan kepada Allah. Allahlah yang akan memutuskan kekafiran mereka itu.

Lizāmā mengandung arti “mutlak,” “pasti “. Dalam Ṭāhā/20:129 Allah menegaskan bahwa seandainya bukanlah karena Allah sudah memberikan ketetapan sebelumnya dan waktu yang sudah digariskan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menjatuhkan azab-Nya sebelum waktunya itu, maka orang-orang kafir itu sudah dimusnahkan-Nya, sebagaimana Ia sudah memusnahkan umat-umat terdahulu. Tetapi Allah tidak mau memusnahkan mereka sekarang ini di dunia ini. Oleh karena itu Nabi Muhammad s.a.w. harus bersabar menghadapi pembangkangan mereka. Di akhirat nanti barulah pembangkangan itu lizāmā, yaitu pasti menemukan pembalasannya.

2. Lā tamuddanna ‘ainaika لاَتَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ (Ṭāhā/20: 131)

Kata pertama dalam klausa ini adalah lā tamuddanna, terambil dari kata madda artinya “memanjangkan”, “menjulurkan”, “memberi”, dan kata kedua, ‘ainaika artinya “kedua matamu” (Ṭāhā/20: 131). Maksudnya: Nabi Muhammad diminta Allah agar tidak memanjangkan kedua matanya, yaitu memberikan perhatiannya yang seksama, kepada kekayaan yang berlimpah yang dimiliki penentang-penentang agama Allah. Itu hanyalah harta benda duniawi, dan diberikan sebagai ujian bagi mereka. Sedangkan balasan yang akan diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan mereka yang beriman, akan jauh lebih baik dan abadi. Ayat ini diriwayatkan turun berkenaan peristiwa Nabi s.a.w meminjam sedikit pangan dari seorang Yahudi, tetapi orang itu tidak mau meminjamkannya kalau tidak ada jaminan/agunannya. Kata madda itu bisa digunakan pada umumnya untuk arti positif, seperti ayat, “Kami beri mereka buah-buahan dan daging yang mereka sukai,” aṭ-Ṭūr/52:22. Dan ada pula yang digunakan untuk makna negatif, seperti, “Kami beri mereka azab dengan sebenar-benar memberi,” (Maryam/19:79).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto