وَلَوْ اَنَّآ اَهْلَكْنٰهُمْ بِعَذَابٍ مِّنْ قَبْلِهٖ لَقَالُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَّذِلَّ وَنَخْزٰى
Wa lau annā ahlaknāhum bi‘ażābim min qablihī laqālū rabbanā lau lā arsalta ilainā rasūlan fa nattabi‘a āyātika min qabli an nażilla wa nakhzā.
Seandainya Kami binasakan mereka dengan suatu siksaan sebelum (bukti itu datang), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?”
Demikianlah sikap orang kafir. Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya, yakni sebelum Kami turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, tentulah mereka di akhirat nanti berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa di dunia dulu tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami untuk mengingatkan kami sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina akibat siksa ini dan rendah karena kedurhakaan kami?”
Ayat ini menerangkan bahwa andaikata Allah membinasakan mereka sebelum mengutus Nabi Muhammad kepada mereka, mereka akan me-ngatakan pada hari Kiamat, bahwa Allah tidak mengutus kepada mereka seorang rasul yang akan diikuti ajaran-ajarannya sehingga mereka menjadi orang-orang yang beriman sebelum menemui hari perhitungan ini. Oleh sebab itu Allah tidak membinasakan mereka seperti umat-umat yang dahulu agar tidak ada alasan bagi mereka ketika menghadapi hari Perhitungan pada hari Kiamat. Karena Allah telah mengutus kepada mereka rasul yang akan menerangkan kepada mereka ayat-ayat Allah. Kemudian terserah kepada mereka apakah mereka akan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah ataukah mereka akan tetap dalam kekafiran dan selalu menghina dan memperolok-olokan Muhammad saw.
1. Nakhzā نَخْزَى (Ṭāhā/20:134)
Kata dasar kata itu adalah khaziya, artinya “menjadi hina akibat suatu kegagalan”. Menjadi hina itu dapat terjadi karena diri sendiri yang berarti “malu” misalnya Ṭāhā/20:134 ini, “Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau tidak mengirim seorang rasul kepada kami supaya kami dapat mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami terhina dan malu.” Itu protes yang akan disampaikan orang-orang kafir nanti di akhirat bila Allah memasukkan mereka ke neraka sedangkan mereka belum pernah dikirimi seorang rasul untuk membimbing mereka. Karena itulah Allah telah mengirim seorang rasul kepada setiap umat, sehingga tidak akan ada alasan lagi bagi orang kafir untuk berhelah seperti itu. Dan kehinaan itu dapat pula datang dari orang lain, seperti “Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia,” az-Zumar/39: 26.
2.aṣ-ṣirāṭ as-Sawiyy اَلصِّرَاطِ السَّوِيِّ (Ṭāhā/20:135)
Kata pertama dalam frasa itu, ṣirāṭ, asalnya adalah ṣirāṭ yang secara harfiyah berarti “menelan”. ṣirāṭ adalah jalan lebar sehingga seakan-akan menelan orang yang menempuhnya. As-sawiyy terambil dari kata sawiya artinya “seimbang” tidak berat ke kanan atau ke kiri. Dengan demikian aṣ-ṣirāṭ as-sawiyy maksudnya adalah jalan yang lebar yang tidak menyempit di mana pun dan lurus tidak berbelok-belok. Dalam ayat 135 surah Ṭāhā/20 ini Allah meminta Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada orang-orang yang tidak mau mendengarkan dakwahnya bahwa silahkan masing-masing pihak, yang kafir dan yang iman, menunggu. Nanti di akhirat mereka akan tahu siapa yang berada di jalan yang benar dan tidak sesat jalan, yaitu umat Islam.






















