يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
Yā ḥasratan ‘alal-‘ibād(i), mā ya'tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi'ūn(a).
Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.
Orang-orang yang mendustakan para rasul akan menyesal pada hari Kiamat. Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul yang menyeru kepada mereka agar beriman kepada Allah dan menempuh jalan yang benar, mereka selalu memperolok-olokkan bahkan membunuh-nya.
Allah menerangkan bahwa sikap dan tingkah laku kaum kafir semacam ini sangat disesalkan. Mereka tidak hanya menolak seruan iman, tetapi juga memperolok-olokkan para rasul dan orang-orang yang telah beriman. Bahkan, tak jarang mereka menganiaya dan membunuhnya. Jika mereka mau berpikir dengan akal yang sehat, pastilah mereka menerima seruan iman dari para rasul dan orang-orang yang telah beriman. Allah menerangkan kedudukan orang-orang kafir di akhirat nanti tatkala mereka ditimpa azab yang dahsyat karena mendustakan para rasul.
Muḥḍarūn مُحْضَرُوْنَ (Yāsīn/36: 32)
Kata tersebut merupakan bentuk isim maf‘ūl dari aḥḍara-yuḥḍiru-iḥ āran-muḥḍāran, yang artinya dihadirkan. Tidak kurang dari sembilan kali, kata serupa itu diulang dalam Al-Qur’an, semuanya disebutkan dalam hubungan pembicaraan bahwa manusia yang akan mengalami penyiksaan (azab) atau menerima balasan surga dihadirkan untuk menerima pembalasannya masing-masing. Tidak ada yang absen atau bolos demi menghindari balasan itu. Ada pihak lain (malaikat) yang bertugas menghadirkan mereka untuk menerima pembalasan, baik balasan buruk atau balasan baik. Menurut penjelasan Ibnu al-Jauzī, semua umat manusia akan dihadirkan pada hari kiamat, kemudian amal-amal mereka dibalas dengan seadil-adilnya.


































