يَّتَخَافَتُوْنَ بَيْنَهُمْ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا عَشْرًا
Yatakhāfatūna bainahum il labiṡtum illā ‘asyrā(n).
Mereka berbisik satu sama lain, “Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh (hari).”
Menunggu giliran untuk penimbangan amal perbuatan masing-masing, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka untuk meringankan ketakutan dan kekalutan, “Kamu tidak berdiam di dunia melainkan hanyalah sepuluh hari, dan ini merupakan waktu yang sangat singkat.”
Mereka saling berbisik dan saling bertanya dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar karena sangat merasa takut dan khawatir. “Kita baru sepuluh hari saja hidup di dunia ini? Mengapa kita telah dikumpulkan di padang Mahsyar ini sedang kita belum mendapat kesempatan sedikit pun untuk beramal dan bersiap-siap guna menghadapi hari ini?” Memang demikianlah halnya setiap orang yang dilanda malapetaka yang berat, terbayanglah di dalam pikirannya liku-liku kehidupannya di masa silam, semuanya berlalu dengan amat cepatnya, seakan-akan hidup yang dinikmatinya berpuluh tahun lamanya terjadi hanya dalam beberapa saat saja.
1. Zurqa زُرْقاً (Ṭāhā/20:102)
Zurq secara harfiyah berarti “berwarna biru”. Yang dimaksudkan adalah bahwa mata orang-orang yang bergelimang dosa ketika digiring ke depan pengadilan Allah nanti di hari kiamat akan membiru akibat dahaga yang amat sangat. Mata itu tidak lagi bercahaya, bahkan buta, karena hebatnya penderitaan.
2. Yatakhāfatūn يَتَخَافَتُوْن َ (Ṭāhā/20:103)
Yatakhāf atūn dari akar kata khafata artinya “berbisik-bisik”. Dalam Surah Ṭāhā/20:103, maksud kata itu adalah bahwa orang-orang yang bergelimang dosa pada saat pengadilan Allah nanti di padang mahsyar akan berbisik-bisik sesama mereka, bahwa mereka pernah hidup di dunia hanya selama sepuluh hari. Hal itu karena dahsyatnya hari kemudian itu sehingga mereka lupa masa sebenarnya mereka dulu di dunia. Mereka sesungguhnya cukup lama hidup di dunia. Waktu itu sesungguhnya cukup untuk menyiapkan diri bagi kehidupan di akhirat itu. Tetapi mereka lalai. Karena itulah dengan perasaan singkatnya hidup di dunia, mereka ingin kembali ke dunia untuk bisa mengerjakan amal kebajikan. Tetapi hal itu tidak mungkin lagi. Allah menegaskan bahwa walaupun mereka berbisik-bisik, Ia tahu apa yang mereka perbisikkan.




















