اِنَّمَآ اِلٰهُكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
Innamā ilāhukumullāhul-lażī lā ilāha illā huw(a), wasi‘a kulla syai'in ‘ilmā(n).
Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Setelah memutuskan untuk membakar patung anak sapi itu, Nabi Musa berpidato di depan kaumnya, “Sungguh, Tuhanmu yang layak disembah itu hanyalah Allah Yang Esa. Tidak ada tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang ada di alam ini.”
Dalam ayat ini Musa mengatakan bahwa patung itu bukanlah tuhan, Tuhan mereka ialah Tuhan Yang Maha Esa. Yang tiada Tuhan selain Allah. Dialah yang patut disembah dan dimuliakan hanya kepada-Nya sajalah dipanjatkan segala doa dan permohonan, semua makhluk berkehendak kepada-Nya karena Dialah Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa. Ilmunya sangat luas tiada batasnya meliputi segala sesuatu, tak ada yang luput dari ilmunya baik di bumi di langit maupun yang ada di antara keduanya, sesuai dengan firman-Nya:
لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَلَآ اَصْغَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرُ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauḥ Maḥfūẓ),” (Sabā’/34: 3)
1. Lā misās لاَمِسَاسْ (Ṭāhā/20: 97)
Secara etimologis, lā misās berarti tidak menyentuh. Dalam konteks ayat di atas, lā misās merupakan ucapan Nabi Musa yang diandaikan sebagai ucapan Samiri, bahwa di dunia Samiri hanya bisa mengatakan ‘Janganlah menyentuh (aku).’ Ini karena Samiri berupaya cuci tangan dari tindakan penyesatan yang dilakukannya pada Bani Israil. Samiri kemudian diusir atau dikucilkan dari masyarakat sebagai balasan perbuatannya di dunia. Sedang di akhirat, dia akan ditempatkan di neraka.
2. Nasfan نَسْفًا (Ṭāhā/20: 97)
Secara etimologis, nasfan berarti penghamburan. Dalam konteks ayat di atas, kata ini diucapkan Nabi Musa sebagai ancaman atas perbuatan buruk Samiri yang menyesatkan Bani Israil. Selain diminta pergi dari tengah masyarakat, Samiri juga diancam dibakar dan abunya akan disebarkan di tengah laut.



















