قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَلْقٰى
Qālū yā mūsā immā an tulqiya wa immā an nakūna awwala man alqā.
Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa, apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkannya?”
Begitu para penyihir berhadapan dengan Nabi Musa, mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan lebih dulu untuk menun-jukkan kemampuanmu, atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah ahli-ahli sihir Fir‘aun merasa telah cukup persiapannya, telah lengkap segala persediaannya, datanglah mereka ke tempat pertandingan yang telah ditentukan dengan berbaris rapi. Setelah mereka berhadapan dengan Musa, mereka memberikan pilihan agar Musa memilih, apakah Musa lebih dahulu melemparkan tongkat? Ataukah para ahli sihir yang lebih dahulu melemparkannya? Tindakan ahli-ahli sihir ini adalah satu kebijaksanaan yang mewujudkan adab yang baik dan tawadu mereka kepada Musa, seakan-akan mereka mendapat ilham dari Allah. Musa setelah berpikir sejenak lalu memilih supaya merekalah yang lebih dahulu melemparkan tongkat mereka, dengan pertimbangan bahwa kalau-kalau ahli-ahli sihir telah mendemonstrasikan sihirnya dengan kesungguhan dan kesanggupannya, pada waktu itulah nanti Allah akan memperlihatkan kekuasaan-Nya, dengan memenangkan yang hak atas yang batil, memenangkan mukjizat atas ilmu sihir dan lenyaplah sihir yang batil itu. Sesuai dengan firman Allah:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِذَا هُوَ زَاهِقٌۗ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُوْنَ ١٨
Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. (al-Anbiyā’/21: 18)
1. Yukhayyalu يُخَيَّلُ (Ṭāhā/20: 66)
Secara etimologis, yukhayyalu berarti terbayangkan, terkenangkan, atau tergambarkan. Dalam konteks ayat di atas, terbayangkan dalam benak Nabi Musa bahwa tali-tali dan tongkat-tongkat yang dilemparkan tukang-tukang sihir Fir‘aun itu seolah-olah berubah menjadi ular yang seolah-olah merayap dengan gesit. Padahal sejatinya, itu hanya bayangan (ilusi) Nabi Musa belaka, karena semua itu hanya tipu daya mereka.
2. Aujasa أَوْجَسَ (Ṭāhā/20: 67)
Secara etimologis, aujasa berarti merasa atau tepatnya merasa khawatir. Dalam konteks ayat di atas, Nabi Musa merasakan kekhawatiran dalam dirinya, karena terbayang dalam benaknya tongkat-tongkat dan tali-tali yang seolah berubah menjadi ular yang merayap itu. Ini menunjukkan, sisi manusiawi Nabi Musa tidak bisa dihilangkan. Sebagai manusia, Nabi Musa juga mempunyai kekhawatiran akan kekalahan yang dialaminya. Sebab jika kalah, maka misi yang diembannya akan gagal.
























