اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ
In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum khāmidūn(a).
(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja. Maka, seketika itu mereka mati.
Dengan demikian, tidak ada siksaan terhadap mereka yang mendustakan utusan Allah melainkan dengan satu teriakan saja, yaitu teriakan Jibril yang sangat keras; maka seketika itu mereka pun mati. Demikianlah balasan di dunia bagi orang yang mendustakan utusan Allah.
Pada ayat ini, Allah menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum yang musyrik, kafir, dan mendustakan agama-Nya. Allah tidak perlu menurunkan pasukan-pasukan malaikat untuk membinasakan mereka, melainkan cukup dengan satu teriakan saja dari malaikat Jibril, maka orang-orang kafir tersebut menjadi kaku dan tak bernyawa lagi. Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya, sebagai bukti betapa besarnya kekuasaan Allah.
Khāmidūn خَامِدُوْنَ (Yāsīn/36: 29)
Kata yang terdiri dari huruf kha', mim, dan dal tersebut, dalam Al-Qur’an disebut dua kali, yaitu dalam ayat ini dan dalam Surah al-Anbiyā'/21 ayat 15: khāmidīn. Kata ini merupakan kata sifat berasal dari khamada–yakhmidu-khamd(an) yang artinya mayyitun (mati) atau seperti kata Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī, hālikūn(a) (binasa). Maksudnya, satu kali teriakan keras malaikat Jibril, pada saat penghancuran nanti, semua manusia mati dan binasa karenanya, bagaikan abu yang sudah padam bara apinya (ka hai’at al-ramad al-khamid).











































