Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 85 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 85 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 317 •  Quarter Hizb 32.5 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ

Qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba‘dika wa aḍallahumus-sāmiriyy(u).

Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Kami benar-benar telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan dan Samiri telah menyesatkan mereka.”

Makna Surat Taha Ayat 85
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dia berfirman, “Begitu engkau pergi mendahului mereka, sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan mereka. Mereka gagal melalui ujian-Ku sehingga terjerumus dalam kesesatan dengan menyembah patung anak sapi. Dan mereka menjadi kafir karena telah disesatkan oleh Samiri.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah Musa pergi meninggalkan kaumnya untuk bermunajat dengan Tuhannya, kaumnya telah menyeleweng dari agama Tauhid dan telah menyembah patung anak sapi buatan Samiri. Memang Allah hendak menguji iman kaum Nabi Musa apakah benar-benar mereka telah mempunyai iman yang kuat dan membaja ataukah masih terdapat dalam hati dan jiwa mereka bekas-bekas syirik atau kepercayaan menyembah berhala. Ternyata keimanan mereka belum begitu kuat dan mendalam karena hanya beberapa hari saja mereka ditinggalkan Musa dan masih dalam pengawasan Harun, mereka dengan mudah teperdaya dan masuk perangkap Samiri yang berasal dari kaum penyembah sapi. Namun Allah tidak akan membiarkan atau menerima begitu saja bila manusia menyatakan dirinya beriman tanpa diuji lebih dahulu sesuai dengan firman-Nya:

اَحَسِب النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنّ َ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنّ َ الْكٰذِبِيْنَ ٣

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (al-’Ankabūt/29: 2 dan 3)

Ternyata kaum Musa itu tidaklah termasuk orang-orang yang kuat dan mendalam imannya karena baru sebentar saja mereka ditinggalkan Musa (menurut riwayat hanya 20 hari) mereka telah meninggalkan agama tauhid dan kembali menganut agama penyembah-penyembah berhala. Hal ini tidak dapat disesalkan dan mungkin sekali terjadi karena mereka telah lama di bawah kekuasaan Fir‘aun. Karena itu mental mereka sudah rusak dan moral mereka pun menjadi lemah sehingga tidak bisa diharapkan dari mereka kesetiaan dan kesabaran mempertahankan suatu prinsip. Maka dengan mudah Samiri memperdayakan mereka dengan membuat patung berbentuk anak sapi dari emas yang dapat berbunyi sendiri seperti suara anak sapi, maka mereka tertarik dengan omongan Samiri bahwa inilah Tuhan yang sebenarnya. Adapun Tuhan Musa dan Harun yang tidak dapat dilihat mengapa kita mau menyembahnya?

Isi Kandungan Kosakata

1. As-Sāmiriy اَلسَّامِرِيّ (Ṭāhā/20: 85)

Pendapat para ahli dan para mufasir mengenai kata “samiri” ini sangat beragam. Di antaranya ada yang mengatakan, bahwa samiri kata nisbah, yakni orang dari Samirah di Palestina. Tetapi ini tidak mungkin, karena pada zaman Musa kota itu belum ada (An-Najjar). Pendapat lain mengatakan (Muhammad Asad), Samaritan, “orang dari Samirah di Palestina; orang yang suka memberi pertolongan.” Asy-Syaukani (Fathul Qadir) berpendapat bahwa Samiri itu nama kabilah, Samirah, yang biasa menyembah sapi. Lahirnya ia menganut agama Yahudi, tapi hatinya tetap sebagai penyembah sapi.

Mengenai Musa terlambat memenuhi perjanjian dengan mereka, versi Bibel mengatakan, bahwa karena mereka masih menyimpan perhiasan, sedang itu haram bagi mereka. Maka dimintanya mereka melemparkan perhiasan-perhiasan itu ke dalam api. Pendapat agak berbeda dan agak panjang terdapat dalam Tafsir Yusuf Ali: Siapa Samiri ini? Kalau itu nama pribadi, untuk mendekati arti akar kata aslinya cukup dengan menambahkan kata sandang pada kata itu… Untuk “Samiri” apa akar katanya? Kalau kita melihat kata Mesir kuno, kita mengenal kata Shemer = orang asing (Egyptian Hieroglyphic Dictionary, Sir E. A. Wallis Budge, 1820, h. 815b). Karena orang-orang Israil baru saja meninggalkan Mesir, di antara mereka yang sudah menjadi orang Mesir mungkin sudah biasa memakai julukan demikian. Bahwa nama Semer (Shemer), yang kemudian bukan tidak dikenal di kalangan orang-orang Ibrani, dapat dilihat dalam Perjanjian Lama. Dalam Kitab Raja-raja I, xvi. 24 kita baca, bahwa Omri, raja Israil belahan utara kerajaan yang sudah dibagi, yang berkuasa sekitar 903-896 Pra-Masehi, membangun sebuah kota baru, Samaria, di atas bukit yang dibelinya dari Semer, pemilik bukit itu… Kalau akar kata itu yang berasal dari bahasa Mesir tak dapat diterima, kita dapat melihat kata “shomer,” yang berasal dari bahasa Ibrani, yang berarti pengawal, penjaga; serumpun dengan bahasa Arab samara, yasmuru, berjaga, bergadang malam hari, mengobrol malam hari; samir, orang yang bergadang malam hari. Samiri mungkin seorang penjaga malam, sebagai kenyataan atau sebagai julukan, dengan harga dua talenta perak. Lihat juga buku Renan History of Israel, ii. 210.

2. Khuwārun خُوَارٌ (Ṭāhā/20: 88)

Khuwārun, yakhūru, khuwāran, arti harfiah: lenguh, denguh, tenguh, bunyi sapi, kerbau. Sudah banyak sekali takhayul yang membumbui cerita sekitar Samiri dan kata “khuwar” ini, termasuk ada beberapa mufasir klasik yang juga ikut terbawa. Tetapi rasanya kita tidak perlu merinci semua itu. Di dalam Al-Qur’an kata ini terdapat dalam dua ayat, al-A’raf/7: 148, dan Taha/20: 88, yang melukiskan patung anak sapi yang terbuat dari emas itu dapat melenguh seperti bunyi sapi. Bagaimana mungkin anak sapi atau lembu yang terbuat dari benda dapat bersuara, melenguh seperti lenguhan anak sapi. Jelas ini suatu tipuan, yang sudah menjadi kepandaian pendeta-pendeta Isis, dewi Mesir dan permaisuri Osiris, dalam agama Mesir kuno. Salah satu di antaranya, dengan cara menempatkan orang bersembunyi di balik patung-patung itu dan menirukan suara lembu, lalu disuguhkan untuk masyarakat awam yang memang mudah percaya. Untuk itu tentu mereka sudah menyiapkan tempatnya. Ada juga yang mengatakan, bahwa karena kepandaian tukang emas ia dapat membuat lubang dari dubur patung itu dan keluar dari mulutnya. Bila angin bertiup, maka terdengarlah suara menyerupai lenguhan sapi keluar dari mulut patung anak sapi itu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto