فَاَجْمِعُوْا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوْا صَفًّاۚ وَقَدْ اَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلٰى
Fa ajmi‘ū kaidakum ṡumma'tū ṣaffā(n), wa qad aflaḥal-yauma manista‘lā.
Kumpulkanlah segala tipu daya (sihir)-mu, kemudian datanglah dalam satu barisan! Sungguh, beruntung orang yang menang pada hari ini.”
Karena itu, maka bersatulah menghadapi kedua orang itu. Kumpulkanlah segala tipu daya kamu, baik berupa sihir maupun yang lain, kemudian datanglah kamu semua dengan berbaris rapi dan kompak agar kita dapat mengalahkan mereka berdua, dan sesungguhnya beruntung orang yang menang pada hari ini, yaitu hari ketika kita dan mereka berdua unjuk keahlian masing-masing.”
Menurut para ahli sihir Fir‘aun, Musa dan Harun adalah ahli sihir yang ingin mengusir mereka dari tanah tumpah darah mereka serta mau merebut kekuasaan, maka untuk menghadapi bahaya yang mengancam itu, mereka bersama-sama, bahu-membahu mengumpulkan segala tenaga yang ada, mengeluarkan segala siasat dan tipu daya serta menunjukkan segala kepintaran yang dimiliki pada hari berlangsungnya pertandingan nanti. Dengan demikian, mudahlah bagi mereka untuk mengalahkan sihir Musa dan Harun saudaranya. Alangkah berbahagianya mereka pada hari itu seandainya kemenangan nanti itu berada di pihak kita. Firman Allah:
فَلَمَّا جَاۤءَ السَّحَرَةُ قَالُوْا لِفِرْعَوْنَ اَىِٕنَّ لَنَا لَاَجْرًا اِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغٰلِبِيْنَ ٤١ قَالَ نَعَمْ وَاِنَّكُمْ اِذًا لَّمِنَ الْمُقَرَّبِيْ نَ ٤٢
Maka ketika para pesihir datang, mereka berkata kepada Fir‘aun, “Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan yang besar jika kami yang menang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, dan bahkan kamu pasti akan mendapat kedudukan yang dekat (kepadaku).” (asy-Syu’arā’/26: 41 dan 42)
1. An-Najwā اَلنَّجْوَى (Ṭāhā/20: 59)
Secara etimologis, an-najwa berarti percakapan, pembicaraan rahasia, atau bisikan antara dua orang. Dalam kontek ayat di atas, an-najwa berarti perahasiaan percakapan antara tukang sihir Fir‘aun dengan Fir‘aun. Tukang-tukang sihir itu berbisik kepada Fir‘aun, bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun adalah tukang-tukang sihir yang akan mengusir Fir‘aun dari Mesir dengan kekuatan sihirnya.
2. Al-Muṡlā اَلْمُثْلَى (Ṭāhā/20: 63)
Secara etimologis, al-muṡla berarti yang paling utama, paling unggul atau yang terbaik. Dalam kontek ayat di atas, al-muṡla ini masih terkait dengan tema bisikan tukang-tukang sihir Fir‘aun kepada Fir‘aun. Dikatakan bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun yang oleh tukang-tukang sihir itu dituduh sebagai ahli sihir akan merombak atau mereformasi tradisi utama warisan nenek moyang yang selama ini terus dijalankan Fir‘aun dan masyarakat Mesir.






















