Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 76 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 76 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 316 •  Quarter Hizb 32.25 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗوَذٰلِكَ جَزَاۤءُ مَنْ تَزَكّٰى ࣖ

Jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā'u man tazakkā.

(yaitu) surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.

Makna Surat Taha Ayat 76
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Tetapi, sebaliknya, barang siapa meninggal dunia dan datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi dan mulia. Mereka akan mendapatkan surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya, yaitu di antara pepohonannya, sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan dan menjauhkan diri dari kekafiran dan kemungkaran.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tempat yang tinggi dan mulia ialah Jannatu ‘Adn yaitu surga tempat menetap. Di surga mengalir sungai-sungai, isinya antara lain khamar, madu, susu dan air, penghuninya kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang-orang yang bersih dari kekafiran dan kemaksiatan. Alangkah beruntungnya mereka sebagaimana firman Allah:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman). (al-A’lā/87: 14)

Isi Kandungan Kosakata

1. Wa la’uṣallibannakum وَلَأُصَلِّبَن َّكُمْ (Ṭāhā/20: 71)

Secara etimologis, la’uṣallibannakum berarti ‘‘sungguh akan aku salib kalian.” Dalam kontek ayat di atas, kata la’uṣallibannakum menggambarkan kemarahan Fir‘aun yang luar biasa kepada tukang-tukang sihirnya. Karena sihir-sihir mereka berhasil dilumpuhkan mukjizat Nabi Musa, mereka lantas berbondong-bondong membenarkan kenabian Musa dan menjadi pengikutnya. Kenyataan ini memantik kemarahan Fir‘aun. Mereka pun diancam hukuman mati dengan cara disalib di pangkal pohon kurma (fī jużu’ al-nakhl). Dari perkataan Fir‘aun ini bisa diketahui bentuk-bentuk siksaan yang diberlakukan kepada lawan-lawan politiknya.

3. Nu’ṡiruka نُؤْثِرُكَ (Ṭāhā/20: 72)

Secara etimologis, nu’ṡiruka berarti memilih atau memutuskan sesuatu. Dalam kontek ayat di atas, kata nu’ṡiruka menggambarkan penolakan keras tukang-tukang sihir Fir‘aun atas permintaannya supaya mereka tidak mengikuti Nabi Musa. Kendati mereka diancam hukum potong tangan dan kaki secara bersilang, dan disalib di pangkal pohon kurma, mereka kukuh tidak akan meninggalkan keyakinan mereka yang baru terhadap kebenaran Nabi Muda. Mereka mengatakan, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu (Fir‘aun) atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami.”

3. Faqḍi فَاقْضِ (Ṭāhā/20: 72).

Secara etimologis, faqḍi yang berbentuk fi’il amar berarti putuskanlah! Dalam konteks ayat di atas, kata ini menggambarkan keberanian mantan tukang-tukang sihir Fir‘aun itu menentang Fir‘aun. Kendati ancamannya dibunuh, mereka tegar. Bahkan mereka menantang dengan gagah berani, supaya Fir‘aun melaksanakan ancamannya itu. “Sesungguhnya engkau (Fir‘aun) hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini,” tantang mereka penuh keberanian. Dari pernyataan tukang sihir ini terlihat bahwa keimanan yang sudah tertanam dalam hati seseorang tidak akan tergoyahkan oleh kekuatan apapun.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto