فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ
Falā yaḥzunka qauluhum, innā na‘lamu mā yusirrūna wa mā yu‘linūn(a).
Maka, jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Nabi Muhammad) bersedih hati. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
Maka dari itu, wahai Nabi Muhammad, jangan sampai ucapan mereka yang penuh kekafiran kepada Allah dan pendustaan kepadamu itu membuat engkau bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka dan apa yang mereka nyatakan dalam bentuk perbuatan. Mereka akan diminta pertanggungjawaban atasnya pada hari Kiamat dan pasti akan menerima balasannya.
Akhirnya, Allah menghibur Nabi Muhammad saw dari tingkah laku dan perbuatan kaum kafir dan musyrik itu, yaitu Nabi tidak perlu merasa sedih mendengarkan ucapan dan tuduhan mereka yang bukan-bukan, yang ditujukan kepadanya dan kepada Al-Qur’an. Allah Maha Mengetahui semua perbuatan mereka, baik yang dilakukan dengan terang-terangan maupun yang mereka rahasiakan. Semua itu akan dimintakan pertanggung-jawabannya kepada mereka kelak di hari Kiamat dan mereka pasti akan menerima balasannya berupa azab yang pedih.
Asy-Syi‘r الشِّعْرُ (Yāsīn/36: 69)
Asy-Syi‘r artinya juga syiir, tetapi dalam bahasa Indonesia sering disebut syair yaitu sastra dalam bentuk puisi dengan jumlah suku kata yang teratur dan pada setiap barisnya memiliki persamaan bunyi atau bersajak. Pada ayat 69 ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah kumpulan syair sebagaimana orang-orang kafir Mekah menduga, dan tidak layak Allah mengajarkan syair kepada Nabi Muhammad saw. Memang ada banyak ayat yang bersajak atau berakhiran bunyi yang sama terutama pada surah-surah Makkiyyah, seperti Surah an-Nās, al-Falaq, al-Ikhlāṣ, al-Lahab, dan lain-lain. Tetapi Al-Qur’an bukan sekedar buku sastra melainkan kitab petunjuk dan pelajaran. Syair biasanya berisi khayalan, lamunan, ataupun impian seseorang, sedangkan Al-Qur’an menerangkan berbagai fakta dan peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi secara benar dan tepat, jadi jauh dari khayalan, lamunan, ataupun impian. Maka tidak pantas jika Allah mengajarkan kepada Nabi-Nya hal-hal yang bersifat khayalan dan lamunan.

