وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَّبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَّاَجَلٌ مُّسَمًّى ۗ
Wa lau lā kalimatun sabaqat mir rabbika lakāna lizāmaw wa ajalum musammā(n).
Seandainya tidak ada suatu ketetapan yang terdahulu dari Tuhanmu serta tidak ada ajal yang telah ditentukan (bagi mereka),486) pastilah (siksaan itu langsung menimpa mereka).
Apa yang terjadi pada manusia merupakan akibat perbuatan mereka. Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah diputuskan pada masa terdahulu, yaitu sebelum zaman Rasulullah, atau tidak ada ajal dan batas akhir yang telah ditentukan oleh Allah, pasti azab yang serupa juga menimpa mereka yang kafir itu.
Kalau tidak karena rahmat dan kasih sayang Allah atau karena ketetapan yang telah diputuskan-Nya bahwa umat Muhammad saw yang ingkar tidak akan dihancurbinasakan seperti umat-umat dahulu itu, dan balasan atas kekafiran mereka ditangguhkan sampai hari Kiamat tentulah mereka telah mengalami kehancuran pula. Hal ini tersebut dalam firman-Nya:
بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ اَدْهٰى وَاَمَرُّ ٤٦
Sebenarnya hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (al-Qamar/54: 46)
Para Ulama mengatakan bahwa hikmah penangguhan siksa umat Muhammad saw yang durhaka sampai hari Kiamat ialah memberi kesempatan bagi mereka untuk bertobat atau ada di antara keturunan mereka yang beriman. Hal itu merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan bagi Nabi Muhammad saw dan rahmat serta kasih sayang Allah terhadap umatnya, dengan demikian pengikut-pengikut ajarannya akan bertambah banyak. Ini sesuai dengan harapan beliau sebagaimana disebutkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari Abi Hurairah:
وَاِنَّم ا كَانَ الَّذِيْ اُوْتِيْتُهُ وَحْيًا اَوْحَاهُ اللّٰهُ اِلَيَّ فَأَرْجُوْ اَنْ اَكُوْنَ اَكْثَرَهُمْ تَابِعًا (رواه الشيخان)
Apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku oleh Allah. Maka aku berharap agar aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di antara para Nabi. (Riwayat asy-Syaikhān)
1. Lizāmā لِزَامًا (Ṭāhā/20: 129)
Lizām akar katanya adalah lazama yang berarti “menempati dalam waktu lama” artinya “memastikan” “memaksakan”. Dalam Hūd/11:28 Nabi Nuh berkata kepada kaumnya yang kafir, “Apakah kami akan memaksakan kalian padanya padahal kalian tidak mau? Maksudnya adalah bahwa Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya yang beriman tidak akan memaksa mereka yang tidak beriman bila mereka tidak mau. Persoalannya ia serahkan kepada Allah. Allahlah yang akan memutuskan kekafiran mereka itu.
Lizāmā mengandung arti “mutlak,” “pasti “. Dalam Ṭāhā/20:129 Allah menegaskan bahwa seandainya bukanlah karena Allah sudah memberikan ketetapan sebelumnya dan waktu yang sudah digariskan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menjatuhkan azab-Nya sebelum waktunya itu, maka orang-orang kafir itu sudah dimusnahkan-Nya, sebagaimana Ia sudah memusnahkan umat-umat terdahulu. Tetapi Allah tidak mau memusnahkan mereka sekarang ini di dunia ini. Oleh karena itu Nabi Muhammad s.a.w. harus bersabar menghadapi pembangkangan mereka. Di akhirat nanti barulah pembangkangan itu lizāmā, yaitu pasti menemukan pembalasannya.
2. Lā tamuddanna ‘ainaika لاَتَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ (Ṭāhā/20: 131)
Kata pertama dalam klausa ini adalah lā tamuddanna, terambil dari kata madda artinya “memanjangkan”, “menjulurkan”, “memberi”, dan kata kedua, ‘ainaika artinya “kedua matamu” (Ṭāhā/20: 131). Maksudnya: Nabi Muhammad diminta Allah agar tidak memanjangkan kedua matanya, yaitu memberikan perhatiannya yang seksama, kepada kekayaan yang berlimpah yang dimiliki penentang-penentang agama Allah. Itu hanyalah harta benda duniawi, dan diberikan sebagai ujian bagi mereka. Sedangkan balasan yang akan diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan mereka yang beriman, akan jauh lebih baik dan abadi. Ayat ini diriwayatkan turun berkenaan peristiwa Nabi s.a.w meminjam sedikit pangan dari seorang Yahudi, tetapi orang itu tidak mau meminjamkannya kalau tidak ada jaminan/agunannya. Kata madda itu bisa digunakan pada umumnya untuk arti positif, seperti ayat, “Kami beri mereka buah-buahan dan daging yang mereka sukai,” aṭ-Ṭūr/52:22. Dan ada pula yang digunakan untuk makna negatif, seperti, “Kami beri mereka azab dengan sebenar-benar memberi,” (Maryam/19:79).




















