Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 19 - Surat Yāsīn (Yasin)
يٰسۤ
Ayat 19 / 83 •  Surat 36 / 114 •  Halaman 441 •  Quarter Hizb 44.75 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Qālū ṭā'irukum ma‘akum, a'in żukkirtum, bal antum qaumum musrifūn(a).

Mereka (para rasul) berkata, “Kemalangan kamu itu (akibat perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan, (lalu kamu menjadi malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Makna Surat Yasin Ayat 19
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka, yakni ketiga utusan itu, berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena perbuatan buruk kamu sendiri. Kamu bernasib buruk akibat keengganan kamu menerima ajakan kami. Apakah karena kamu diberi peringatan, lalu kamu menuduh kami sebagai penyebab kemalangan itu? Tuduhan kamu sama sekali tidak benar! Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas dalam kedurhakaan sehingga mengakibatkan penderitaan yang kamu sebut sebagai nasib sial.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini dijelaskan bahwa penduduk Antakia tidak bisa lagi mematahkan alasan-alasan para rasul itu. Oleh karena itu, mereka mengancam dengan mengatakan bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan ketiga orang tersebut. Dengan demikian, kalau para rasul itu tidak mau menghentikan dakwah yang sia-sia ini, terpaksa mereka merajamnya dengan batu atau menjatuhkan siksaan yang amat pedih. Ketiga utusan itu menangkis perkataan mereka dengan mengatakan bahwa seandainya penduduk Antakia kelak terpaksa mengalami siksaan, itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Bukankah mereka yang mempersekutukan Allah, mengerjakan perbuatan maksiat, dan melakukan kesalahan-kesalahan? Sedangkan ketiga utusan itu hanya sekadar mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah, mengikhlaskan diri dalam beribadah, dan tobat dari segala kesalahan. Apakah karena para rasul itu memperingatkan mereka dengan azab Allah yang sangat pedih dan mengajak mereka mengesakan Allah, lalu mereka menyiksa para rasul itu? Itukah balasan yang pantas bagi para rasul itu? Hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang melampaui batas dengan cara berpikir dan menetapkan putusan untuk menyiksa dan merajam para rasul. Mereka menganggap buruk orang-orang yang semestinya menjadi tempat mereka meminta petunjuk. Ayat yang mirip pengertiannya dengan ayat ini adalah:

فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ١٣١

Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui. (al-A‘rāf/7: 131)

Isi Kandungan Kosakata

Aṣḥābul Qaryah اَصْحَابَ اْلقَرْيَة (Yā sīn/36: 13)

Sebutan “penduduk kota” dalam ayat di atas mendapat perhatian banyak mufassir, dari dahulu hingga sekarang. Mereka sangat beragam dalam menafsirkan kata “penduduk kota” dalam ayat itu: penduduk, kota, dan para rasul. Dalam hal ini tampaknya mereka masih banyak berspekulasi dengan keterangan yang panjang lebar. Tetapi jika disimpulkan, sebenarnya kisah itu sebagai sebuah perumpamaan, seperti disebutkan dalam pangkal pertama ayat itu, sehingga tidak perlu ditafsirkan dan dibahas begitu panjang lebar bahwa nama kota itu Antakia (Antioch/Anṭākiyah) dengan segala peristiwanya yang sampai dirinci demikian rupa. Antakia berasal dari kata bahasa Turki, Antakya—sebuah kota padat penduduk di Suria dahulu kala, dan sekarang merupakan kota utama di selatan Turki, terletak di dekat mulut Sungai Orontes, sekitar 19 km barat laut perbatasan Suria.

Mengenai peristiwa dan nama kota itu, mungkin asumsi beberapa mufassir pada cerita-cerita dalam Alkitab, Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 11: 26-27 yang menyebutkan bahwa di Antiokhia ini murid-murid Yesus berhasil menyebarkan agama di sana, dan di kota ini pula, murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Banyak mufassir bercerita begitu terinci, yang intinya bahwa yang mendatangi kota itu para utusan Nabi Isa. Setelah berada di dekat kota Antakia, mereka melihat orang tua yang sedang menggembalakan kambingnya. Lalu terjadi dialog panjang di antara mereka. Ketika orang tua itu menanyakan siapa mereka, dijawab bahwa mereka utusan Isa Almasih, akan mengajak mereka beribadah kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Ketika dimintai bukti, mereka menjawab bahwa mereka dapat menyembuhkan orang sakit dan buta sejak lahir serta penyakit sopak. Orang tua itu meminta mereka mengobati anaknya yang menderita penyakit menahun, kemudian kedua utusan itu mengusap anaknya yang sakit lalu sembuh. Maka tersebarlah berita itu di seluruh kota dan banyak orang sakit yang disembuhkan. Berita itu sampai juga kepada raja, yang juga penyembah berhala. Kedua orang itu pun dipenjarakan, dihukum cambuk 200 kali, dan seterusnya. Kemudian Nabi Isa mengutus orang ketiga, Syam‘ūn (Bibel, Simson), pemimpin murid-murid Yesus (ḥawāriyyūn) untuk menolong mereka.

Cerita-cerita demikian itu ada yang mereka terima melalui Ka‘bul-Ahbar yang juga sering merawikan hadis, atau dari Wahab bin Munabbih, yang banyak bercerita tentang sejarah lama. Keduanya adalah tabi‘in asal Yahudi Yaman, dan dianggap banyak tahu tentang Taurat.

Seterusnya cerita-cerita Yahudi dan Nasrani itu berjalan mulus panjang lebar. Padahal di dalam ayat itu tak disebutkan nama orang, tempat, atau waktu. Patut sekali bila cerita-cerita semacam ini digolongkan ke dalam Israiliyat. Lalu sebagian mufassir mengomentari bahwa ayat-ayat itu ditujukan kepada Rasulullah untuk menghiburnya, “Ini contoh kesabaran para rasul itu menghadapi siksaan, sedang engkau (Muhammad) datang kepada kaummu seorang diri, dan kaummu lebih banyak daripada kaum ketiga orang itu. Mereka mendatangi penduduk kota, sedang engkau diutus kepada seluruh umat manusia.” Ada juga mufassir yang mengatakan bahwa dua orang utusan itu (ayat 14) adalah Nabi Musa dan Nabi Isa dan utusan ketiga, yang untuk memperkuat, adalah Nabi Muhammad.

Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Kaṡīr mengatakan secara ringkas bahwa banyak ulama dahulu yang berpendapat kota ini adalah Antakia, dan ketiga orang itu adalah para utusan Isa Almasih, seperti diterangkan oleh Qatādah dan yang lain. Dilihat dari kenyataan, kisah itu menunjukkan bahwa mereka adalah para utusan Allah, bukan utusan Almasih. Disebutkan dalam firman Allah itu, “Ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan.” Kalau mereka murid-muridnya, tentu dikatakan dengan ungkapan yang sesuai bahwa mereka dari pihak Almasih. Penduduk kota Antakia yang pertama beriman kepada Almasih sampai penduduknya yang terakhir, melalui para utusan itu. Karenanya, di mata orang Kristen, ia termasuk di antara empat kota para uskup, yakni: 1. Baitul mukadas (Yerusalem) sebab ini negeri Almasih; 2. Antakia, karena mereka adalah yang pertama beriman kepadanya sampai penduduknya yang terakhir; 3. Iskandaria, karena di situ mereka sepakat menetapkan adanya para bapa, para uskup agung, para uskup, para diaken, dan para rahib. 4. Roma, karena itu adalah kota Kaisar Konstantin yang membela dan memperkuat agama mereka. Setelah Konstantinopel dibangun, mereka memindahkan pusat agama itu dari Roma ke kota ini. Yang berhubungan dengan sejarah mereka ini tidak sedikit dari mereka yang mengatakan—seperti Sa‘d bin Batriq dan yang lain dari kalangan Ahli Kitab dan juga dari Muslimin. Atas dasar ini dapat dilihat bahwa penduduk kota yang tersebut dalam Al-Qur’an adalah kota lain, bukan Antakia, yang juga dikatakan oleh banyak ulama dahulu. Demikian Ibnu Kaṡīr menjelaskan ayat ini.

Sebagian mufassir memang ada yang merasa tidak puas bila sebuah ayat, bahkan sebuah kosakata ditafsirkan secara sederhana. Tetapi biasanya lalu merentangnya kian ke mari, dengan mengutip kata si fulan, kata si anu, qāla wa qīla, dari anu, ‘an fulān, yang kadang sampai memerlukan beberapa halaman. Lalu diakhiri dengan: Wallāhu a‘1am, bukan dengan kesimpulan!

Apalagi jika menyangkut cerita yang lebih mengasyikkan, seperti kisah Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, kisah Penghuni Gua, atau kisah-kisah lain dalam Qur’an.

Dalam menafsirkan ayat-ayat di atas, al-Qasimi hanya mengatakan bahwa “penduduk kota” itu sebagai perumpamaan bagi kota Mekah, dan agar diingatkan pada kisah yang mengajak orang kepada kebenaran dan meninggalkan penyembahan berhala. Seperti Abdullah Yusuf Ali, al-Qasimi juga menolak penafsiran cerita-cerita di atas dengan mengutip Ibnu Kaṡīr seperti disebutkan itu, sebagai koreksi atas sebagian mufassir yang ber-panjang lebar mengomentari ayat-ayat seperti itu sampai menyimpang dari pokok masalah. Banyak di antara mereka, kata al-Qasimi, yang beranggapan bahwa menguraikan ungkapan-ungkapan yang singkat dalam Al-Qur’an itu dengan penjelasan-penjelasan yang panjang-panjang, sudah dijadikan seni ilmu tersendiri pula. Dalam catatan khusus, ia menambahkan bahwa keindahan Al-Qur’an serta gaya dan kefasihannya yang tak dapat ditiru itu justru terletak pada ungkapan-ungkapannya yang serba singkat dan mendalam dengan semangat kisah-kisahnya berupa pelajaran dan peringatan. Seharusnya ini disambut pula dengan penjelasan yang terbatas pada hal-hal yang memberi manfaat serta menjauhi kecenderungan tukang-tukang cerita dan para sejarawan. Apa gunanya membawa-bawa beberapa nama yang tidak jelas. Kebanyakan cerita itu munqati‘ dan mauquf, tak dapat dijadikan pegangan karena memang tidak mempunyai dasar yang otentik.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto