قَالَ بَلْ اَلْقُوْاۚ فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى
Qāla bal alqū, fa iżā ḥibāluhum wa ‘iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas‘ā.
Dia (Musa) berkata, “Silakan kamu melemparkan!” Tiba-tiba tali-temali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia (ular-ular itu) merayap cepat karena sihir mereka.
Dia berkata, “Silakan kamu melemparkan lebih dulu!” Para penyihir itu lantas melemparkan alat sihir mereka ke tengah arena, maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya seakan-akan menjadi ular yang merayap dengan cepat, karena sihir mereka.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah Musa menetapkan pilihannya, berkatalah ia kepada ahli-ahli sihir Fir‘aun, “Engkaulah yang lebih dahulu memulai, supaya kami dapat melihat sihirmu, dan mengetahui apa yang sebenarnya kamu perbuat. Setelah itu mereka melemparkan tali dan tongkatnya seraya berkata, “Demi kemuliaan Fir‘aun, sesungguhnya kamilah yang akan menang.”
Dengan tidak disangka-sangka, tiba-tiba tali dan tongkat-tongkat yang dilemparkan mereka itu, terlihat oleh Musa, seakan-akan ia merayap cepat, kelihatannya seakan-akan ular yang bergerak gesit ke sana ke mari.
1. Yukhayyalu يُخَيَّلُ (Ṭāhā/20: 66)
Secara etimologis, yukhayyalu berarti terbayangkan, terkenangkan, atau tergambarkan. Dalam konteks ayat di atas, terbayangkan dalam benak Nabi Musa bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat yang dilemparkan tukang-tukang sihir Fir‘aun itu seolah-olah berubah menjadi ular yang seolah-olah merayap dengan gesit. Padahal sejatinya, itu hanya bayangan (ilusi) Nabi Musa belaka, karena semua itu hanya tipu daya mereka.
2. Aujasa أَوْجَسَ (Ṭāhā/20: 67)
Secara etimologis, aujasa berarti merasa atau tepatnya merasa khawatir. Dalam konteks ayat di atas, Nabi Musa merasakan kekhawatiran dalam dirinya, karena terbayang dalam benaknya tongkat-tongkat dan tali-tali yang seolah berubah menjadi ular yang merayap itu. Ini menunjukkan, sisi manusiawi Nabi Musa tidak bisa dihilangkan. Sebagai manusia, Nabi Musa juga mempunyai kekhawatiran akan kekalahan yang dialaminya. Sebab jika kalah, maka misi yang diembannya akan gagal.




















