قَالَ هُمْ اُولَاۤءِ عَلٰٓى اَثَرِيْ وَعَجِلْتُ اِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضٰى
Qāla hum ulā'i ‘alā aṡarī wa ‘ajiltu ilaika rabbi litarḍā.
(Musa) berkata, “Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau rida.”
Nabi Musa menduga Bani Israil mengikutinya di belakang. Dia berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku. Tidak lama lagi mereka akan tiba. Dan aku bersegera dating kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau rida dan memberiku restu-Mu.”
Musa menjawab teguran Tuhannya dengan mengatakan bahwa kaumnya itu ada di belakangnya dan jarak antara dia dan kaumnya tidak begitu jauh. Jika ia mendahului naik ke atas gunung ini beberapa langkah bukanlah dengan maksud meninggalkan mereka dan kalau mereka dipanggil pasti dalam waktu yang singkat akan dapat berkumpul bersamanya. Memang ia bergegas-gegas menaiki bukit ini, karena ingin melaksanakan perintah Allah dengan segera, tepat pada waktunya sebagaimana yang telah ditetapkan, yaitu sesudah ia dan kaumnya berada di sekitar bukit Tur ini selama 40 malam. Ia datang dengan tergesa-gesa karena ingin cepat-cepat memperoleh keridaan Allah. Karena keinginan yang kuat untuk mencapai keridaan itulah ia menjadi lalai dan alpa terhadap perintah Allah supaya datang bersama-sama mereka.
1. A ‘jalaka أَعْجَلَكَ (Ṭāhā/20: 83)
Secara etimologis, a’jalaka berarti membuat kamu terburu-buru atau membuat kamu cepat-cepat. Dalam konteks ayat di atas, Allah swt bertanya kepada Nabi Musa, mengapa Nabi Musa meninggalkan Bani Israil dengan terburu-buru untuk mengadu kepada Allah swt. Nabi Musa berargumen, dirinya ingin bersegera menghadap Allah swt untuk meminta rida-Nya dan mereka akan segera menyusul menghadap Allah swt. Ternyata, sepeninggal Nabi Musa, Bani Israil mengalami kesesatan. Nabi Musa pun marah-marah dan bersedih hati. Allah swt lantas berkata, “Sungguh Kami telah menguji kaummu setelah kamu tinggalkan. Mereka telah disesatkan Samiri.”
2. Aṡarī أَثَرِيْ (Ṭāhā/20: 84)
Secara etimologis, aṡarī berarti bekas atau jejakku. Dalam konteks ayat di atas, setelah Nabi Musa mendapat teguran Allah swt karena ia meninggalkan kaumnya, Bani Israil, maka ia menegaskan bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi kaumnya akan segera mengikuti jejak atau menyusulnya untuk menghadap Allah swt.


















